MySpace

riesna blog riesna blog riesna blog

riesna

riesna Tambunan


Last Updated: 4/12/2009

Send Message
Instant Message
Email to a Friend
Subscribe

Gender: Female
Status: In a Relationship
Age: 38
Sign: Aries

City: Medan.....Medan...Medan
Country: ID
Signup Date: 2/7/2005

My Subscriptions

Blog Archive
[Older      Newer]
 /  / 
23 Oct 08 Thursday 11:13 AM

Harga sawit  terjun bebas. Berita ini jadi terdengar basi karena seringnya diberitakan di media ..:namespace prefix = st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" />massa, dibicarakan di mana-mana , pembiacaran dimulai dari sebuah kantor yang terletak di gedung tinggi full AC , sampai di warung kopi atau lapo tuak di sudut kampung.

..:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /> 

Petani sawit menjerit. Petani sawit gigit jari. Pengusaha perkebunan swasta juga mulai kasak-kasak. Perkebunan milik pemerintah nampaknya juga mulai resah. Jangan ditanya lagi para pemilik pabrik minyak sawit, benar-benar gundah, harga CPO pastinya setali tiga uang dengan harga sawit.

 

Ada apa dengan sawit? Harga  TBS (Tandan Buah Segar) yang kira-kira enam bulan lewat masih di atas Rp. 1.000/kg, kini jatuh tak sampai setengahnya.  Akhir Ramadhan, ketika  pulang kampung, aku dengar harga sawit masih di kisaran Rp. 700- 600/kg. "Itulah, kenapa pasar jadi sepi menjelang Idulfitri kali ini," kata seorang kerabat waktu aku berkomentar tentang sepinya pasar  (pekan) di kampung kami menjelang Hari Raya, padahal biasanya , seminggu sebelum lebaran, pasar penuh sesak.

"Orang –orang harus menahan diri, karena harga sawit turun," sambung kerabat itu lagi. "Mudah-mudahan lewat lebaran harga kembali membaik," ia berkata setengah berdoa. Maklum, dia juga menggantungkan 'kehidupan'nya pada kebun sawitnya yang cuma 2 Ha, yang dikelolanya dengan keringat dan sumber daya sendiri..

 

Usai  lebaran, ternyata harga sawit tak juga membaik, malah lebih parah. Kemarin masih berkisar Rp. 300, sekarang sudah jadi Rp. 250. Kudengar, pihak dealer sepeda motor dan mobil sudah kebanjiran barang 'return', karena konsumen tak lagi bisa membayar cicilan kredit mereka. Bukan rahasia lagi, betapa mudahnya mendapatkan kredit kendaraan saat ini. Para petani sawit  yang delapan bulan lalu begitu percaya diri untuk membeli sepeda motor atau mobil dengan cara kredit karena tak menyangka harga sawit akan terjun bebas, sekarang mau tak mau harus merelakan 'uang muka' menguap karena kendaraan harus dikembalikan.

 

"Takut tidak bisa membayar lagi," kata Pak Silaen, tetangga jauh kami di kampung. "Mengerikan sekali sekarang ini, harga sawit tak masuk akal." Dia menggeleng kuat-kuat.

 

Memang sekarang harga apa yang masuk akal?

"Pemerintah harusnya mengerti keadaan ini," pinta petani sawit. "Kalau terus-terusan begini, hancurlah kami!"

 

Bisa diterima ketakutan mereka. Bukan hanya mereka yang teriak. Seorang PR sebuah universitas terkenal di Medan yang juga pengamat ekonomi dalam sebuah harian lokal di Medan juga mengharapkan kiranya pemerintah serius memperhatikan  nasib para petani sawit. Dia menambahkan  , bahwa mahasiswa yang orangtuanya adalah petani sawit bahkan turut terkena imbas dari keadaan tak menyenangkan ini.

Bagaimana mungkin mereka bisa membiayai anak mereka yang sedang melanjutkan pendidikan di Medan, jika harga sawit tak membaik. Bahkan mereka membiarkan TBS tidak dipanen, karena biaya memanen (Mendodos)  tak  ada. Lebih baik TBS masak di pohon, lalu jatuh menjadi berondolan , dan jika memungkinkan baru dikutip dan dijual. Itu juga jika biaya angkut ke pabrik  masih ada.

 

Sawit, sawit, ada apa denganmu?

Bicara soal sawit memang tak ada habisnya. Tanaman jenis palm yang bisa tumbuh di semua dataran di Indonesia ini, sepuluh tahun terakhir memang menjadi primadona. Tanaman ini menjelma menjadi dollar hijau  baru. Ia membuat setiap orang (terutama di daerah sumatera), merasa harus memiliki tanaman ini, bahkan jika hanya 1 ha. Harga jualnya yang tinggi membuat petani padi bahkan rela 'menyulap' sawahnya menjadi kebun sawit. Harga tanah yang sudah ditanami sawit jangan ditanya lagi. Di kampungku (Asahan), harganya bisa mencapai  Rp50juta/ha, untuk umur tanam sekitar 4 tahun (sudah menghasilkan  buah pasir). Tapi, walau mahal begitu, peminatnya antri, kayak nunggu gaji!

 

Kata temanku , membeli dengan harga tersebut masih termasuk untung, apalagi kalau asal bibit tanaman itu terjamin dan bersertifikat (dari Sucfindo atau Marihat, misalnya). Hitung-hitungannya begini: Harga 1 ha = Rp. 50 jt. Penghasilan 1 ha = 3 ton x 1000 kg x Rp. 1700 (harga waktu itu) = Rp. 5,1 jt/bulan (kurangi gaji pekerja kira-kira 1 juta) x 12 bulan = 49.2 juta. Setahun saja hampir pulang modal , katanya. Di tahun kedua, kita bisa menikmati untungnya saja. Itu teorinya.

 

Sekarag, ketika hrga sawit terjun bebas, apa mau dikata? Kudengar banyak yang menjual kebun mereka seharga setengah dari harga pasar enam bulan yang lalu. Maklum, mereka tetap harus makan, harus membiayai sekolah anak-anak mereka. Pagi tadi, seorang teman mengirim SMS , menanyakan apa berminat membeli kebun sawit karena ada yang jual murah?

 

Kubilang, TIDAK. Karena memang saya tak punya uang. Dan yang penting, ku tak berbakat jadi petani sawit.

 

24 Mar 06 Friday 4:25 AM

Current mood:  artistic

Konon, seorang teman bilang, 'keterlambatan' saya menemukan jodoh karena saya menutup diri, tidak memberi kesempatan untuk 'hadirnya' seseorang dalam hidup saya. Masak sih? Saya baru tahu kalau ada yang menuduh saya menutup diri. Ngomong-ngomong soal menutup diri, saya jadi teringat, pekan lalu dalam perjalanan ke luar kota, saya bertemu dengan teman lama.

Namanya Liliana. Orang banyak memanggilnya dengan nama kecil saja, Ana. Tapi, sejak kenal dia enam belas tahun yang lalu, aku sudah terbiasa memanggillnya dengan nama Lili, jadi sampai kini aku masih memanggilnya dengan nama itu.

Lili berperawakan tinggi, langsing. Wajahnya cantik. Matanya agak sipit. Dengan kulit kuning bersih, banyak yang tertipu dengan asal-sulnya, bahkan mulanya dulu aku juga mengira ia orang Tionghoa. Tapi, Lili ternyata Melayu Asli. Kakek buyutnya yang asal Tanjungpura – Langkat- Sumatera Utara,  bahkan masih ada pertalian darah dengan penyair Amir HAmzah. 

Aku kenal dengannya pas hari pertama menginjakkan kaki di Universitas Sumatera Utara. Kami beda fakultas, dia Fakultas Hukum dan aku Teknik. Pertemanan kami bisa dikatakan sambil lalu saja saat di bangku perkuliahan. Justru, di dunia kerja aku dan dia sedikit lebih dekat berhubungan. Ketepatan perusahaan kami bermitra. 

Tujuh tahun yang lalu, terakhir kali aku bertemu dengan Lili. Ia bilang ia akan berhenti kerja. Ia akan menikah dan memilih meneruskan usaha orang tuanya. Bertemu dalam suatu jamuan makan siang, aku bahkan berpesan, agar Lili jangan lupa mengundang aku di pesta pernikahannya.

Dan dengan tampang serius, ia berjanji akan mengundangku, bahkan ia katakan akan membuat namaku ada di daftar paling atas. Aku tertawa saja mendengar ucapannya.

Lama tak mendengar kabar, aku bahkan tidak ingat kalau pernah minta untuk diundang di pesta pernikahannya.  Dan kemarin, aku bertemu dia. Wajahnya masih secantik dulu, tenang dan ramah. 

"Maaf  ya, karena aku belum bisa mengundangmu ke pesta pernikahanku," ucap Lili dengan suara lirih.

Aku salah menangkap maksudnya, kupikir, dia minta maaf karena tidak mengundangku. "Tidak apa, Li," sahutku. "Aku belum sempat beli kado kok, jadi tidak masalah kalau kau tidak mengundangku," candaku pula. 

"Aku tidak perlu bingkisanmu," Lili tersenyum kecil. "Masalahnya, aku belum menemukan jodoh sampai saat ini, sehingga aku belum bisa mengundangmu."

Mulutku terbuka sedikit. Masalah 'belum menemukan jodoh' sampai saat ini, kupikir bukanlah masalah si Lili saja, ada ribuan- bahkan jutaan- wanita, termasuk aku yang belum menemukan jodoh sejati. Tapi, beberapa waktu yang lalu Lili toh akan menikah? 

"Kukira, aku yang akan dilamarnya," seakan tahu jalan pikiranku, Lili menerangkan. "Ternyata dia lebih tertarik dengan adikku, Emy. Mereka menikah dan punya dua anak yang manis-manis."

Kali ini mulutku bukan hanya terbuka sedikit, tapi benar-benar melongo aku mendengarnya. Setahuku, laki-laki itu… 

"Handoko 'kan?" aku bertanya menyakinkan –lebih pada diri sendiri – bahwa yang  menikah dengan adiknya adalah Handoko yang sudah berpacaran dengan Lili sejak masih kuliah.

Lili mengangguk. "Memang Handoko," ia tersenyum samar, tak ada kepedihan di matanya, bahkan kemudian dengan penuh semangat dia menceritakan tentang dua keponakannya yang manis dan lucu. Juga cerita bagaimana dia juga ikut kalut waktu pertama kali Emy akan melahirkan.

 

"Kalau tidak jodoh, mau apa lagi?" Lili, lagi-lagi seperti membaca pikiranku menerangkan. "Kehilangan, pasti ada, tapi, kehilangan itu tidak harus membuatku membenci orang-orang yang pernah kucintai. Kehilangan itu juga tidak harus membuatku menutup diri." 

Aku terperangah. Menutup diri? Oh…ya…sudah berapa lama aku menutupdiri? Sejak Brad Pitt menikah dengan Jennifer Anisston? Dan kini dnegan Angelina Jolie?

Brengsek!

Tapi, Lili, nice to meet you again!

29 Aug 05 Monday 4:52 AM

Pengantar:

Alhamdulillah, setelah kerja ‘jor-joran’ dan hanya bisa mengambil cuti pas lebaran tiba, ahirnya tahun ini saya dapat ‘izin’ cuti lebih awal oleh atasan di kantor. Tadinya saya pesimis mendapat izin cuti mengingat proyek baru juga tidak sedikit. Tapi untungnya, Boss memberi izin. Mungkin dia juga maklum, otak saya perlu penyegaran. Akhirnya,saya mengambil cuti, dari tanggal 8 Agustus 2005 sampai 15 Agustus 2005. Cuti kali ini saya isi dengan perjalanan ke negeri tetangga, Malaysia dan Singapura. Perjalanan saya lakukan bareng sohib saya, Florence, dimulai dari Medan menuju Penang, Kuala Lumpur, Malaka, Singapura, Batam dan kembali ke Medan.

Inilah catatan perjalan saya selama hampir 9 hari itu.

 

 

CATATAN PERJALAN 1

PENANG, PEARL OF THE ORIENT

 

Bukit Bendera dan Kek Lok Si Temple 

Minggu 07 Agustus 2005, perjalanan dimulai. Berangkat dari Medan menuju Penang dengan pesawat Jatayu No. VJ 188 jam 11.20 WIB. Pemeriksaan di Imigrasi Medan, lumayan ‘ketat, maklum, mereka takut yang berangkat ke Penang adalah calon TKI illegal. Itu makanya –mungkin- yang menyebabkan perusahaan penerbangan yang melayani rute Medan- Penang, jarang mau menjual tiket one way. Umumnya mereka menetapkan penjualan tiket harus return. Harganya juga tidak selisih banyak. Kalau Anda membeli tiket MedanPenang one way, biayanya USD 55, sedang kalau return USD 65. Murahkan?

 

“Warga Negara Indonesia tidak boleh pergi ke Penang dengan tiket sekali jalan,” kata salah seorang petugas penerbangan tempat saya beli tiket.

 

Saya jelas-jelas memang tidak akan pulang ke Medan melalui Penang, makanya saya tidak mau beli tiket return-nya. Saya akan masuk Medan dari Batam, setelah perjalan saya ke Singapura. Sedikit terjadi ketegangan waktu beli tiket, akhirnya diambil jalan tengah, saya harus membeli juga tiket  Batam -Medan saat itu juga. Oke…akhirnya saya beli Tiket Medan- Penang one way, dan tiket Batam- Medan, untuk penerbangan tanggal 15 Agustus 2005.

 

Dan ternyata tiket Batam- Medan ini sangat membantu kami di kantor imigrasi bandara Polonia Medan. Lagi-lagi mereka memang ingin ada ‘garansi’ bahwa kami-saya dan teman- akan kembali ke tanah air. Pasti ini bukan karena mereka cinta pada warga sebangsa dan setnah air, tapi karena mereka takut kami membuat masalah, misalnya jadi TKI Ilegal.

 

“Apa tampangku mirip calon TKW?” tanya saya sewot ketika menanggapi sikap para petugas imigrasi itu.

 

“Tidak,” teman saya , Flo, menggeleng. “Kamu lebih mirip TKW illegal,” dia tersenyum “Bukan calon lagi.”

 

Saya tersenyum kecut. Tapi untungnya semua berjalan lancar. Memang sih kalau mau ‘aman’ mending jalan-jalan ikut perusahaan travel saja. Tapi saya dan Flo memang berniat mengadakan perjalanan sendiri. Kelihatan lebih asyik dan menantang. (uh..uh…tapi kalau ada masalah sedikit aja, jangan mengeluh ya?)

 

Dari Medan menuju Penang ditempuh kira-kira 45 menit saja. Sekitar jam 12.10 Menit WIB (atau jam 13.10 waktu Penang) kami sampai di Bayan Lepas Internastional Airport. Setelah mengurus kedatangan di bagian Imigrasi Pulau Pinang (yang ternyata sangat tidak berbelit-belit), kami langsung memesan taksi (kalau di Penang, jangan cob-coba cari taksi di luar bandara). Dengan RM 38, kami berangkat menuju pusat kota Penang.

 

“Mau kemana?” tanya supir taksi yang ramah.

Saya dan Flo saling pandang. Maklum, tidak ada ‘tempat’ pasti yang akan dituju saat ini. Memang kami mau cari hotel, tapi hotel mana, kami pun tak tahu. Ada memang beberapa nama hotel yang diberikan oleh teman saya yang kerja di Sister City Medan, tapi itu hanya untuk mengisi form imigrasi saja.

 

“Mau cari hotel,” sahut Flo akhirnya.

“Tapi jangan yang mahal-mahal,” sambung saya. Kami memang tak bermaksud melakukan wisata hotel. Meski tak bermaksud ‘ngemper’, kami juga tak berniat membayar biaya hotel yang mahal.

Si supir tersenyum, tanpa mengejek. Dia mengerti rupanya. “Yang murah banyak. Mau yang berapa? RM 25, RM 45, RM 75 atau yang di atas itu? Semua saya tahu.”

 

“Kalau bisa yang dekat-dekat dengan KOMTAR,” pinta kami.

Si supir mengangguk.Taksi melaju, melewati jalan raya yang berkualitas dengan pemandanga yang menyenangkan. Di kiri jalan berdiri gedung dan apartemen , di kanan jalan, nampak laut yang membentang.

 

Memasuki pusat kota, si supir berbelok di Penang Road yang ramai. Ia menunjuk KOMTAR, atau Kompleks Tun Abdul Razak- nama  mantan Perdana Menteri Malaysia, bangunan yang konon menjadi landmark-nya Penang. Di lantai 58, para pengunjung dapat melihat pemandangan seluruh kota. Dulunya KOMTAR ini adalah pusat perbelanjaan di Penang, disektiranya banyak terdapat butik, resto dan bermacam toko.  

 

Hotel pertama yang ditunjuk si supir  adalah Central Hotel, terletak di Penang Road. Jaraknya hanya berapa ratus meter dari KOMTAR.

 

“Coba tanya dulu, apa harga sesuai,” katanya meminta kami untuk bertanya. “Kalau harga cocok, boleh menginap di sini, kalau tidak, saya bisa bawa  ke tempat lain,” sambung supir taksi.

 

Tanpa dikomando, Flo yang hari itu secara sepihak diangkat sebagai pimpinan rombongan kami bergerak turun dari taksi lalu masuk ke hotel. Beberapa saat kemudian dia keluar lagi.

 

“Lumayan sih harganya hanya RM 70,” katanya pada saya. Kalau dihitung dengan kurs Rp. 2.600, maka hotel tersebut relative murah lah…”Tapi bangunannya kok kayak kumuh,” sambung Flo.

Saya dan Flo pandang-pandangan, tapi entah kenapa serentak kami mengangguk setuju. Akhirnya kami menginap di Central hotel.

 

Kami menempati kamar di lantai 6. Ternyata kamarnya lumayan juga. Ada TV, pendingin ruangan, tempat tidur yang rapih dan toilet yang bersih. Setelah beres-beres dan saya sholat Zuhur, kami mulai memburu makan siang, sekaligus memulai perjalan kami di pulau yang konon berjuluk Pearl of the Orient.

 

Makan siang pertama di Penang. Konon Penang adalah salah satu  surga bagi perut. Laksanya sangat terkenal. Dan yang lebih terkenal lagi, nasi kandar.  Konon katanya, jangan ngaku ke Penang (orang sana bilang Pineng), kalau belum merasakan nasi kandar. Nasi kandar, sebenarnya tak jauh beda dengan masakan Padang, hanya karena rempah-rempahnya yang komplit, maka nasi kandar ini lebih mirip nasi dengan cira rasa masakan India.

Dan konon karena ‘rempah-rempah’ ini pula yang membuat saya dan Flo, belum apa-apa sudah ‘menyerah’. Saya punya masalah dengan lambung, Jangan kata makan dengan rempah-rempah yang lengkap begitu, makan dengan bumbu cabe saja sudah memaksa saya harus keluar masuk toilet, sedang Flo, terbiasa makan dengan masakan Batak dan Cina membuatnya kecut melihat rempah.

 

Namun begitu karena sudah lapar, kami pesan juga nasi. Kali ini nasi putih dan sambal udang dan sayur buncis dimasak dengan bumbu kuning. Flo, memesan hidangan yang sama. Minumnya, Flo pesan juice wortel dan saya, idem ditto!

 

Setelah makan, berbekal peta dari hotel yang diberikan gratis, kamu memulai perjalanan. Tadinya dari jadwal yang disusun , kami mestinya hari ini hanya berada di seputaran KOMTAR saja. Tapi melihat waktu yang masih banyak, kami memutuskan untuk mengunjugi Penang Hill (Bukit Penang, atau Bukit Bendera) dan Kek Lok Si Temple.

 

Dari terminal bus di KOMTAR, kami memulai perjalanan ke Bukit Bendera. Setelah melihat rute yang dilalui bus, kami pun naik bus ber AC yang lumayan nyaman dengan ongkos RM.1,5. Tapi bus ini tidak punya kondektur untuk bertanya, akhirnya karena bingung, kami turun di pemberhentian bus dan naik bus yang lain, tanpa AC, tapi ada ‘kenek’nya untuk bertanya. Akhirnya dengan ongkos RM.1, kami sampai juga di Bukit Bendera (di simpangnya saja), untuk menuju kawasan tersebut kita harus jalan kaki sepanjang lebih kurang 1KM. Kecuali kalau Anda menyewa taksi atau datang dengan kendaraan sendiri.

 

Penang Hill (Bukit Bendera) berada di ketinggian 830 meter (2730 ft) di atas permukaan laut. Untuk mencapai tempat ini, kita dapat mendaki atau mengikuti perjalanan wisata dengan kereta api, yang konong telah beroperasi sejak tahun 1923. Dengan biaya perjalanan RM 4, PP, kita bisa mengunjungi Penang Hill. Naik kereta api , kita harus berpindah kereta api lagi untuk sampai ke Bukit Bendera.

 

Hari Minggu, seperti kebiasaan di manapun, pengunjung tempat wisata pasti banyak. Begitu juga dengan Penang Hill, pengunjung pada saat itu membludak. Jadi kami terpaksa antri. Kami beli tiket sekitar jam 3.30, tapi baru dapat giliran naik jam 5.30. Karena masih ada waktu sekitar  2 jam lagi, maka kami memutuskan untuk ke Kek Lok Si Temple., salah satu kuil Budha yang paling tersohor di Asia Tenggara, terletak di atas bukit, konon dibutuhkan waktu 20 tahun untuk membangunnya. Di sepanjang jalan menuju kuil tersebut, kita harus mendaki bukit yang telah dibangun sedemikian rupa, sehingga di sepanjang jalannya penuh dengan para pedagang, penjaja cenderamata.

 

Kami tak melewatkan untuk belanja cenderamata. Nah karena keasyikan belanja ini kami hampir ketinggalan kereta api menuju Bukit Bendera. Walaupun akhirnya kami tidak sampai ketinggalan, tapi napas hampir putus karena berlari-lari menuju bukit.

 

Dari atas Bukit Bendera, kami memandang Penang dari tempat yang paling 'tinggi'. Merasakan kesejukan udara, menikmati kicau burung dan indahnya taman bunga, sambil berjalan menyantap kacang rebus yang panas.

 

Hampir jam 7 kami meninggalkan Bukit Bendera. Dalam kereta yang penuh sesak, oleh para pengunjung, baik lokal maupun mancanegara, saya dan Flo duduk kelelahan. Tapi dari radio di kereta, saya mendengar lagu dalam negeri sendiri Caffein sedang diputar, judulnya : Hidupkukan damaikan hatimu....

 

Wah...hari ini lelah...namun indah...damai.....mungkin besok akan lebih 'hidup' lagi. Kami akan meneruskan petualangan kami menyusuri Penang,  pearl ot the orient!

Bersambung....  

04 Aug 05 Thursday 5:14 AM

Current mood:  creative

BRITAMA siti nurhaliza live in concert!

Berita baru buat saya, karena siti nurhaliza akan mengadakan konser di Medan, tanggal 2 Agustus 2005. Tanggal 28 Juli 2005, iklan media-media cetak lokal Medan nyaris penuh oleh berita tersebut. Telepon kanan-kiri untuk cari informasi penjualan tiket, konon katanya penjualan tiket baru dibuka pukul 14.00 WIB.

Harga tiket yang berkisar Rp 750.000 (Super VIP) sampai kelas IV yang Rp. 250.000 buat  buruh (tukang batu) seperti saya sedikit banyak membuat meringis. Tapi tak apalahsaya suka dengan diva dari negeri tetangga ini. Lagu-lagunya cocok buat telinga saya, lebih dari itu, sikap santun penyanyi cantik ini membuat saya bertekad satu: bagaimana pun, saya harus melihat Siti Nurhaliza konser.

 

Tapi perburuhan tiket ini tak semulus yang saya bayangkan. Mulai dari kesibukan kerja yang menyita waktu (dan nyaris membuat saya lupa akan konser ini), sampai urusan remeh-temeh lainnya, membuat saya terpaksa berburu tiket kembali- di tanggal 2 Agustus pagi harinya. Untung supir perusahaan mau saya minta tolong berburu tiket. Tapi rupanya tiketnya katanya- sudah habis. Wah saya hampir putus asa tidak kebagian tiket konser, sampai akhirnya seorang kenalan mampir ke tempat saya dan bersedia berburu tiket untuk saya (yang akhirnya diberikannya dengan gratisss!!!!)

 

Alhamdulillah, meski cuma dapat tiket di kelas III yang seharga Rp. 350.000 tapi saya cukup senang. Teng, jam 19.00 WIB, bada Magrib, saya langsung menuju lokasi konser. dengan seorang teman. Sampai di lokasi konser, Gedung Selecta Jl. Listrik Medan, saya baru ngeh kenapa tiket susah dicari. Rupanya di sepanjang  jalan tersebut, para calo sibuk menjajakan tiket konser. Aduh.bohong saja kalau pihak penyelenggara bilang tiket sudah laku 85% pada H-2, dan pada H pagi hari tiket susah dicari. Rupanya yang mereka maksud laku itu  sudah terjual dengan para calo.

 

Meski molor sampai satu jam dari jadwal (akibat basa-basi dan bagi2 rejeki oleh pihak BRI, selaku promotor acara ini), akhirnya Siti Nurhaliza pun muncul pas jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Lagu pertama Dialah  di Hati, menandai dimulainya aksi panggung sang diva. Sontak saja, ribuan penggemarnya yang terdiri dari berbagai kalangan dan berbagai usia yang memenuhi Grand Hall di lantai 5 gedung itu terpukai.

 

Saya bahkan tak sanggup menutup mulut karena kagum. Berturut-turut dia menyanyikan lagu-lagu, baik lagu yang dia populerkan sendiri, maupun lagu yang pernah dipopulerkan oleh penyanyi Indonesia.

 

Siti Nurhaliza, is the bestgumam saya di hati. Rekan  yang nonton dengan saya (pria) bahkan tidak bisa menahan diri untuk maju ke depan dan shake hand dengan Siti yang jelita. Dua kali rekan saya itu berhasil bersalaman dengan sang penyanyi. Dalam balutan jeans dan baju cream  kasual feminim, Siti jauh lebih jelita dari yang pernah saya lihat lewat foto, klip ataupun website pribadinya (sitizone.com). Bahkan ketika ia tampil dalam balutan gaun Melayu , ia nampak anggun memikat. Saat dia dikalungkan ulos (tanda diterima sebagai orang Medan, atau diterima di Medan), Siti nampak memukau. Ia menjelma menjadi ratu yang kecantikannya tiada tara. Saya merasa bagai anak laki-laki saat itu, yang tengah mengagumi lawan jenis saja.

 

Tak salah kalau sambutan meriah malam itu benar-benar untuk Siti Nurhaliza. Bukan hanya diberikan oleh Bapak Gubnernur Sumut & Ibu yang hadir, Walikota Medan, Pangdam, tapi juga oleh semua masyarakat luas yang hadir. Saya terkagum-kagum melihat beragam orang yang hadir, dari mulai anak kecil, ABG, sampai nenek-nenek yang sudah berambut putih (ada acim-acim, perempuan tionghoa, yang rambutnya sudah putih datang dengan cucu laki-lakinya yang saya taksir masih duduk di kelas 3 SD dan cucu perempuanya yang masih ABG).   

 

Beragam usia juga ditandai dengan beragam etnis yang hadir. Bukan hanya orang Melayu, Batak, Jawa, tapi juga dari Nias, etnis Cina, juga orang India hadir di sana. Tak pelak, Siti pun juga menyayikan lagu Mandarin dan Melayu.

 

Oh, Siti

Beberapa kali saya ,menonton konser , tapi untuk kemampuan Siti berkomunikasi dengan penonton bagi saya di atas rata-rata. Siti-lah membuat suasana menjadi hidup, lewat dialognya dengan penonton. Ia sangat ramah, dan mengenal Medan dengan baik. Konon ia memang pernah ke Medan tahun 1992, waktu masih sekolah menengah, kunjungannya sebagai pelajar waktu itu ke Danau Toba. Ia masih ingat indahnya  Danau Toba, tapi menyesal karena tidak punya cukup  untuk mengunjunginya lagi.

 

Siti Nurhaliza, apa sih yang membuat orang menyukainya? Suaranya? Ohpastitak salah kalau dia dijuluki Celine Dion- Asia. Kecantikannya? Wahtidak perlu memuji diva jelita ini. Tapi bukan kedua point itu yang membuat saya sangat menyukai Siti Nurhaliza. Bagi saya, ia sosok berkelas yang tiada taranya. Kemampuan olah vocal dan kecantikannya, seolah makin bersinar oleh kerendahan hati dan kesantunannya. Ia jauh dari kesan sombong, dan pakaiannyaalamakdi saat penyanyi-penyanyi perempuan di tanah airku berlomba berbaju ketat dan minim, Siti justru tetap tampil dalam balutan pakaian sopan, bertradisi khas orang Timur.

 

Oh, Siti, memang lagumu Bukan Cinta Biasa, tapi engkaupun juga bukan penyanyi biasa. Engkau tampil dalam kesederhanaan yang memukat. Berbuah decap kagum dan penghargaan.

Entahlah Siti

Cindailah mana

Tidak berkias

Jalinnya lalu

Rentak beribu.     

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

26 Jul 05 Tuesday 1:04 AM

Current mood:  angry

Kalau diantara kita jatuh sakit

Lebih baik tak usah ke dokter

Sebab ongkos dokter di sini

Terkait di awan tinggi…

(Kembang pete, Iwan Fals)

 

Ahad, 24 Juli 2005 saya menemani seorang teman menjenguk saudaranya di Rumah sakit Materna, di Jl. Teuku Umar, Kampung Keling, Medan. Saudaranya itu (sebenarnya suami saudaranya) mengalami kecelakaan, ditabrak mobil (mobil baru, baru juga keluar dari showroom, masih plat toko) di daerah Langkat.

 

Si pasien yang kami jenguk masih belum sadar (setelah 3 hari kecelakaan, sudah menjalani bedah syaraf). Beliau masih di dalm ruang ICU, jadi kami menjenguknya hanya sebentar saja, itu pun bergantian masuk ruangan ICU .  Saya ‘suka’ menjenguk orang sakit, karena konon  menjenguk orang sakit, sama juga dengan menjenguk Tuhan. Tapi kalau harus berkunjung ke rumah sakit, saya sedikit trauma. Saya tak benci rumah sakit, toh sepanjang perjalanan hidup saya, saya akrab denga gedung yang umumnya berwarna putih itu (di perkebunan, ayah saya dan ibu saya sebelumnya bekerja di bidang kesehatan). Saya hanya ‘trauma’ dengan rumah sakit, karena sudah dua kali ‘mengantarkan’ orang yang saya cintai menghadapi saat2 terakhirnya di rumah sakit. Entah kenapa, rumah sakit selalu identik dengan kematian dan kehilangan, bagi saya.

 

Keluar dari ruang ICU, saya berhadapan dengan istri si pasien yang nampak tabah. Berperawakan mungil dengan rambut dipotong pendek, perempuan berwajah putih , berusia akhir tiga puluhan itu  kelihatan lelah. Tapi dia nampak sangat pasrah.

“Sampai tiga hari sejak kejadian yang menimpa si Mas, saya tak bisa menelan nasi,” ucapnya lirih. “Tapi saya pikir, mana boleh saya begini? Kalau saya sakit juga, bagaimana anak-anak?” katanya dengan mata menerawang, mungkin ingat dengan dua anak laki-lakinya yang tinggal di rumah.

 

Ia lalu bercerita, kronologis kejadian itu. Saat itu sang suami yang cuma buruh pabrik pulang kerja. Tahu bagaimana, motor yang dikendarainya ditabrak oleh mobil. Singkat cerita, polisi datang. Prosedur rutin, periksa dompet si korban, untuk mengetahui identitas si korban. Kata saksi mata, si polisi yang memeriksa dompet , tiba-tiba jadi lemes. Entah kenapa, konon katanya karena isi dompet si korban: Cuma uang tiga ribu perak, plus KTP dan surat-surat kendaraan. Sampai di sini, saya yang mendengar cerita si istri belum juga ‘nangkap’ sebab –musabab  kenapa si polisi lemes.

 

Barulah ketika teman saya nyeletuk,” wah…kecewa dong polisinya, korbannya ternyata kere!”

Baru saya mendapat titik terang.

 

Dan gara-gara ‘isi’ dompet itu pula yang membuat pihak rumah sakit ‘S” (tempat korban dibawa untuk mendapatkan pertolongan pertama), menolak untuk memberi perawatan. Takut tidak ada yang membayarnya!

 

Untungnya si istri segera tiba di sana. Tapi rupanya persoalan ‘isi’ dompet juga belum selesai. Dokter jaga di rumah sakit “S’ tersebut ternyata selain menjadi dokter memiliki profesi lain, tukang interogasi. Entah apa yang ada di kepala dokter itu (menurut saya, di kepalanya cuma ada kertas resep dan kwitansi saja), karena sekian jam berlalu, dokter tersebut bukannya menolong si pasien, tapi malah sibuk ‘menghujat’ si istri sehubungan dengan isi dompet sang suami.

 

“Ibu ini istri bagaimana sih? Masa’ suaminya cuma diberi uang saku tiga ribu rupiah? Lihat kalau terjadi kejadian begini, bagaimana?”

 

Si istri yang  sedang sedih dan bingung, tambah sedih ya tambah bingung.  Ketika ia ingin menjelaskan sesuatu, dokter  itu ngomong lagi. “Jadi istri jangan pelit-pelit dong.”

 

Dan si istri tak bisa menahan diri, ia menangis sambil berkata, “memangnya dokter pernah jadi orang susah? Pernah merasakan tak punya uang? Mengantongi uang tiga ribu rupiah merupakan kemewahan bagi kami, Pak Dokter!”

 

Di dokter terkesima. Lalu berkata tanpa keramahan. “Suami itu harus discanning, biayanya tak murah dan harus dibawa ke rumah sakit Materna .”

 

“Kira-kira kena berapa biayanya ya, Dok?” Tanya si istri pula.

 

“Mahal…lima ratus ribu lebih.”

 

“Saya ada duit,” kata si istri. Hari itu ia memang datang ke rumah sakit dengan uang tujuh ratus ribu rupiah.

 

“Kalau ada duit baguslah., sekarang cari kendaraan , biar suami ibu dibawa ke Materna!”

 

“Ambulan kan ada, Dok…”

 

“Ambulan mahal…sewa mobil yang lain saja.”

 

Saya yang mendengar cerita itu tak kuasa menahan emosi. Dimana kemanusiaan seorang dokter sekarang? Dimana? Hanya karena ia ‘bertemu’ pasien yang isi dompetnya suma 3000 perak, tanpa kartu ATM, tanpa kartu Kredit, dia seenaknya saja memperlakukan si pasien sebagai manusia kelas dua? Coba yang datang dengan mobil mewah , mungkin pelayanannya jadi beda.VVIP! Brengsek!

 

Teman saya bilang, kenapa marah? Dokter juga manusia kan? Oh ya? Saya lupa…dokter memang manusia biasa, yang butuh makan, minum, uang pakaian dsb,  bedanya dengan kita (dan keluarga si pasien tadi)  mungkin tipis saja. Kalau keluarga si pasien, makan nasi 3 kali sehari (atau dua kali sehari) sudah cukup, minum delapan gelas air putih sudah bagus, maka si dokter perlu makan lebih banyak dari penyakit orang, perlu minum lebih banyak dari air mata dan darah si pasien. Dan mungkin juga, perlu uang yang lebih banyak untuk ‘menutupi’ biaya kuliah yang tak murah, uang sogok untuk bisa buka praktek dsb….

 

Saya lupa itu…

Dokter juga manusia biasa. Ah, saya pikir, dokter itu ‘dewa’ atau paling tidak salah satu manusia pilihan Tuhan, yang dipercayakanNYA untuk membantu hambaNya yang lain dalam menghadapi cobaan karena sakit fisik. Saya lupa, sangat lupa…

 

“Makanya kalau sakit jangan ke dokter,” kata teman saya berbisik. “Mending ke Ustad, biar diberi doa cepat sembuh. Ustadz kan orang suci, doanya manjur, Allah akan menyembuhkan kita. Saat itu, ucapkan salamat tinggal buat dokter dan rumah sakit.”

 

Saya tahu teman saya juga manusia biasa. Kadang ia gila, seperti saya. Dan kalau sudah begitu, kami pun berjalan beriringan. Sambil bernyanyi dan mengkhayal…..

Indonesiaku bisa lebih manusiawi….

Warganya terdiri dari; dokter-dokter yang ramah dan menyenangkan, polisinya tegak membantu tanpa pandang bulu. Anak-anak sekolah dengan  buku dan sepatu baru yang disubsidi pemerintah. Ibu-ibu ke pasar saling sapa ramah dan tak pusing dengah harga kol gepeng, cabe keriting atau wortel tanpa daun. Lalu pemudanya bersatu teguh…   

 

Buang jauh-jauh impian mulukmu…

Karena kita tak boleh bikin uang palsu….

 

Iwan Fals benar juga ya….

 

Mending saya kembali bekerja…menyusun batu dan bata….

Seandainya boleh buat uang palsu, sayan juga bingung, mau beli mesinnya dimana?

  

 

 

 

 

22 Jul 05 Friday 6:04 AM

Menurut berita hari ini di (detik.com, analisadaily.com ), sekitar 1,8 Juta penduduk di Sumut masih  hidup dalam kemiskinan. Dari 25 daerah tingkat dua di Sumatera Utara, Nias Selatan menduduki prosentase terbesar penduduk yang masih hidup dalam kemiskinan. Medan, sebagai Ibu kota Propinsi menempatai urutan ke 10. Yang membuat 'bangga' ternyata kabupaten Asahan (nih, kampung halamanku, tempat aku pertama kali menangis pas lahir dari rahim bunda), menempati urutan terakhir, atau 25. Artinya, di Asahan, yang miskin sedikit .

Secara geografi, Kabupaten Asahan berada di kawasan Pantai Timur Sumatera Utara, terletak  pada 2°30'00" - 3°30'00" Lintang Utara dan 99°00'00" - 100°00'00" Bujur Timur, serta terletak pada ketinggian 0 - 2000 m di atas permukaan laut.

Kabupaten Asahan menempati area seluas 462.441 ha, terdiri dari 20 kecamatan, 237 desa dan 34 kelurahan. Area Kabupaten Asahan di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Serdang Bedagei, di sebelah Selatan dengan Kabupaten Toba Samosir dan Labuhan Batu, di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Simalungun, di sebelah Timur berbatasan dengan Selat Malaka.

Boleh jadi Asahan memang sudah 'makmur', maklum, selain industri kecil, perikanan, peternakan, Asahan memang termasuk daerah perkebunan terbesar di Sumatera Utara.

Tapi, jangan-jangan fakta bahwa di Asahan yang hidup dalam kemiskinan sedikit hanya data di atas kertas. Mungkin, saja memang para petinggi di Asahan malu mengaku kalau di daerahnya masih banyak yang miskin, akhirnya....

mau tahu seluk beluk  Asahan? Ayo, kunjungi saja situs di bawah ini

kabupaten asahan  

21 Jul 05 Thursday 5:22 PM

Current mood:  crazy

Menjadi cewek Batak  penuh dinamika. Saya rasa, menjadi cewek dari suku mana juga begitu ya. Tapi kalau jadi cewek Batak, bersikap harus hati-hati, apalagi kalau sudah urusan perkenalan dengan lawan jenis yang notabene orang Batak  juga. Paling tidak harus tahu 'asal-usul', silsilah, atau kata halak hita, harus tahu martarombo, sebab kalau tidak...jangan-jangan kita naksir cowok yang nyata-nyata ito kita sendiri, atau satu marga dengan kita.

 Ada beberapa marga yang masuk dalam clan saya  (sorry pakai kata clan). Selain Tambunan sendiri, Silalahi, Nadapdap dan lain-lain, kelompok marga kami disebut dengan silae sabungan (not sure, benar nggak ya?). Saya sendiri, jika berkenalan dengan sesama orang Batak, baik pria dan wanita selalusangat berhati-hati. Sebab ini bukan soal marga saya sendiri (yang saya warisi dari ayah), tapi juga menyangkut ke marga Mamak saya. Saya harus 'pandai-pandai' bertutur kalau tidak mau dibilang tak punya adat. Untuk yang satu ini, Mamak saya selalu mengajari saya bagaimana bertutur yang baik.

  Misalnya, jika berkenalan dengan seorang bapak paruh baya yang bermarga Pasaribu, saya mestinya menyapa beliau dengan sebutan "tulang' (om), karena Pasaribu itu sama dengan harahap (marga Mamak saya). Begitu juga jika saya berkenalan dengan perempuan yang sedkit lebih muda dari Mamak saya dan punya marga (boru) Harahap, saya bisa memanggilnya Ujing/Tante.

Ribet? Mungkin juga. Tapi saya menikmatinya. kecuali satu hal: saya pernah 'naksir' cowok cakep yang nyata-nyata satu marga dengan saya. Dia sama seperti saya, tidak begiu bisa bahasa Batak, dan mukanya lumayan 'lembut' , jauh dari Batak. Saya pikir dia orang Jawa. tiga bulan kenalan, eh...baru ketahuan kalau dia juga satu marga dengan saya.

Menikah semarga? Dalam kaitannya dengan agama (Islam) sih gak masalah saat ini, cuma ya...entah kenapa kok rasanya kurang afdol jika harus berpasangan dengan ito sendiri.

Menjadi cewek Batak, berarti juga siap untuk dibanding-bandingkan. percaya nggak? teman saya yang tinggal di  Jawa dan hanya berhubungan dengan saya via internet pernah nanya, "Apa semua cewek Batak berkulit tebal, bermuka persegi dan ngomong dengan suara keras?"

Gila! saya bilang, "yang bersuara keras, cuma aku saja. Mukaku juga gak persegi , juga gak tebal kulit kok. selebihnya, lihat saja Nadya Hutagalung, Tamara Geraldine, Rosianna Silalahi atau Lulu Tobing!"

Teman saya malah balik bertanya"memang mereka cewek Batak?"

Nah lho!

  

      

20 Jul 05 Wednesday 6:26 AM

Current mood:  crazy

Sebelumnya sempat terpikir bahwa yang takut berkomitmen  (menikah) itu adalah kaum Adam. Belakangan ketahuan kalau kaum Hawa juga banyakyang takut berkomitmen. Saya baca di femina kemarin, Ayu Utami yang penulis novel Saman dan si Parasit Lajang mengatakan bahwa menikah membuatnya tidak lagi leluasa. Dan ada 4 nara sumber yang diwawancarai rata-rata mengatakan belum mau berkomitmen dengan beberapa alasan:

1. Masih ingin mengejar karir
2. Takut nggak bisa 'ngelaba' lagi
3. Takut hidupnya tidak bebas lagi
4. Belum menemukan pasangan yang cocok

Sebenarnya kalau dilihat, ke-4 alasan tersebut terkesan klise. Kecuali kalau Anda bekerja di perusahaan yang mengharuskan semua karyawannya harus single, maka alasan pertama terasa basi. sebab kalau dipikir, keluarga justru bisa membantu kita meraih prestasi yang lebih baik.

Takut nggak bisa 'ngelaba' lagi? bisa diterima sih....daripada setelah menikah selingkuh terus, mending pas single puas-puasin saja research...

Takut tidak bebas lagi? Kalau maksudnya, bebas seperti waktu masih lajang, jelas nggak mungkin lah..! Ini alasan yang dibuat-buat.

Belum ketemu seseorang yang pas/cocok? Kriteria apa dulu yang Anda buat untuk mengatakan seseorang itu pas/cocok? Seseorang yang tampan? Punya kerja mapan? Mobil mewah? Penuh perhatian? Dari keluarga baik-baik? Taat pada agama?Berbudi tinggi atau(body) macho? lemah lembut, care dll? Padahal kalau Anda menemukan 6 dari sepuluh 'cocok' itu pada diri seseorang itu, sudah anugrahyang tinggi. saya bilang, jangan balik kiri lagi, tapi balik kanan aja ke penghulu :)

Kalau saya, bila ada yang menanyakan kenapa saya sampai seusiaini  masih sendiri juga? Maka dengan penuh kesabaran saya akan jawab ," saya memutuskan untuk melajang saja. Melajang membuat saya lebih bahagia. Untuk saat ini. ya..."

Karena saya tidak tahu esok lusa, siapa tahu saya justru menemukan sesorang yang sanggup membuat mulut tak bisa tertutup (kagum kali ya...) lalu kamipun menikah.

Sementara ini, komitmen? nanti duluah...

       

 

19 Jul 05 Tuesday 11:07 AM

Current mood:  artistic

Menjadi cewek Batak, mulanya saya pikir adalah keharusan. Tapi belakangan saya juga sadar, menjadi cewek Batak bukan hanya keharusan, tapi juga pilihan! 

Sejak kecil lagi, saya sudah diharuskan menjadi Batak. Lucunya, itu dilakukan oleh Mamak saya yang heubat itu, yang jelas-jelas memang perempuan Batak dari Tapanuli Selatan, bukan oleh Ayah. Ayah saya malah tak begitu 'peduli'  apakah kami akan jadi Batak, setengah Batak, Melayu, atau Jawa!  Ayah, dengan label marga yang jelas2 datang dari Utara Tapanuli (sekarang Tobasa) sejak masih bayi lagi sudah tinggal di Asahan. Tanah Melayu ini membentuk dirinya 'jauh' dari Batak. Beliau tak bisa bahasa Batak, beliau juga jarang bersuara keras. Ia benar-benar tipikal Batak Melayu yang banyak tersebar di bumi Asahan. Karena ini pula kenapa tutur sapa kami pada karib kerabat tidak berbau "Batak".   Mislanya, kami memanggil adik Ayah dengan sebutan Bunde, padahal kalau di Batak mestinya kami memanggil Bou/Namboru.,dan kami memanggil adik Mamak dengan Makcik (bukannya Tante atau Bujing -orang Tapsel biasa memanggil adik perempuan Ibunya dnegan Bujing/Ujing). Untungnya, saudara laki-laki Mamak masih dipanggil dengan sebutan Tulang, bukannya Pakcik, jadi ya...masih nampak kok Bataknya.

Saat mulai masuk sekolah, saya ingat Ayahlah yang mengantar ke sekolah. Dengan Vespa saya diantarnya ke sekolah. Dan pulangnya saya mendengar ayah dan mamak agak ribut. Mamak saya protes karena ayah mendaftarkan saya tanpa embel-embel marga -boru- di belakang nama. Ha..ha..ha....

Entah karena pengaruh Ayah yang besar atau karena  memang saya sangat "melayu"  sampai sudah masuk SMA, saya  sungkan kalau harus mencantumkan nama marga di belakang nama saya. Apalagi saya juga tak bisa bahasa Batak. Mengerti sih kalau ada yang ngomong Batak, tapi kalau harus menanggapi pakai Bahasa Batak, saya jadi ga-gi-gu...alias gagu! Dan saya punya banyak cerita suka dan duka soal marga ini. waktu SMA, saya yang anak kampung ini selalu masuk daftar top  rangking  di kelas Fisika. Tapi lagi-lagi orang pikir saya ini dapat nilai bagus karena kepsek-nya  dan guru kimianya juga satu marga dengan saya.  Sejak itu, nyaris saya hanya membubuhkan initial marga saja di belakang nama saya.

Tapi yang ini juga bukannya tidak berkasus. Waktu kuliah pelajaran agama  saya selalu dapat A , ditambah lagi saya sangat fasih membaca Al-Qur'an (untuk yang ini he..he.he saya boleh bangga karena sejak   SD saja saya sudah khataman 2 kali dan pernah jadi asisten guru ngaji lagi ...ehm!). eh...pas dosennya nanya initial di belakang nama saya dan saya sebutkan marga saya, dia bengong dan bilang, "hei, orang Batak bisa juga mengaji ya!" Hah!

Kali lain, masih di kuliahan juga, saya sempat 'dimarahi' seorang dosen yang ketepatan satu marga dengan saya, hanya karena saya tak menulis marga dengan lengkap. "Kalau tidak kita, siapalagi yang membesarkan marga kita?" ucapnya dengan gaya retorika.

Sebenarnya tanpa mencantumkan marga saya, orang lain pun tahu kalau saya ini cewek Batak. Tampang sayakan Batak banget! Orang dengan mudah mengenali saya berasal dari suku mana. Kalau aksen? jelas saya rada Jawa...maklum tinggal di Perkebunan di Asahan,  yang sehari-harinya bergaul dengan wong Jowo. Saya malah lebih pintar ngomong Jawa ketimbang Batak.

Tapi kalau dipikir-pikir, syukur juga Mamak saya itu  'Batak banget'. Karena ia  benar-benar mewarisi semangat perempuan Batak. Yang mandiri, gigih...pantang menyerah, sedikit keras kepala dan yang penting punya ikrar "anakku dohamoraon dia hu!" kalau tidak? entahlah...apa saya bisa seperti sekarang, meski Ayah sudah pergi pada saat saya masih duduk dikelas 3 SD.

Untukyang beginian, menjadi cewek Batak, memang pilihan!   

   

     

14 Jul 05 Thursday 6:02 PM

Current mood:  confused

Entah apa hubungan antara jerawat dan pikiran yang sedang kalut. Mungkin tidak ada ya. Sepeti tak adanya hubungan antara bom London dengan teman saya Robin yang pengamen. Tapi, oleh teman saya,  Robin, bom London dijadikan alasan kenapa selama tiga hari ini penghasilannya cekak. Dia bilang, sejak bom London meletus, tak seorangpun penumpang angkot yang memberinya 'sumbangan' . Padahal biasanya, ia bisa meraup 'penghasilan' antara Rp. 10.000 - Rp. 12.500 untuk sekali show (maksudnya mangkal dari jam 9.00 WIB, s/d pukul 17.00 WIB). Penghasilan yang cukup lumayan buat Robin. dengan penghasilan itu, ia bisa makan tiga kali sehari  (paket TIBU, pukul rata tiga ribu rupiah), masih sisa Rp. 1000- 3500 perharinya. Lumayanlah. Toh malamnya ia masih bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe  hotel bintang 3 (yang ini karena ia ingin selalu menikmati live music)..

Saya tak mau merecoki penghasilan Robin, tapi katanya, sejak bom London, ia tak dapat penghsilan apa-apa dari mengamen. Akibatnya, kemarins iang dia 'nodong' saya  sebungkus nasi Padang. Kami makan sambil ngobrol.

"Sejak bom London, penghasilanku cekak," katanya.
"Apa hubunganya, Bin?"
"Gak tau, tapi semua menjadi muram. Penumpang tak ada yang ceria lagi. PAdahal aku sudah nyayikan lagu Peterpan, nyanyikan lagu Ebiet dan terakhir kemarin pas aku nyanyi Jangan Pernah Berubah-nya Marcel malah dapat makian.'

Saya tertawa.

Sampai di rumah saya mikir, apa benar gara-gara bom London maka penghasilan Robin cekak? apa karena bom London, suhu di kantor saya memanas, bara di dada saya siap membakar apa saja? Oh...apa iya? Bukan karena BBM yang langka? Bukan karena pemotonga siaran TV dan radio yang mengudara?

Tetangga saya malah bersorak karena siaran TV dipercepat tutupnya. ia bilang, dengan begitu "Ayahnya anak-anak bisa cepat bobok...gak seperti selama ini...nonton teruuuuuus sampai pagi."

Penghematan energi memang sedang giat2nya dilaksanakan. di kantor, Boss saya masuk ke ruang teknik dan bertanya kepada saya. "Berapa suhu AC?"

Saya pikir dia kedinginan. Maklum manula seperti dia mungkin tak tahan lagi dengan dingin. Tapi waktu kemungkinan itu saya tanyakan, dia malah melotot dan bilang, "bukan kedinginan, tapi pemerintah sudah menganjurkan agar menyetel Ac dengan suhu 25 derajat. penghematan!"

OOOOOOO, sontak saja kami -4 orang yang diruangan itu- membentuk huruf O kapital di mulut masing2. Oke deh, Bapak Prediden! Coba kalau Bapak tanya Kerbau, pasti dia tahu apa  yang harus dilakukan :)

Oke, AC saya stel 25 derajat. Iseng, waktu OB mengantar kopi ke ruangan BOs, saya minta ia melirik penunjuk temperatur di ruang BOs. Dan mau tahu jawabnya???? 16 derajat!

Keparat! kata teman saya.
Tek Godel! kata teman saya yang lain.
Sentul Kenyut!

Dan saya tertawa. Bos saya, tipikal pemimpin di negara ini, yang cuma bisa ngomong begini-begitu, pandai buat aturan  tapi tak mau melaksanakan. entahlah...apa keluarga para pejabat benar-benar berhemat?

Saya pulang ke rumah dengan banyak pertanyaan dipikiran. Karena banyaknya pikiran, jerawat pun tumbuh satu di kening!