MySpace

Creative Commons License
The Feels A Fat by Windyasari S is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 License.
windy

windyasari septriani


Last Updated: 11/19/2009

Send Message
Instant Message
Email to a Friend
Subscribe

Gender: Female
Status: Single
Age: 25
Sign: Virgo

City: bandung
Country: ID
Signup Date: 12/2/2006

Blog Archive
[Older      Newer]
 /  / 
September 11, 2009 - Friday 

Category: Music
hello, guys...this is my myspace solo project
www.myspace.com/windyasari

add me,pls
August 14, 2009 - Friday 

Current mood:  artistic
Category: Music
Hello, friends
I recently going on a solo project beside I have a band. So it's gonna have a myspace music account too of course.support my solo project later,soon. thank you
August 14, 2009 - Friday 

Current mood:  artistic
Category: Music
Hello, friends
I recently going on a solo project beside I have a band. So it's gonna have a myspace music account too of course.support my solo project later,soon. thank you
January 9, 2009 - Friday 

Category: Music
Sekedar pemberitahuan saja, bahwa saya sudah resign dari Bandung Blues Society (BBS) sejak tgl 8 Januari 2009. Di BBS ini memang secara keanggotaan tidak ada keterikatan kontrak atau pun registrasi. Tapi secara keseluruhan saya sudah tidak terlibat lagi secara langsung dan sudah tidak lagi mengurus publikasi seperti sebelumnya. Untuk itu saya sampaikan. Terima Kasih.
November 23, 2007 - Friday 

Category: Music
Mini Album Jack and Four Men sementara
bisa di dapat di 1st Store, Oink!,
Rawks, Riotic, Posh Underground, DU 68
(Jual Beli Kaset Bekas), Hey Folks
(Jakarta), Roof (Yogya)
November 7, 2007 - Wednesday 

Current mood:  artistic
Category: Art and Photography
Link: http://www.artwanted.com/curlyedge

2008 Calendars
11/01/07
11:09PM

Report to Staff/Moderators Save this Thread

We have just sent out an e-mail to all those that were selected to be included in one of our 2008 ArtWanted.com Calendars.

We congratulate those that will be featured! We have also added a note/graphic to the main portfolio page of those that were selected. We hope you enjoy the extra exposure you will get from being in the calendar.

We apologize to those that were not chosen for the calendars. There were hundreds of entries that had to be turned away, because the calendars were full. If you were not selected this year, remember that we will start accepting entries for 2009 calendars this Spring.

The ArtWanted.com calendars are a great way to see new artwork every day on your desk and also make a great gift.

So if you are featured, or you are just looking for a great daily calendar, we encourage you to pre-order one of the ArtWanted.com calendars today.

http://www.ArtWanted.com/ps/Calendar

ArtWanted.com Staff
September 11, 2007 - Tuesday 

                                    BAB 22

                             YOU GO, GUYS …

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Tiba saatnya hari dimana Aris manggung sebagai additional player di Rise 'n Shine. Kali ini Rise 'n Shine dan Aris manggung di gedung AACC (Asia Africa Cultural Centre) yang letaknya di kawasan jalan Braga, Bandung. Velli dan Imman serta ceweknya Jane kebagian free pas. Tapi kali ini Aris dan Velli serta Imman tidak satu mobil menuju venue hehe…Acara dimulai jam 7 seperti biasa ngaret jadi jam 8-anlah. Terdapat 5 band yang tampil, dan sementara Rise 'n Shine tampil di urutan rundown -->[if !supportFootnotes]-->[1] -->[endif]--> ke empat.

Velli, Imman dan Jane mengikuti Aris ke arah ruang artis. Penonton lumayan cukup padat saat itu. Kali ini acara tersebut dikhususkan untuk band-band indie pop. Massanya cukup banyak. Rise 'n Shine datang sekitar pukul 8. 30 saat band ke dua berlangsung tampil. Ketika di ruang artis Aris pun memperkenalkan Velli dan Imman serta Jane kepada personil Rise 'n Shine. Wira sang vokalis pun berseru, "Oh,…ini Velli ? hehe…gue yang kemaren ngirim myspace hee..", katanya sambil bersalaman.

"Oh iya iya…", seru Velli sambil tersenyum agak malu.

Rise 'n Shine, Aris, Velli, Imman serta Jane tampak mulai bercakap-cakap satu sama lain sebelum Rise 'n Shine naik panggung.

Sampai pada akhirnya band ketiga memainkan lagu terakhirnya, Rise 'n Shine pun diminta untuk siap di backstage. Kru mereka pun bersiap-siap membawakan peralatan mereka dan bersiap untuk mensetnya. Sementara band ke tiga sudah turun panggung. MC pun masih berbicara, dan para kru sudah membawakan alat-alat ke panggung dan mensetnya termasuk snare drum Aris.

"Ris, gue mau deh jadi kru lo, hehe..", celetuk Imman.

"Ah, nggalah…lu jadi manager aja hehe…"

"Waah…berat tuh…"

Beberapa menit kemudian nama Rise 'n Shine pun sudah dipanggil oelh kedua MC. Penonton pun antusias menyambut.

"Good Luck, Ris", ujar Imman sambil mengacungkan jempol.

Velli dan Jane tersenyum memberi semangat.

            Lagu pertama dibuka dengan lagu yang terdengar ringan dan cozy dengan iringan gitar akustik dan vokal Wira yang kebule-bulean ala Edson. Musiknya terdengar santai, namun penonton tampak beberapa ada yang sudah hafal liriknya.

"Waah, si Aris bagus juga drumnya bossas gitu, ngepop hehe…bagus juga tu anak…", ujar Imman komentar. Jane dan Velli mengangguk sambil tatapan tetap memperhatikan panggung. Mereka menonton dari arah backstage.

"Lu mau ga nyanyi ngepop sambil maen gitar?", tanya Imman iseng.

"Ngga!..". jawab Velli tegas sambil tersenyum cemberut. Jane pun tersenyum melihat reaksi Velli.

            "Okee…makasih, itu tadi…lagu kita yang…albumnya udah bisa dibeli di toko musik terdekat juga di distro-distro hehe…ok eeuh…sebelum kita ke lagu ke tiga. Gue mau memperkenalkan personil Rise 'n Shine ada siapa aja di sini…"

Penonton pun menyambut antusias. Para personil hanya cengar-cengir.

"Di lead gitar kita ada…Kilung…", Kilung langsung memainkan solo pendek yang cukup jazzy terdengarnya diikuti oleh sorak dari penonton. "Lalu Gea di Rhythm gitar", Gea langsung memainkan chord gitar dengan gaya nge-swing diikuti sorak penonton. "Di bass…ada….Hendra", sambil memainkan solo bass yang juga nge-swing. "Lalu di drum sementara kita punya additional nih, Aris…!" Penonton pun tak kalah ramai menyambut Aris walopun sebagai additional baru. Aris pun membuat solo drum yang agak jazzy (di mana Imman takjub juga liat dia improve kali ini dengan jazzy style). "Dan terakhir saya…di vokal…Wira…hehe…".

Tanpa basa-basi lagi intro lagu keempat dimainkan, penonton pun semakin antusias menyambut.

            Ngga kerasa lagu kelima pun sedang dimainkan oleh Rise 'n Shine, yang berati adalah lagu terakhir mereka malam ini. Lagu terakhir adalah lagu hits mereka di album yang berjudul 'Nothing's Gonna Change' dan penonton pun rata-rata hafal liriknya. Aris tampak menikmati permainan drumnya sendiri, begitu juga dengan personil lainnya. Sampai akhirnya lagu terakhir selesai dilantunkan, penonton pun antusias bersorak. Namun kali ini giliran band ke lima yang manggung. Aris tampak sedikit kelelahan namun rasa puas terpancar di wajahnya. Imman, Rini dan Velli menyalaminya memberi semangat. Personil Rise 'n Shine pun menyalami Aris mengucapkan terima kasih secara spontan. Mereka semua kembali ke ruang artis. Mereka dan kru beserta Velli, Imman dan Jane bahkan mendapat bagian makanan konsumsi dari pantia, yang kali ini adalah Mc' Donald paket Panas.

"Waah,…kalo tau gini sering-sreing manggung aja deh Rise 'n Shine..", ujar Imman sambil membuka Mc'D nya

"Haha…siaap…gue selalu usahain free pas buat kalian hehe…", ujar Aris.

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

                                                            ~

Minggu subuh Imman dan Jane walau mereka habis nonton Aris manggung namun tidak menghalangi niat mereka untuk lari pagi ke Gasibu. Imman menjemput Jane sudah siap dengan celana trainingnya dan kaos oblong biasa. Sementara Jane memakai training dan kaos u can see untuk olah raga serta bandana Nike di kepalanya, persis model iklan-iklan nutrisi kesehatan yang biasanya menggambarkan si model sedang lari pagi.

Selama mereka berlari-lari kecil menuju Gasibu, Imman membicarakan masalah bandnya pada Jane, untuk sekedar curhat. Bahwa bandnya itu, The Feel A Fat sedang dalam kondisi tidak menentu.

"Jane,…gimana ya…band gue..pusing nih…", kata Imman sambil memegang dahinya

"Pusing kenapa, sih…hmm ?", tanya Jane lembut sambil memegang dahi Imman.

"Iya,…kita lagi break, nih…"

"Oya?..", seru Jane sedikit terkejut.

"Yah,…"

"Bukan karena Aris jadi additional Rise 'n Shine kan?"

"Bukan, sih…sejak Rini re-sign…kayanya udah beda aja…kalo seperti ada yang ilang itu udah pasti."

"Oooh…yaya…gue ngerti hh..hh..", kata Jane sudah mulai ngerasa cape.

"Yaa…kenapa lo cape? Duduk yu.."

"Heuh? Ngga bentar lagi deh …kagok.."

"Ok,…..iya…gue juga ga tau sampe kapan kita re-sign."

"Hmm…jangan kelamaan, lho…maksudnya cepet-cepet diselesaiin, terlepas dari pada akhirnya kalian gimana, tapi ngga perlu lama-lama kalo kata gue sih…"

"Iya juga, sih….eh brenti dulu yu….kita duduk dulu deh…gue juga agak cape hehe…"

"Euuuh…makannya jangan ngerokok muluu…"

"Heee..", Imman nyengir kuda.

"Yah, ga nyangka sih Richi…"

"Ssst,…udah…yang udah-udah ya udah…kasian ah si Rini…", ujar Jane.

"Iya, sih…eh!…kalo gue yang mati gimana Jane? Hehe…"

"Aaaha…jangan doong ngga lucu ah becandanya hihi….", kata Jane sambil merangkul manja Imman.

Imman pun balas merangkul Jane sambil pandangannya menerawang masih memikirkan bandnya.

            Di hari Minggu pagi yang sama, Velli terbangun jam 9 pagi, seperti biasa, ritinitas dia bangun tidur, gosok gigi, bikin teh manis dan baca Koran. Sejam kemudian ketika Velli membaca Koran di teras rumahnya, hp Velli ber-Chuck Berry' Johnny B. Goode'. Tercantum di hp 'Balky'. Velli pun sempat bingung dibuatnya. Wah, harus bilang apa ini?, batinnya…

"Halo..", suara Balky di sebrang sana.

"Ya, Balky..?"

"Vel, gimana Vel, ada kabar baru ngga nih…? Hehe"

"Oh…mmm..duhh…gimana ya…setelah musibah kemaren, kan Rini re-sign, Ky…jadi kita lagi bingung gitu, deh…hehe…"

"Bingungnya kenapa…?"

"Yaaa…gimana ya…ngga tau kaya stuck aja…"

"Oooh,…Tapi kalo Velli sendiri gimana…lu…masih ada minat ga di jalur musik gini..?"

"Yah pasti selalu ada , Ky..hehe…ngga mungkin ilang…"

"Mmm…ya bagus, sih…"

"Iya…"

"Ok, paling..meningan lu ama Imman, Aris diskusiin lagi soal band kalian, jangan break kelamaan tanpa arah yang jelas, buang waktu itu, Vel…"

"Iya, sih Ky…"

"Iya dong…sayang kan lu punya ambisi sendiri, yang laen juga, tapi jadi malah kehambat karena waktu…"

"Iya sih.."

"Ok, lu ntar kabarin gue, kalo bisa secepatnya, Vel…setelah kalian diskusiin jadinya kalian ini gimana hehe…jangan karena masalah nama ini jadi lama begini lho hehe…"

"Iya sih Ky, sip-sip…"

"Ok, deh gitu dulu ya…"

"Iya.."

"Yaa, yo…", Balky menutup telepon.

Velli pun segera nge-sms Imman dan Aris.

'Man, Ris…kita ketemuan lagi yuu. Si balky nlpon gw barusan. Ktnya kita ini jelasnya gmana. Jgn ngulur-ngulur waktu terlalu lama, ktnya sayang waktu…'

send

'Ok, bu…gue siap ketemu…kapan? Besok? besok aja atuh ya…sianganlah, jam satuan…"

From: Aris

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

"Ok, Vel…besok aja kita ketemuan, gmana..?"

From: Imman.

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Besok siangnya jam 14.00 di rumah Velli.

"Gimana, Man, Ris…?"

"Gimana yang mana nih gue bingung hehe…", ujar Imman.

"Yaah, kita gimana masalah, nama gitu?"

"Mmmh…", Imman tak berkata apa-apa.

"Gini deh…kan kemaren kita lagi break, sekarang pikirin bandnya aja bukan namanya. Kita mo gimana ini..? masih break?"

Sesaat terdiam….

"Mmmh…Vel…kayanya kita kalo udah gini juga ga kan bener, deh…"

"So,…?", tanya Velli sambil menatap Imman dan Aris.

"Sooo,….gimana , Ris? Hehe…."

"Lho? Gue?…"

"Yah, gimana ya, Vel, Ris…gue sih…kalo kita jalan sendiri-sendiri dulu gimana? Tapi ini bukan harus lho, Cuma nanya…?"

Sesaat terdiam…

"Yah, kalo kata gue…gue sih pengennya kita ngga sampe gitu, Man. Dan mungkin lo juga, Aris juga. Tapi yaa…gue juga ngerti maksud lo, kita tu udah kaya setengah-setengah ngejalaninnya. Ya mungkin kita juga yang kurang siap mental segala macem. Bukan setengah-setengah di musik lho…."

Aris mengangguk diikuti Imman.

"Lo, Ris…gimana?", tanya Velli

"Ummm…gimana ya…bukannya ngga punya pendapat. Tapi pendapat gue udah diucapin tadi sama Velli, sama gue juga ngga mau jadi gini. Tapi entah kenapa kayanya semua di luar kontrol kita. Dan kalopun kita pertahanin, itu kayanya….udah…ga kaya pertama lagi….ga bener karena ya setengah-setengah itu tadi, walo bukan berarti kita nganggep musik setengah-setengah…", jelas Aris.

"So…….kita…jalan masing-masing?", tanya Velli menahan sedih namun kali ini lebih tegar dihadapi.

Aris dan Imman menghela nafas….tak lama kemudian…Imman mengangguk pelan sambil menunduk kemudian meliahat ke arah Velli. Velli pun berpaling ke arah Aris untuk meyakini keputusan ini. Aris pun mengangguk denagn kepala tertunduk namun mata menghadap ke depan ke arah Velli.

"Ok,…gue rasa….itu jalan kesepakatan kita…dan mudah-mudahan memang yang terbaik dan ada hikmahnyalah…ini semua…", ujar Velli.

"Yaaah,…toh bukan berarti gue pisah. Siapa tau kita bisa kerja bareng lagi dalam hal lain, band lain ato apapun…", kata Imman.

Aris mengangguk, begitu juga dengan Velli.

"Iya, toh ini bukan masalah intern yang…parah ato gimana ini lebih ke masalah luar ato…ngga tau gue juga bingung, sih hee…", ujar Aris.

"Iya…yang penting kita ngga ada masalah satu sama lain kan?", tanya Velli meyakini

"Ngga…", jawab Imman sambil menggelengkan kepala mantap.

Aris pun mengiyakan. "Yaah,…iyalah…kita pasti baik-baik aja ke depannya."

"Eh,….gimana kalo….gimana kalo kita jangan nganggep ini sebagai suatu tragedi atau sesuatu yang negatif. Gimana kalo kita sekarang makan-makan di luar seolah-olah kaya ngerayain tapi bukan itu maksudnya."

"Umm…ooh…gue ngerti..ayu…boleh aja..", sahut Imman setuju dengan badan seperti agak lemas bersandar dengan kedua tangannya ke belakang, duduk di lantai.

"Boleh…boleh hehe…biar ngga lesu…"

"Yup..", sahut Velli kali ini lebih tegar.

Mereka pun bergegas ke luar rumah Velli untuk mencari tempat makan dan akhirnya mereka memilih SOHO di Ciwalk sebagai pilihan.

                                                            ~

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

29 Maret 2006,

20.23

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Dear me,

Huuufhh…ternyata'e ternyata…udah seminggu lebih sejak bubarnya The Feels A Fat. Umur yang pendek untuk sebuah band. Memang yang namanya umur tidak bisa ditebak sekalipun umur band hihi…Sedih, pasti!…bukan sedih lagi, banyak hal-lah…

Dari mulai kejadian si Rini…lagi apa tu anak di Inggris ??!

Trus…Dery…eh Dery dulu yah hehe…trus…bubar band gue…

Jujur sih…gue…masih tetep punya ambisi di musik. Bener kata Rini. Tu anak selalu bisa membaca hati dan pikiran gue.

Bukannya gue kepedean ato apa…tapi …gue ngerasa punya potensi…dan itu udah dibuktiin…maksud gue dari reaksi orang terhadap maen gitar gue, lagu gue, performance gue. Walopun masih jauh dari sempurna, tapi reaksi orang-orang udah bikin gue ngerasa mantep untuk punya ambisi di musik.

Yaah, sebenernya masih bisa dicoba sih, toh gue dah kenal ama Balky, Rise 'n Shine,…dan…udah…hehe…

Ngga, maksud gue linknya udah mulai kebuka untuk bisa ngewujudin ambisi gue.

Toh ini hal positif kenapa mesti merasa ngga pede ato merasa salah??…

Hmmmh…jujur ngga jarang gue ngerasa kesepian…mungkin karena gue jomblo juga kali haha… (ngga lucu!)…

So, andalan curhat gue yang bener-bener dalem ya diary ini sama…lagu, paling…

'Don't Hate What You Get' haha…lucu…gue mesti belajar dari lagu yang gue buat sendiri. Gimanapun…gue mesti bersyukur dengan apa yang gue punya sekarang. Gue masih punya banyak kesempatan kalo cukup umur. Gue harus usaha lagi.

Jangan nyerah, Velli!!

Yah! Gue harus terinspirasi sama orang-orang yang sukses yang rata-rata cobaannya berat-berat, penuh hina dan sengsara sebelum mereka sukses. Yah, walopun gue bukan mereka ngga ada salahnya mereka dijadiin role model…ya ngga…?

Hmmm…koq jadi ngantuk yaa…ah, udah ah mening gue tidur dulu…kebiasaan abis nulis diary ngantuk hehe…

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

            Untuk langkah selanjutnya yang ditempuh Velli, dia tidak berhenti bermain musik. Dia tetap menciptakan lagu-lagu yang kali ini warna musiknya lebih meluas. Mungkin…inilah warna musik Velly. Di lagu-lagu yang baru dibuatnya selain blues unsur musik yang sudah pasti ada, Velly juga memasukan unsur jazz ala Django Reinhardt dan Lead Belly, rock 'n roll ala The Kinks dan The Beatles serta garage rock ala yeah yeah yeahs dan influence musik lainnya yang tidak bisa disebutkan hehe…(kebanyakan dong tar jadi kaya nulis favorite musk di friendster…).

Sementara Aris masih terus mengulik lagu-lagu Rise 'n Shine untuk manggung-manggung berikutnya. Terkadang ketika berasama Rise 'n Shine ada rasa  kangen dengan The Feels A Fat dan kadang membayangkan seandainya dirinya sekarang manggung-manggung sama The Feels A Fat bukan sama Rise 'n Shine, namun jalan mengatakan lain. Velli, Aris dan Imman masih suka cek myspace walau dengan jujur dan berat hati mereka menyatakan bubar pada radio Italy dan band-band yang sudah mengetahui mereka di myspace. Foto logo mereka pun dibuat editan foto di myspace dengan tulisan dalam bentuk cap 'Case Closed'. Agak norak memang namun dengan begini informasi jadi lebih mudah tersampaikan.

            Ibunya Velli pun sangat menyayangkan bahwa band anaknya yang masih baru itu sudah bubar, lagi. Padahal ibunya Velli tampak menyukai teman-temannya Velli di The Feels A Fat. Ibunya sempat menyarankan untuk mencoba kembali sekedar mengisi kekosongan untuk manggung di Rock 'n Roll Café walaupun membawakan lagu-lagu orang tetapi setidaknya masih lagu-lagu favorite Velli. Namun  Velli hanya mempertimbangkan saran ibunya itu. Karena dia tampak sedang asyik dengan lagu-lagu buatan sendirinya. Dia bisa mencurahkan semua isi hatinya di situ. Walaupun itu bukan sesuatu yang baru bagi Velli, namun kali ini dia lebih memiliki musikalitas dan influence yang lebih lengkap dibanding ketika umur 16 tahunan waktu pertama kali membuat lagu dengan nada-nada pop.

Begitu pun dengan Jane sangat menyayangkan band pacarnya bubar gitu aja. Padahal Jane ini sangat senang ketika pacarnya sudah memiliki band tetap. Walopun harus merangkak dari awal sekalipun, Jane tadinya sudah siap menunggu dan mendampingi pacarnya selama berusaha jatuh bangun. Tentu kenyataan bahwa band pacarnya bubar cukup mengecewakannya. Namun akhirnya Jane dapat mengerti situasi yang Imman, Rini, Velli dan Aris hadapi. Walaupun mereka berempat merasa tidak jelas dengan situasi seperti apakah itu maksudnya…

           

            Selasa pagi jam 8, ketika tiba-tiba hp Velli kembali ber-Chuck Berry 'Johnny B. Goode' tetera, 'Balky'.

"Halo…"

"Yaah…", suara Velli agak parau.

"Vel, lo bisa ketemu ga hari ini juga, sory ngedadak…"

"Ummm…jam berapa?…bisa sih diusahain…"

"Ok, kalo bisa dateng ke Zip jam 11-an"

"Bisa,…bisa.."

"Lo ada contoh lagu ga? Demo?"

"Euh…? Kan The Feels udah…"

"Oh..ngga maksudnya lagu-lagu lo sendiri?…"

"Euh?…mmmm…aaada sih..tapi…masa…itu kan rekaman mentah, rekaman walkman bukan cd…"

"Cuma ada itu punya lo?"

"Iya…"

"Mmmm….ok gpp bawa aja sementara dan kalo bisa lo buat profile pribadi lo, bukan band lo kemaren…ok?"

"Hah..?"

"Ok, Vel??"

"Oo…oh…ok..yaya…siap, Ky…"

"Oke, tar siang ditunggu banget, Vel. Mau gue kenalin juga orang label dari London yang selama  ini join ama Zip. Orangnya lagi di sini, di Bandung…"

"Oh…dari mana?"

"Ya dari London! Akh!…haha…."

"…………………………………………oh…euh..yaya….hehe…tar gue kesana…"

"Ok, deh ditunggu ya…"

"Ok…"

"Yoo…"

"………………………………………………………………………………………."

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

4 Tahun kemudian………………..

            Velli kini menjadi seorang gitaris-vokalis yang terkenal terutama di kalangan musik indie. Dan sudah mengeluarkan full album. Velli selain dikontrak oleh label rekaman Balky yang kini jadi tunangannya, juga didistribusikan oleh label Inggris di London, Blind Lab Record. Di Indonesia selain mengatas namakan label Zip, pendistribusiaanya juga dibantu oleh Universal Record (major label). Kalo ingin membayangkan bagaiamana dia bermain jangan memikirkan penyanyi wanita yang sudah umum. Bayangkan SRV (Stevie Ray Vaughn), Albert Collins, atau at least John Meyer yang apik memainkan instrumen gitarnya.

Selain itu lagunya dipercaya untuk mengisi sebuah album soundtrack film nasioanl dengan mengemas ulang lagu-lagu di album pertamanya.

Suatu kejadian lucu ketika Dery dari pihak majalah indie hendak mewawancarainya dengan harus mengantri dengan majalah lain. Baru ketika Dery sms Velly, Dery baru bisa diperbolehkan wawancara duluan. Ini Velly lakukan untuk berterima kasih waktu Dery pernah membantunya manggung dengan dilengkapi fasilitas yang tidak seharusnya sudah didapat pada saat itu.

Aris, menjadi drummer tetap Rise 'n Shine, Hal ini membuat Velli dan Aris sering bertemu menjadi satu komunitas musik pada akhirnya. Rise 'n Shine pun pendistribusian album ke duanya sudah meluas karena dibantu juga oleh Universal Record. Dan pernah berada di satu album kompilasi soundtarck film nasioanl bersama Velli. Dan Aris kini mendapatkan kekasih seorang model, aktris pendatang baru yang ditemuinya ketika launching album soundtrack film.

Dengan begitu video klip Velly dan band Aris Rise 'n Shine sudah sering dapat dijumpai di televisi apalagi lagunya di radio.

            Rini, yang sudah kembali dari Oxford dan lulus kuliah di sana. Turut bergembira atas keberhasilan teman-temannya. Namun kini setelah 4 tahun kepegian Richi, akhirnya Rini dapat menemukan tambatan hatinya, dan sudah membuka hatinya kembali dan melewati masa-masa depresi sampai akhirnya dia bertemu dengan John Collin, pria asal Inggris yang berniat menikahinya. Dia bekerja di sebuah perusahaan advertising Inggris yang cukup berpengaruh. Sementara Rini mengelola usaha studio recording bersama calon suaminya itu, dengan banyak belajar ilmu recording dari orang Inggris yang dikenal suaminya.

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

            Imman, what happened with Imman? Dia bersama istrinya Jane mengelola usaha penerbitan buku indie. Berawal dari kesuksesan Jane membuat novel best seller debutannya yang diterbitkan oleh penerbit besar. Kesuksesan ini sudah membawa Jane pada buku ke-5. Dengan berbagai tema isi cerita di tiap novelnya. Tidak seperti novel pertamanya yang terinspirasi oleh band mantan pacarnya tersebut, The Feels A Fat. Selain itu Imman menjalankan internet marketing dengan sukses yang mulai dijalaninya sejak The Feels A Fat bubar. Kesuksesannya tersebut  membuatnya sering diundang di acara-acara seminar internet marketing.  Milly, anak cewenya yang baru berusia 1 tahun, selalu menemani ibunya (atau bahkan 'menganggu') ketika ibunya sedang menulis novel di rumahnya.

            Dery, bagaimana dengan Dery….Dery kini masih bekerja di sebuah majalah indie, namun dia pun menjadi marketing freelance majalah musik dengan skala nasional. Dan akhirnya Dery pun menjadi penyiar karena linknya yang cukup baik dan kepandaiannya dalam berkomunikasi. Kali ini dengan pacar yang baru, yang anehnya…adalah seorang musisi wanita, bisa bermain gitar walau tidak sebaik permainan gitar Velly. Namun dia pun adalah vokalis band indie yang mulai berkembang di Bandung. Hmm…berarti teori Velly yang dulu sudah tidak berlaku lagi, bahwa Dery hanya mau dengan cewek-cewek selain cantik, terkenal atau setidaknya membuat cowok lain iri karena posisi cewek tersebut. Nyatanya ceweknya yang sekarang tidak jauh berbeda dengan Velly yang dulu, dan umur ceweknya pun memang masih di bawah Velly sekira 3,5 tahun. Ah, tapi sudahlah. Kini Dery hanya masa lalu bagi Velly. Namun Velly tidak pernah membuang diary-diarynya. Hingga sekarang pun masih disimpan apik, bersambung dari buku ke buku.

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

10 Juni 2010

19.50

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Dear women,

Akhirnya…istirahat. Setelah tadi cape manggung selama 1 jam. Tadinya mau mandi dulu, tapi…ah tanggung. Lagian takutnya Balky keburu nelpon.

Duh,…jadi inget dulu…jam-jam segini kalo ga molor ngelamun haha…Sekarang syukur-syukur kalo masih bisa ngelamun. Yah…mungkin ini karena gue lagi padet aja kali, ya…ini kan tetep belum seberapa, baru awal pencapaian.

Gimana pun gue ngga pernah nyesel pernah ngelamin masa-masa ngga enak. Dan bagimanapun tetep banyak yang ngga lebih beruntung dari gue pada saat gue ngerasa ngga enak. Terbukti Rini…sekarang dia bisa hidup lebih sukses seiring berjalannya waktu. Terus…gue, hehe…

Yah, ga lupa gue selalu bersyukur sama Alloh. Seperti di lagu gue yang sekarang malah jadi soundtrack film haha…"Don't Hate What You Get"…

Dan dimanapun gue berada,mudah-mudahan gue ngga takabur. Karena semua ini cuma titipan, hanya sementara…Amin…

-->[if !supportFootnotes]-->

-->[endif]-->

-->[if !supportFootnotes]-->[1] -->[endif]--> Rundown = susunan acara pada sebuah event

September 11, 2007 - Tuesday 

                                    BAB 21

                     'GO, RINI…GO, GO, GO…'

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

            Akhirnya setelah Aris konfirmasi ke Wira sebagai personil Rise 'n Shine, Aris pun bertemu seperti apa yang dikatakan Wira waktu itu. Mereka bertemu di café oh lala di kawasan Bandung sekitar jam 7 malam  bersama 4 personil Rise 'n Shine lainnya.

"Wah, udah lama nunggu, nih ?", tanya Aris basa-basi walaupun dia datang tepat waktu.

"Ngga, kita dateng emang lebih cepet, koq. Duduk, Ris..", jawab Wira.

"Ini kenalin, gitarisnya nih dua ada Kilung sama Gea. Trus bassist Hendra. Gue vokal, Ris..hehe…"

"Ini, Ris album kita…eh lo mo pesen minum….kopi..kopi ?", ujar Wira

"Eh, makasih ga usah gpp…"

"Waa, jangan gitu dong…ga usah sungkan, additional masa….hehe…gpp kita traktir ya?", kali ini Gea bicara.

"Ahaha…euuh…boleh deh boleh…hehe.."

"Gitu, dong…pesen apa?"

"Ah, samain aja tuh…kopi ya?", tanya Aris sambil menunjuk ke cangkir di depan Wira.

"Iya capucinno, mo disamain?…"

"Boleh..", kata Aris nyengir plus mupeng.

"Ok, mas…pesen lagi..", ujar Wira sambil memanggil waiter.

"Itu album kita, lo ulik aja, Ris…nanti mungkin minggu depan kita latihan, sekitar 5 lagu aja dulu. Terserah lo yang mana…"

"Emm,…", kata Aris sambil manggut-manggut memperhatikan albumnya.

"Ok, deh gue ulik ini.", ujar Aris.

"Suka latian di mana ?", tanya Aris.

"Emm…kebetulaaan…kita ada studio sendiri di rumah Kilung. Yaah, studio pribadi kecil-kecilanlah…hehe…kalo untuk latihan cukup, sih…"

"Wah,…bagus tuh…hehe.."

"Kalo lo sama band lo suka latian di mana?", kali ini Hendra buka mulut.

"Di studio Parkir di buah batu."

"Oooh,…di situ.."

"Yah, masih ganti-ganti sih…", Aris melengkapi.

"Masih latian…sekarang?", tanya Wira.

Sementara waiter datang membawa pesanan capucinno Aris.

"Ummm…lagi ngga…kebetulan kan kemaren yang gue sms gitaris kita lagi kena musibah, trus…dia masih ngga stabillah…."

"Oh yaya…yang cewe itu, iya atuh, kasian, euy…yaah,…namanya 'panggilan' ngga bisa ketebak yah..", ujar Wira.

"Iya, heu…"

"Jago maennya ya…pada jago yang cewe-cewe di band lo hehe…gue kan liat waktu di CCF…"

"Ahaha….", Aris ketawa turut bangga dengernya

"Yang…vokalisnya…siapa namanya?", tanya Wira

"Velli…"

"Oh, Velli ya!…yaya…"

Sementara personil lainnya sibuk berdehem nyindir Wira.

"Apa sih kalian…hehe…udah punya cowo belum? Aaalllaah…norak gua haha…"

"Euuh…mulai!…penyakit Wira tuh, Ris.", ujar Gea. Aris Cuma cengar-cengir.

"Kan gue cowonya..", kata Aris asal sambil nnyengir puas.

Sesaat suasana hening 2 detik.

"Aaahaha…ngga deng becanda…haha…"

"Aah, sialan lo…boleh juga nih Aris becandanya haha…ampe muka gue ke-pause 2 detik ma die…hehe.." Yang lain ketawa ngakak medukung Aris.

"Haha…sory, men…jomblo koq dia…hehe.."

"O gitu?…ngga, kemaren liat maen gitarnya asyik…ck..wahh..hehe…ni cewe dari planet mana gue pikir hahaha….bolju…bolju haha.."

"Ok, Ris…jadi…kalo kita manggung lo pasti dapet fee…ok?.."

Aris mengangguk mantap (mantap kalo soal duit). "Seberapa persenannya tar gue obrolin dulu ama manager gue dan lu juga. Tapi manager gue lagi di Jakarta, baru balik minggu depan."

"Aaah….nyantei lagi, Wir…thx udah percayain gue nih…hehe.."

"Weeh, sama-sama, men…kita-sama-sama berjuanglah di musik hee.."

                                                            ~

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Malam hari di hari yang sama ketika Aris bertemu dengan personil Rise 'n Shine, Velli sedang ngecek myspace di komputer rumahnya. Malam itu Bandung kembali diguyur hujan, Velli pun seperti biasa, kalo hujan-hujan begini kalo ngga makan mie instan, ya ngopi instan.

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

New Friend Request!

New Messages!

Klik 'New Messages'

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Rise 'n Shine

Su : Hi…

Hi, bro…thx for join with us…kapan-kapan manggung bareng aja, hehe…biar si Aris tepar haha…vokalisnya cute juga ;p hehe…met kenal…

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Klik 'Reply'

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Su : RE:Hi…

Hi juga! Gue Velli yang sekarang lagi cek myspace hehe…iya kapan dong kita manggung bareng…biar si Aris tepar hahaha…:D

Salam kenal juga dari gue, thx…  :)

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Klik 'Sent'

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Tiba-tiba hp Velli bergetar dan menyala dan bertuliskan '1 New Message' (Hp sama komputer sama aja hehe…).

"Vel, lo lagi ol ya? Gue ga bisa bk myspace-nya. Udahan dong. Gue jg mo liat hehe… ;p  ngga deng nyantei aja…

From: Imman.

Reply…

"Hehe…iya gue lg cek myspace. Tar yah..gue mo ngeceng dulu di myspace, jadi agak lama haha…ngga deng… ;p'

Send

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Velli pun mengecek message berikutnya di myspace.

RLB RADIO

Su : RE:RE:Hi!

Hi, guys…we've been receive your songs and profile. Thx anyway…

And also I've been palying your songs on my radio playlist…

See you, enjoy your weekend…

-Oscar-

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Velli tersenyum riang membacanya…

Reply

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Su: RE:RE:Hi!

Hi too, well, thx for playing our songs!…that's awesome! ;)

Hope u like it and hope Italian listeners was likes to our songs out there…

Thx, oscar.. ;D

Send

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Hp Rini menyala lagi dan bergetar. '1 New Message'…

"Guys, bisa ngga lusa briefing…ada yang mau gue obrolin. Serius nih…lusa di rumah gue gpp? Terserah mau jam berapa gue ada di rumah terus koq. Thx…"

From: Rini.

Reply

"Ya, Rin gue bisa lusa…ada apa sih?…lo gpp kan?…ok kita obrolin ntar.."

Send

                                                            ~

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Sore sekitar jam 4 The Feel A Fat ngumpul di rumah Rini seperti yang Rini minta

Rini pun menyuguhi mereka teh manis hangat dan keripik singkong. Mereka berkumpul di ruang tamu.

"Rin, lo udah siap mo obrolin soal nama band kita?", tanya Aris tiba-tiba.

Rini pun terdiam, menunduk, seperti sulit mengungkapkan maksud tujuannya.

"Umm, bukan, Ris bukan soal itu…"

"Trus?", tanya Aris ngga sabar sambil melahap keripik singkongnya. Velli menyenggol lengan Aris untuk menahan nada bicaranya agar tidak membuat Rini tergesa-gesa atau terpaksa. Semua siap mendengarkan.

"Yaah,…sebelumnya sory banget, gara-gara gue lagi ngga stabil,….urusan band kita jadi ketunda-tunda…"

"Aduuuh, Rin itu mah ngga usah dipikirin, yang penting kan kondisi lu. Ini kan bukan hal biasa, Rin. Kita memaklumi banget, koq…", ujar Imman.

"Iyaa..", tambah Velli setuju juga Imman yang mengangguk-anggukan kepalanya.

"Yaah, makasih juga…atas pengertiannya…semuanya…udah baek ma gue. Dan…sebenernya gue mo ngasih kabar….yang mungkin kurang bagus dan terdengar egois…maaf sebelumnya nih…", kata Rini pelan sambil menunduk.

Sesaat suasana tiba-tiba hening. Velli pun berusaha menguatkan Rini sambil merangkul pundak Rini.

"Dah siap ngomong, Rin?…santei aja…kita ngga akan ngejudge lu apa-apa…apalagi dalam kondisi lu yang kaya gini…"

Terlihat Rini agak berkaca-kaca dan mencoba mengatur nafas untuk menenangkan diri agar bisa mengeluarkan isi hatinya.

"Mmmm…gini….gue ama mama dan papa, udah bicarain masalah ini. Kondisi gue rapuh banget kalian juga tau itu. Ngga perlu gue jelasin segimana gue kangennya ama Richi dan tiba-tiba kaya gini…", ujar Rini bergetar.

Velli mengusap-usap pundak Rini sambil mengangguk-ngangguk.

"Gue…gue mau rencana….ke luar negeri tinggal ama sepupu gue…."

Semuanya terdiam…hening…

Velli tampak berkaca-kaca lalu inisiatif mengambil tisu yang terletak di meja.

"Gue…terus terang gue rapuh seperti gue bilang tadi. Dan papa nyaranin gue untuk pindah ke luar, ke Oxford."

"Wah, Inggris!", tiba-tiba Aris nyeletuk dan Imman pun menyenggol lengan Aris untuk jaga mulut.

Rini mengangguk pelan. "Gue tau ini berat bahkan buat gue juga. Cuma…yaah…mungkin gue juga ngga selamanya di sana. Mungkin kalo gue dah baekan…mungkin balik lagi atau gimana. Tapi rencana…gue juga mau kuliah di Oxford bareng sepupu gue."

"Soo…", Rini melanjutkan pembicaraannya.

"Maaf banget…yaah…kayanya gue….re-sign dulu…dari band….", ujar Rini pelan sambil matanya berkaca-kaca.

Semuanya terdiam. "Maaf banget…gue ngerepotin kalian…", katanya semakin menjadi-jadi ingin menangis. Velli insiatif mengambilkan tisu untuk Rini.

"Huuuffhh…", Imman menghela nafas panjang. Imman pun sempat terhenti kunyahan keripik singkongnya

"Mmmm...Rin,…gpp…gue ngertiin banget koq dan yang laen juga gitu, ya, Vel, Ris?", tanya Imman ke yang laen.

Aris dan Velli mengangguk setuju. Velli menggangguk sambil menghapus air mata.

"Iya,…lu tenangin diri aja…kalo emang itu bisa bikin lo jadi lebih baik, gue dukung aja, Rin…", kata Velli pelan.

"Yah,…gue juga..", kata Aris sambil agak mendekati dan mengusap-usap lengan Rini.

"Gue bakal doain Richi dari sana…", ujar Rini pelan sekali untuk menahan air matanya.

"Yah…kita juga di sini bakal doain, Rin…", ujar Imman.

"Vel,…gue boleh minta tolong sama lu..?", ujar Rini pelan.

"Pasti, Rin…semampu gue, gue tolong…kenapa?"

"Gue…minta lu hari ini nginep bisa? Lu bisa pake baju gue dulu sementara…"

"Oh, ok, Rin….boleh…tar gue bilang ama nyokap gue dulu. Tapi pasti dibolehin koq…Nyantei aja…"

"Thx…"

"No problem..", ujar Velli sambil tersenyum meyakini.

"Rin…kapan lu rencana berangkat?", tanya Imman.

"Rencana…hari…Selasa, minggu depan…"

"Wah,…cepet juga yah…", kata Aris.

"Ok, lu berangkat dari mana? Jakarta?", Imman nanya. Rini pun mengangguk.

"Berarti dari Soekarno-Hatta ya…tar kita ikut nganter deh ke bandaranya, gimana…"

"Wah…thx…hmm em..", kata Rini mengangguk berulang-ulang.

"Lu ke sananya ama siapa?", tanya Velli.

"Ama papa...tapi ntar dia langsung pulang lagi dari Oxford.."

                                                            ~

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Esok harinya, Velli, Imman dan Aris kembali berkumpul walau tanpa Rini. Bukan berarti karena Rini sudah tidak dianggap personil, namun situasinya jua melihat kondisi Rini sekarang. Mereka kumpul di rumah Velli, hujan gerimis saat itu, mereka siap dengan secangkir kopi instan.

"Man, gue… ntar ada manggung sama Rise 'n Shine, dan itu tur mereka. Baru dikasih tau tadi sih, kirain bukan untuk tur."

"Ooh,…salamin dong ke fans-fans cewek hehe…", ujar Imman iseng.

"Hei….", Velli berseru.

"Gimana, nih….kayanya….kondisi band kita…agak…gimana gitu…"

"Yaah,….gue juga jujur…koq…gimana ya…bukannya males sih, tapi….sejak Rini re-sign…ga tau kenapa…duh, gimana ya…"

"Ya gue ngerti..", terang Velli.

"Yaah, gue juga ngga nyangka dengan keputusan Rini itu,…Cuma yaa…demi kondisi dia juga, sih…", lanjut Aris.

"Hmmmh….", Velli menghela nafas bingung.

"Ummm…gue jadi ngerasa stuck, kaya buntu nih…hhffhh..", Imman menambahkan.

"Yaah…gue juga…", lanjut Velli.

"Gimana kalo….kita break dulu, deh…", Imman menyarankan

"Maksudnya?..", tanya Velli ngga yakin.

"Yah, …sekedar break dulu, mungkin cari inspirasi ato refreshing hal-hal di luar band kita. Lagian kan Aris juga ada tur.."

"Wah!, men…gue sih gpp bisa ngatur waktu…ngga enak, nih…", potong Aris.

"Ngga…bukaan gituu…gue ngga nyalahin lo, bukan gara-gara lo…sekarang keadaan kita emang lagi aneh…"

Aris termenung diam sambil menunduk merasa ngga enak namun dia juga menyadari bandnya sedang aneh.

"Jadi…kita break dulu nih..?" sampe kapan?", tanya Velli.

"Yaah, gue juga ngga tau…", ujar Imman sambil angkat bahu.

"Eh, tapi terserah sih…kalian gimana??", kata  Imman.

"Gue gpp,…setuju…yah, gue juga…lagi bingung…sejak Rini keluar…"

"Sama, Man…", lanjut Aris.

Velli, Imman dan Aris hanya tertegun diam….

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Selasa siang di bandara Soekarno-Hatta…

Aris dan Imman tampak membantu membawa koper-koper yang dibawa Velli dan ayahnya. Selama menunggu jadwal penerbangan yaitu jam 14.00 WIB, dan sebelum Rini dan ayahnya sampai di ruang tunggu penumpang, Mereka banyak berbicara namun tampak terlihat lebih caria kali ini, seperti hendak melepas kerinduan yang akan datang di kemudian hari.

"Oya, Vel ampir lupa. Ini CD Taj Mahal…."

"Oh iya…eh,…tapi…ga usah deh…buat lo aja gpp, kenang-kenangan dari gue…", ujar Velli sambil tersenyum.

"Wah? Yang bener lo?…", tanya Rini ngga yakin.

"Benneeer…", jawab Velli dengan lembut.

"Rin, ati-ati lo di sana, baek-baek ya…", ujar Velli.

"Iya, sip…lo juga…jangan kesepian hehe…Man, Ris jagain nih Velli…"

"Iya, siap…Rin, Velli nitip katanya…"

"Apaan??", tanya Velli heran karena ngga ngerasa pernah nitip apapun

"Itu,…cowo Inggris hehe…"

"Euuh…naon, sih..?! hehe…", seru Velli.

"Wah, keren dong lu, Rin ke Inggris…surga musik hehe…"

Rini hanya tersenyum, "Yaah…doain aja kalo ada something, gue bakal bantu kalian dari sana.". Velli, Aris dan Imman pun tertegun sejenak merasa ngga enak bahwa mereka sedang break dulu, namun tidak diungkapkan ke Rini takut akan mengecewakannya.

Ngga kerasa akhirnya udah jam 13.40. Velli dan ayahnya pun berpamitan untuk berangkat. Mereka saling berpelukan satu sama lain dengan Rini dan bersalaman dengan ayahnya Rini.

"Thx…banget yah, udah mau nganter gue ke sini..", ujar Rini

"Nganter ke Inggris juga gue mau, Rin hehe…", ujar Aris asal.

"Ahaha…", kali ini Rini tampak ceria.

"Yah, makasih yaah semua udah pada nganterin kita ke bandara, sory nih, Rini nya mau refreshing dulu eheuh…heu…", ujar ayahnya Rini

"Oh gpp koq, om…kita sih seneng aja nganter Rini, ya?..", ujar Imman sambil melihat ke arah Velli dan Aris.

'Hee…iya, om..", jawab Velli didukung oleh anggukan dari Aris.

September 11, 2007 - Tuesday 

                                                BAB 20

                                       TRAGEDI KEDUA

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

               The Feels A Fat sedang mengalami kebingungan, bukan kehancuran, namun kebingungan. Benar kata Velli, hal seperti ini jangan dilama-lamain. Tapi sampai hari Sabtu ini mereka masih belum menemukan jalan keluarnya. Mereka masih berada di opini masing-masing, belum bersatu. Imman dan Rini masih tetap dengan idealismenya. Aris dan Velli masih tetap dengan ambisinya, terlepas dari seberapa besar ambisi masing-masing seluruh personil. Namun latihan band tetap berjalan, tapi kali ini mereka booking studio tidak dengan nama band, tapi dengan nama si pembooking. Untuk minggu ini Velli-lah yang bertugas membooking studio..

Rini untuk sementara bisa melepas rasa kesemrawutannya dengan membayangkan pacarnya, Richi akan datang esok hari.

               Aris yang sedang merawat snare-nya siang itu di kamarnya, tiba-tiba ditelpon oleh seorang pemain band indie, Wira, dari band yang sudah lumayan dikenal di Bandung beraliran Indie Pop, Rise 'n Shine.

"Halo..?", sapa Aris.

"Ya, halo…ini dengan..Aris..?"

"Ya betul…"

"Euh…ini dengan Wira."

"Wira..?.."

"Iya, gue dari band Rise 'n Shine.."

"Oh,…ok…?", seru Aris merasa sudah tidak asing lagi dengan nama band tersebut.

"Gini, Aris…gue dapet no. lu dari Dery. Dari contact person di demo band lo."

"Oh..yaya…ada apa?"

"Gini,…kebetulan kita lagi butuh drummer nih, yang kemaren kan, Sandy udah re-sign dari kita. Trus kita butuh drummer baru. Dan gue liat band lo kemaren maen, gue pikir ya…lo maennya asyik, kayanya cocok, walopun kita beda musik ya…hehe.."

"Hehe..iya…"

"Yah, tapi kan ga masalah buat kita. Kalo lu jadi additional di kita gimana?. Soalnya kita mau banyak manggung setelah launching album kemaren kan.."

"Oh ya tau gue pas launching."

"Oh tau..?..dateng?"

"Eu…ngga juga ahaha…"

"Oooh, ya gpp…yaah..gitu, Ris. Gimana? Kalo lo berminat tar gue hubungi lo lagi kira-kira kapan? Lusa bisa ga? Soalnya kita butuh cepet, lho. Kalo jadi kan lo mesti ngulik dulu."

"Oh,…lusa ya…ok tar gue kabarin deh…"

"Oh ga usah gue aja yang nanti telepon, gimana?"

"Oh ok, deh…ok nanti kalo misal lu setuju pastinya kita langsung ketemu untuk bicarain planning dan fee segala macemnya…"

"Oh,ok…sip…"

"Ok, gitu aja ya, Ris. Thank you ya…"

"Wah, sama-sama nih, makasih udah percayain gue hehe.."

"Wah, nyantei, jack…hehe.."

"Ok?..sip..gitu aja ya.."

"Ok, sip-sip…"

"Yoo.."

"Ya.."

Sejenak Aris merenung. 'Wah, jadi additional Rise 'n Shine….band lagi tenar-tenarnya gitu…gimana yah…', batinnya. Aris tentu menginginkan tawaran itu, toh dia hanya jadi additional. Lagian ini baik buat membuka link. Wah, mimpi apa gue semalem. Tumben band indie gitu masih cari additional ke orang yang ngga dia kenal…hehe….,batinnya lagi. Aris pun langsung menghubungi teman-teman di bandnya untuk membahas hal ini. Sekedar minta doa restu barangkali.

                              ~

"Iya…gitu..", kata Aris setelah menjelaskan maksud briefingnya.

"Mmhh…masalah kita aja belum selesai, Ris hehe…tapi gpp, nyantei aja. Itu kan hak lo…", kata Imman.

"Mmm…beneran, nih Man?…"

'Ya eelaah….gpplah…hehe…rileks aja…kan hak lu. Lagian lu jadi bisa nambah link ke kita hehe.."

"Iya,…nyantei aja, Ris…dukung aja koq gue hehe..", ucap Velli.

"Iya  gue juga…jalanin aja…", ujar Rini.

"Hmmm…thx ya…hehe..semuanya…", kata Aris senang walo ngerasa ngga enak.

"Sama-samaaa…", kata Rini, Velli dan Imman hampir berbarengan.

"Trus…tentang…nama band kita gimana..?"

Semuanya terdiam…Velli pun hanya tertunduk, seperti yang trauma, tapi bukan trauma.

Dan akhirnya Imman menegaskan, "Udah deh besok aja dibahasnya soal ini. Kayanya belum pada tau solusinya. Jangan dipaksain sekarang. Lagian kan kita ketemu bukan mau ngobrolin ini tadinya."

Velli terlihat agak lega mendengarnya. Velli tampak belum siap untuk menanggung hal-hal yang membuatnya tidak enak, setelah kejadian mengenai Dery.

Briefing pun hanya sampai di situ. Sampai akhirnya mereka berniat refreshing untuk melepas rasa penat dengan ngopi di warung tenda dekat kosan Imman. Selama mereka ngopi merekal lebih membahas hal-hal di luar yang justru sedang jadi masalah mereka. Mereka lebih membahas mengenai lagu, myspace, manggung dan lain-lain.

"Eh besok Richi dateng", jelas Rini sumringah ke Velli.

"Oya?…asyik dong? Hehe…"

"Cariin cowok dong…hehe..", tiba-tiba jelas Velli disambung-sambungin.

"Haha…cariin cowo…gampang lo mah, Vel…"

"Gampang dari Hongkong!..saking gampangnya gue masih kesepian ya…hehe…"

Imman yang  mendengar ini, melirik ke arah Velli sekilas kemudian melanjutkan ngobrolnya dengan Aris mengenai band-band jebolan NME -->[if !supportFootnotes]-->[1] -->[endif]-->.

                              ~

Di hari Minggu pagi yang cerah, sekitar jam 9. Tidak seperti biasanya Velli sudah bangun sejak jam 6. Velli tidak bisa tidur lagi seperti hari Minggu biasanya. Entah kenapa Velli merasa punya feeling ngga enak. Velli takut terjadi hal yang tidak mengenakan di bandnya atau keluarganya. Apalagi di bandnya ini sedang dilanda masalah. Velli berniat nelpon temen-temen bandnya, tapi dia yakin masih pada tidur. Namun Velli mencoba ngetes dengan me-miskol satu persatu berharap ada yang merespon. Tetapi sudah setengah jam kemudian tidak ada yang merespon, Velli pun semakin yakin bahwa mereka masih tidur. Sebenarnya masih ada rasa ngantuk, tapi entah kenapa perutnya mulas, deg-degan seperti ngga enak feeling. Velli menengok mamanya, didapati mamanya sedang membuat roti bakar. Velli pun memutuskan untuk diam di meja makan sekedar untuk menjaga manaya kalo-kalo terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"Mau roti, Vel..?"

"Mmm..boleh deh, mah. Tapi Velli buat sendiri aja, gpp…"

"Koq kaya gelisah gitu kamu? Ada apa?"

"Mmm..ga da apa pa , ma…Cuma…ngga enak feeling gitu.."

"Lho, kenapa ?"

"Ngga tau…mudah-mudahan sih ga da apa.."

"Yaah,…mudah-mudahan aja ya…kamu banyak berdoa aja kalo lagi gitu biar lebih tenang..", sahut mamanya sambil tersenyum. Velli pun membalas senyumannya dengan manis untuk menenangkan mamanya juga.

Tak terasa sudah siang sekitar jam 12, Velli pun hampir lupa dengan feeling ngga enaknya itu. Saat itu dia sedang melatih gitar penjarian tangan kirinya sambil menghafal beberapa tangga nada.

Sementara Rini di rumahnya tengah menonton DVD The Pianist yang dipinjam dari Velli bersama ibunya yang juga memang sama-sama gemar nonton film.

Tiba-tiba hp Rini ber-Arctic Moonkeys 'Dancing Shoes Demo'

Tertera di situ Om Dudy (a.k.a Ayah  Richi)

"Haloo…Riiin..?"

"Ya, om..?", Tanya Rini keheranan koq ayahnya segala yang nelepon Rini kali ini.

"Anu,…Rin…Richi..eu.."

"Ya?…kenapa,om?", tanya Rini ga sabar.

"Dia kecelakaan, Rini…"

"……………", Rini speechless -->[if !supportFootnotes]-->[2] -->[endif]-->

"Rin,…dia kecelakaan udah deket Bandung…di tol Padalarang,", suara Ayah Richi terdengar berat dan kaku.

"…………….", yang berbicara hanya air mata Rini.

"Trus….gm..gimana, om?", yanya Rini mulai menangis.

"Kondisinya cukup parah…meningan kamu cepet ke sini ke Borromeus…nanti om sms kamarnya, dia masih di UGD…"

"Iya, om…Ri..Rini ke sana sekarang..hk…", Rini tidak kuat menahan sedih.

"Mamaaaa…..Richi, maaah…", Rini menangis sedikit histeris.

Mamanya yang sedari tadi menyadari inti dari pembicaraan Rini di telepon sudah siap stand by di sampingnya. Dan langsung memeluk Rini sambil menangis.

"Sabar, sayang…kita ke sana sekarang mama temenin yuk.."

Tanpa pikir panjang, Rini hanya ganti jadi celana panjang dan menggunakan jaket. Mamanya segera bergegas memakai kerudung, mereka berangkat menggunakan mobil pribadi, Suzuki Esteem hijau.

Rini dan mamanya segera bergegas setengah berlari mencari Ruang UGD, tak lama kemudian tampak keluarga Richi yang memang berada di Bandung.

"Tante…," ucap Rini lirih…mau nangis.

"Riiin,…", Mamanya Richi  sudah bengkak matanya sambil dirangkul oleh suaminya dan kakaknya Richi.

Rini dan mamanya pun segera bergegas menghampiri keluarga Richi. Seketika Rini melihat Richi dari kaca yang berada di pintu ruang UGD.

Terlihat Richi lemah tidak bergerak, tubuhnya dipenuhi alat-alat medik lengkap dengan masker oksigen. Dengan beberapa balutan di kepala dan tangan serta kaki. Terlihat dokter dan dua beberapa suster sedang mengatasi Richi. Rini langsung lemas tidak berdaya dan hampir pingsan. Dengan sergap ibunya Rini serta Ayah Richi menahan badan Rini agar tidak terbentur jatuh. Namun Rini tidak benar-benar pingsan, hanya shock, namun kondisi tubuh Rini pun melemah. Air mata bercucuran deras dari mata Rini dibarengi dengan tangisan dari ibunya Richi.

Ibunya Rini menenangkan anaknya dengan memberi minum aqua gelas yang disodorkan oleh kakaknya Richi.

"Sabar, sayang…berdoa…tar mama telpon papa dulu,…"

Ibunya mengabari ayah Rini yang sedang olahraga golf rutin tiap minggu bahwa cowok kesayangan anaknya itu sedang kritis.

Rini terus menangis sambil diikuti doa ditemani ibunya.

Setengah jam kemudian, ayah Rini bergegas menghampiri anak dan istrinya dan bersalaman dengan kerabat Richi. Keluarga Richi dan Rini sudah saling mengenali satu sama lain terlebih karena sudah adanya rencana pertunangan antara mereka berdua. Ayah Richi tampak sedang mendengarkan kronologis kecelakaan ini pada ayah Rini. Rini sendiri belum mengetahui kronologisnya, karena belum sempat bertanya, Rini sudah keburu shock menghadapi kejadian ini.

Beberapa menit kemudian tampak beberapa teman Richi dan juga datang Velli, Imman dan Aris yang mendapat kabar dari ibunya Rini. Velli langsung menghampiri Rini dan memeluk Rini, tangis Rini semakin menjadi. Hal yang biasanya Rini yang selalu menenagkan Velli yang sering rapuh, kali ini Velli yang menenangkan teman baiknya itu.

Aris dan Imman setelah melihat kondisi Richi dari kaca pintu, mereka berdiri bersandar pada tembok sambil tertunduk.

Setelah menunggu sekitar 2 jam, dokter pun keluar dari ruang UGD, adegannya persis seperti di film-film. Rini tidak sanggup menghampiri dokter, hanya Ayah Rini dan Ayah Richi lah yang mendekati dokter.

"Hmmhh….maaf…", dokter tidak berkata banyak. Ibu Rini lagsung menjerit histeris diikuti dengan jeritan Rini. Ayah Rini pun tak kuasa menahan air mata. Rini tidak kuat menahan beban mental dan fisiknya sehingga seketika itu juga Rini pingsan. Imman dan Aris langsung reflek menopang tubuh Velli. Ayah Rini langsung memanggil suster. Rini pun dibawa ke ruang perawatan. Beberapa teman Richi yang tampak hadir terlihat menangis.

                              ~

Dua Minggu kemudian….

Pagi sekitar jam 8, Velli minum teh di beranda teras depan rumahnya sambil membuka-buka halaman koran. Sambil sesekali merenung, mengingat kejadian waktu ngga enak feeling yang (mungkin) ternyata hubungannya mengenai meninggalnya cowo Rini. Semua personil The Feels A Fat tidak ada yang bisa manyangka atas kepergian Richi. Velli, Aris dan Imman sangat berempati terhadap Rini, terutama mungkin Velli, sesama wanita, sesama gitaris, sesama umur, teman seperjuangannya.

Sementara kondisi Rini masih sangat rapuh, walaupun secara fisik sehat. Dia belum mau pergi kuliah, dan temen-temannya di The Feels A Fat pun belum berani mengajaknya latihan, tetapi mereka tetap briefing sekedar untuk menjenguk Rini. Otomatis masalah tentang nama band lagi-lagi ditunda. Velli pun sudah melakukan konfirmasi kepada Balky mengenai hal yang sedang Rini hadapi dan meminta agar memakluminya. Untung saja Balky dengan mudah mengerti keadaan mereka.

Suatu saat Velli mengunjungi Rini sendirian. Ketika dijumpainya Rini di kamarnya. Rini tampak lesu seperti sedang sakit, padahal kesehatannya baik-baik saja untungnya.

"Rin,…gue punya CD baru….Taj Mahal!…gue beli dari internet…", ujar Velli mencoba menghibur Rini.

"…..", Rini berusaha tersenyum tulus.

"Berapa lo beli, Vel..?", Tanya Rini pelan dengan suara agak mindeng karena sering nangis.

"Dua ratus ribuan…gue liat-liat…wah ada Taj Mahal, langsung aja pesen hehe…"

"Lu mau dengerin ga…?, gue udah koq…gpp, di lo aja dulu cd nya.."

"Beneran?…"

"Bener, dong…hehe.."

"Hee…thx yaah,…", jawab Rini lembut agak lemes.

Velli duduk di tempat tidur Rini, sambil menatap kawannya itu. Rini pun hanya tertunduk. Kemudian Velli tersenyum tulus mencoba menghibur Rini.

"Vel, soal band kita…"

"Sssh…udah jangan dipikirin dulu. Lo tenangin diri dulu. Kita gpp koq…"

Rini pun hanya menunduk.

"Heuuh,…ngga tau, Vel…gue…akhir-akhir ini…jatoh banget…kaya ngga stabil. Masih untung gue sehat….", mata Rini berkaca-kaca.

"Iyaah,…gue ngerti, Rin…pasti kaya gitu…gue juga pasti gitu kalo jadi lo.."

"Vel, bayangin gue kalo ziarah aja ke makamnya…", kalimat Rini terpotong oleh tangisannya.

"…Ka..kalo…gue ke makamnya aja gue ngga kuat, Veeel…heuk..", ujar Rini sambil terisak. Velli insiatif memeluknya sambil mengusap punggung Rini.

"Gue ngerti…gue ngerti, Rin…", ucap Velli sambil berkaca-kaca sambil manggut-manggut.

"Lo tau kan…gue lagi kangen ama dia…jarak jauh…trus…kaya giniii….heuk.."

"Iyaah…..gue ngerti banget, Rin…", ujar Velli lembut.

"Rin, minum dulu deh,….", kata Velli sambil mengambil gelas transparan yang ada di meja samping tempat tidur Rini. Rini meminumnya sambil sesenggukan.

"Gue…gue belum percaya, Vel…...tulisan di kayu nisannya…..Richi…", suara Rini semakin mengecil karena menangis.

Kali ini Velli tak kuat lagi menahan air matanya. Sesaat suasana hening…

Hanya tangisan mereka berdua yang terdengar.

"Ok,…Rin…mungkin….gue gampang bilangnya. Tapi…bener, Rin…lo sabar ya, inget Alloh, jangan lupa berdoa, biar lo tenang…", ujar Velli sambil berusaha tersenyum di sela tangisannya.

Rini mengangguk pasrah….

"Vel…."

"Yaah…"

"Sekarang…gue kesepian sama kaya lo…", ujar Rini tersenyum di tengah tangisannya.

"Sssh…kata siapa…gue becanda koq waktu itu. Lo ngga kesepian…ada gue…", kata Velli dengan tersenyum lembut.

"Berarti lo ga kesepian, Vel…?",  ujar Rini mulai mencair sambil menghapus air mata.

"Emm…ngga juga sih masih hehe…", tawa Velli walau pipi masih dibasahi air mata…Mereka pun tertawa kecil seolah ingin melupakan sejenak perasaan berduka.

Velli pun inisiatif menyetel cd Taj Mahal di tape-nya Rini untuk lebih mencairkan suasana.

-->[if !supportEmptyParas]-->
-->[endif]-->

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->


-->[endif]-->

-->[if !supportFootnotes]-->[1] -->[endif]--> NME = New Musical Express, majalah musik Inggris.

September 11, 2007 - Tuesday 

                                                        BAB 19

                                                      WADUH ….

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

        Di hari Minggu pagi yang cerah, sekitar jam 10, Velli masih tidur di kamarnya, menelungkup, posisi tidur malas-malasan. Ditambah kemaren abis manggung kecapean jadinya gitu tu. Tiba-tiba hp Velli ber-Chuck Berry 'Johnny B Goode'

'Gooo…johnny go…go..go". Harusnya kalo lagi gini ringtonenya System Of A Down yang "Wake up!…bla5x…wake up!" . Tapi lagu Chuck Berry ini juga intro gitarnya cukup membangunkan Velli koq, walaupun dari intro langsung ke reff. Velli dengan malas meraih hp di meja samping tempat tidurnya tanpa melihat hpnya. Menekan tombol 'angkat' tanpa melihat tombolnya juga. "Yaah,…haloo…", katanya dengan suara masih parau.

"Euh,…halo? Dengan Velli ini?", kata suara cowo di sebrang sana.

"Iyyaa…betul…"

"Ini Balky dari Zip…kemaren Dery udah nyampein ?"

"Heuh ?…oh iya..iya!..udah, Balky ya? Iya gimana ? Ada apa ?", tanya Velli kali ini arwahnya sudah ngumpul dengan semangat sambil membalikan posisi badan yang tadinya telungkup.

"Ngga,…ini…gue bisa ketemu ngga ama band lo?…ada yang mau diobrolin nih.."

"Umm,…bisa…bisa, kapan, mas?", tanya Velli yang sebenarnya tadinya mau nanya tentang apa, tapi ah ga perlu pikirnya nanti aja enaknya.

"Kapan ya…besok juga gue bisa aja sih, gimana?", tanya Balky.

"Besok yaa…ok nanti saya kasih tau yang lain dulu, mas. Nanti saya kabarin mas lagi, deh…"

"Ok, thank you ya, Vel..eh kalo bisa bawa demo aja sama profile ya.."

"Ok, siap, sama-sama hehe.."

"Ok, gitu aja deh ya, yoo…"

"Yoo..", Velli membalas.

Velli dengan masih bersandar dengan bertumpu pada sikut lengan kanannya, termenung sejenak. Mau tidur lagi…udah ngga ngantuk, Velli pun bergegas ke kamar mandi untuk gosok gigi, basuh muka lalu membuat teh manis hangat sambil baca koran.

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Sehabis puas baca-baca Koran dan minum secangkir teh manis, Velli kembali ke kamarnya, kali ini dia mengeluarkan diary-nya.

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Sunday, 16 April 2006

11.00

Dear You,

Weeeh,…giiila kemaren puas banget manggung. Yaah, lumayanlah…hehe…

Berasa jadi ratu sehari hihi…Lagu baru gue dibawain juga. Untung aja pas ada tawaran manggung itu gue lagi bikin lagu, kalo ngga…ga cukup kita bawain lagu yang udah ada hehe…

Respon penonton kali ini bagus banget, mungkin karena jumlahnya lebih banyak dan lebih luas dari yang manggung sebelumnya. Dan kali ini kita dianter jemput, ngga kaya jelangkung lagi hehe…

Dan mudah-mudahan cowok yang bernama Balky dari label Zip itu, yang barusan nelpon gue bakal mengajak suatu kerja sama yang menyenangkan. You know  what I mean. Setidaknya moga-moga membawa perubahan yang lebih baik buat The Feels A Fat, kemajuan tepatnya. Amiin…Secara gitu, lho label Zip! labelnya band-band indie yang udah tenar.

Hmmmh…si Dery…aduh…gue trauma juga nih nulis dia di diary. Takut kejadian lagi. Pingsan sia-sia gue. Tapi gue mesti nulis dimana lagi? Masa di tembok?

Hmmm…yah, kemaren…gue udah seneng…eu…maksud gue…yaah mendinglah kalo ternyata ceweknya ngga ikut. Kan gue jadi ngga kepikiran. Mana gue juga takut kalo-kalo Dery cerita soal Tragedi Diary itu ke ceweknya. Jangan-jangan gue jadi bahan tertawaan. Kirain ngga ikut, eeeh…pas gue pulang, cepret…cepret… foto bedua sambil rangkulan. Ya hak mereka sih, siapa gue?! Cuman tadinya bagi gue udah perfect suasananya. Eh, tiba-tiba ternyata ada ceweknya. Untung aja munculnya pas gue bener-bener mo pulang. Biarinlah, setidaknya ceweknya liat gue manggung hihihi…mo apa lo ? ngetawain gue? Eeeuuh…

Duh…nulis apa lagi yaa…

Haha…pas di panggung gue berasa power puff girl, tapi pas di luar panggung mo pulang gue…kaya…kaya siapa ya…looser!! Udahlah ambil hikmahnya aja dari semua ini. Aduh, sok sabar gini gue, padahal hati udah…ah udahlah tar nangis lagi, tar diarynya kena air mata, geuleuh…kaya di film2…Ih! Ngga, yey ?!…

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Senin, 17 April 2006 (pk. 14.11)

Rini, Velli, Aris dan Imman tengah berada di ruang tengah di sebuah rumah yang dirangkap menjadi label record indie bernama Zip itu. Suasana ruangannya menyenangkan, nyaman, walau ngga terlalu rapih. Dengan cat dinding warna kuning ditempeli poster-poster dari band-band indie di Zip record serta band-band luar kaya The Strokes, Arctic Monkeys, Suede, Oasis, The Beatles dan Roling Stones. Banyakan poster-poster tersebut keluaran import (atau hecker?). Ada Tv berukuran 14 inci plus DVD player dan PS2 dibawahnya. Tampak beberapa CD berserakan. Ngga lama kemudian muncul Balky kali ini dia menggunakan kemeja putih dengan celana jins bootcut dengan gaya rambut seperti bangung tidur.

"Hallo…halo…apa kabar?…", sambut Balky dengan ramah dan tampak low profile.

Mereka saling bersalaman sambil memperkenalkan diri.

"Wah sory nih agak berantakan haha…bekas anak-anak kemaren pada begadang, tapi akhirnya pada balik gitu aja haha…."

Rini, Velli, Aris dan Imman tersenyum malu-malu.

"Sepi ya?", tanya Imman basa-basi…

"Iya itu tadi kemaren abis begadang langsung pada cabut, bisanya justru agak soreanlah rame sekitar jam 4an…"

"Ooh..", seru Imman sambil manggut-manggut serius.

Sejenak suasana hening seketika.

"Sok…gimana nih…hehe…pada diem deh…", timpal Balky pintar mencairkan suasana.

Mereka berempat cuma tersenyum aja walo dalam hatinya ngga sabar mau tau mau ngobrolin apa.

"Ok, euh…oya!…Velli bawa demonya? Sama profile?.."

"O iya bawa…", kata Velli sambil menyerahkan CD nya.

"Hmm..hhm..hmm…", Balky memperhatikan Cdnya sambil manggut-manggut.

"Kalian udah berapa lagu?"

"Mmm…baru 5 sih hehe…kita baru kebentuk juga bandnya lumayan baru hehe…"

"Ooh, ya..ya…", Balky manggut-manggut lagi.

"Ini yang buat siapa lagu-lagunya?"

"Kalo…4 lagu sih kita bareng-bareng, liriknya ada dari Velli hampir semua, trus Aris juga bikin lirik. Trus yang lagu kemaren dibawain ada Velli full bikin mentahnya. Tapi belum kita track, baru bikin banget soalnya…", Imman menjelaskan.

"Ow..yaya…yang…judulnya apa ya yang buatan Velli?"

Semua menatap ke Velli, karena merasa hanya Velli yang bisa menjawabnya dengan fasih karena lagu itu masih baru.

"Don't…Hate what You Get", jawab Velli.

"Ooh..yaya…yang tentang…bersyukur itu ya hehe.."

"Hee…", Velli senyum malu.

"Oh..bagus itu…gue suka yang itu, trus kayanya juga penonton pada antusias pas bagian itu. Tapi…bukan berarti lagu laen ga bagus, nggaaa…yang laen bagus, cuma itu kayanya yang ngebangun suasana kemaren…"

Velli senyum-senyum ge er dalam hati. Balky pun melanjutkan pembicaraannya, "Yah, terus terang gue interest pas lagu itu, tadinya kan gue lagi ngga nonton, lagi di ruang artis, trus pas denger….eh…lagu siapa, nih…Aaaa!, langsung gue nonton hehe…"

"Wah,….makasih, deh hehe…", seru Velli sambil tersenyum ngga tau harus berkata apa, yang lain pun ikut tersenyum.

"Oya, ini namanya….The Feels A Fat…maksudnya gimana?"

Mereka berempat saling berpandangan bingung yang mau jawab siapa. Namun akhirnya Imman yang jawab setelah saling tunjuk.

"Iya itu…sebenernya pelesetan aja sih dari kata 'filsafat' karena kita pada suka filsafat…"

"Ooow…"

"Iyaa…trus ya kalo mau diartiin juga…nyambung ama karakter sound kita yang fat, warm, crunch gitu-gitu deh hehe…"

"Oooo,…yaya…The Feels A Fat….konsep namanya udah bagus sih…"

' Tapi?…', serentak dalam hati mereka bertanya-tanya.

"The Feels….agak nanggung tapi ya…ga tau apanya ni namanya.."

Suasana hening, Balky masih berpikir….kemudian melanjutkan pembicaraan.

"Kemaren saya juga sempet sih ngobrol ama anak-anak di sini. The Feels A Fat, unik sih tapi kaya sedikit nanggung. Cuma yaa…ini kan toh cuma nama, bukan masalah kualitas yaa hehe…", Balky berusaha mengurangi ketegangan yang terpancar dari wajah keempat personil ini.

"Hehe…jangan tegang gitu dong hehe, jadi taaakut, nih…rileks aja…saya bukan siapa-siapa koq nyanteilah...", kata Balky lagi.

Mereka berempat pun mulai sedikit lebih rileks dari sebelumnya.

"Ngga…eu…kalo…misalnya, nih….misal aja….kan gue jujur interest ya ama musik kalian, trus…gue kontrak kalian untuk…sekitar 3 album, tapi nama band kalian ada perubahan gitu gimana..?"

Semua terdiam…

"Koq diem? Hehe…kita sebenernya jujur banyak waiting list demo yang masuk, tapi kadang kita tu kalo udah nemu ngeliat dengan mata kepala sendiri secara….live..dan kita tertarik, mau ga mau kita angkat duluan…"

Masih terdiam pada kebingungan….

"Gimana? Hehe…ato mau dipikir-pikir duluuu….biar nyantei…tpi…ya ga harus koq sebenrnya, ini saran aja, Cuma yaa…kalo bisa…sih…kaya gitu…karena buat kalian juga, buat kita juga…kecuali kalo kalian udah lama berkibar baru memang itu lebih berat untuk ubah nama. Tapi kalo pun ubah kita tetep serahin ke kalian, kecuali kalo dari kalian minta masukan kita siap koq. Gimana…?"

"Emmm…gimana yah hehe..", kata imman penuh keraguan dibarengi dengan ekspresi keraguan juga dari personil laennya.

"Ya..paling…", Velli mulai bicara.

"Ya, gimana, Vel?", tanya Balky.

"Ya paling…kita pikir-pikir dulu deh di rumah…hehe..", ungkap Velli.   "Iyaa,…boleeh….gpp..santei aja…jangan jadi beban ya…di sini gue ngga sendiri, jadi apapun keputusan kalian, gue juga bicarain dan diskusiin ama yang laen"

"Iya…ok…ok"

Sejenak terdiam…

"Mmm…ada yang lain mungkin, mas?", tanya Imman memastikan.

"Mmmm…untuk sekarang segitu dulu sih, tar kalo ada apa-apa gue hubungi deh, ato mungkin kalian kalo mau ketemu kita di sini, tinggal hubungi gue lagi aja…eh ga usah pada panggil,mas…busyet deh hehe…panggil nama aja gpp", kata Balky sambil tersenyum.

Imman pun melihat ke araah Aris, Rini dan Velli sambil menganggukan kepala pertanda untuk menyudahi pertemuan mereka. Yang lain pun mengangguk tanda setuju.

"Em..ok, deh, Ky. Kita …cabut dulu mau briefingan.."

"Oh…iya iya…nanti kalo ada apa-apa kabarin saya ya,…ngga usah sungkan hehe…"

"Sip, makasih, Ky.."

"Yoo, sama-sama udah mau dateng ke sini hehe…ati-ati yaa.."

Selama mereka menuju pintu keluar menuju mobil Imman yang diparkir di depan trotoar mereka hanya terdiam.

Imman pun yang nyetir akhirnya membuka pembicaraan, "Eh, udah pada makan belum? Makan yu…di sorabi Enhai -->[if !supportFootnotes]-->[1] -->[endif]-->.

"Hmmm…boleh-boleh…laper gue…", seru Aris.

"Yang laen…gimana?", tanya Imman lagi.

"Ayuuu…", seru Velli dan Rini berbarengan.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di tempat makan sorabi Enhai yang terkenal itu. Setelah Imman memarkir mobilnya di samping trotoar, mereka turun mencari tempat duduk yang kosong lalu setelah semuanya duduk mereka membaca daftar menu yang ada di meja. Imman memesan sorabi keju cokelat strawberry dan sop buah, Aris memesan sorabi oncom ayam dan es jeruk, Velli memesan sorabi oncom ayam keju dengan jus strawberry, dan Rini memesan sorabi keju susu dengan jus melon.

Pembaca : "Hmmm..kayanya enak"

Penulis : "Emang!"

"Well,…gimana nih hehe…", seru Velli sambil menghela nafas.

"Mau pada ganti nama ?", lanjutnya.

"Hmm…kan belum tentu harus, Vel…", jawab Imman.

"Iya, sih….tapi kan seandainya dia bilang…gimana?"

"Gini, deh kita jawab masing-masing dulu, gimana? tapi jangan ngikutin jawaban yang sebelumnya, bener-bener harus jujur, lho…", terang Rini.

"Ok..", kata Velli menyanggupi.

"Mulai dari lo, deh ,Man…", Rini jadi moderator.

"Lho koq gue?…", protes Imman

"Yeee…kan gentleman first hehe…", kata Rini alasannya maksain.

"Hmmm…gue…lu dulu deh, Vel…lady first hihi…"

"Wuuu,….ga gentle…ok…gue….setuju", jawab Velli mantap.

"Ris?…", kata Rini

"Lho koq gue…kan Imman dulu", protes Aris.

"Aduuuh…udah ah sama aja…cepet.."

"Hehe…iya..iya…satuju…", kata Aris datar.

"Lo, Man..?", tanya Rini

"Umm…ngga..", jawab Imman pelan, yang lain terdiam.

"Ok kalo gue…ngga", jawab Rini lagi.

Mereka terdiam, sementara pesanan sudah siap dihidangkan.

"Wah,…seri nih..", seru Aris asal.

"Apaan sih lo, Ris emangnya ini pertandingan, emangnya voting…nggalah!..", ketus Rini

"Weis, santei, boss…hehe..kaleum -->[if !supportFootnotes]-->[2] -->[endif]-->..hee..", seru Aris.

"Dah, mending kita makan dulu deh biar lebih jernih pikiran masing-masing..", jelas Imman.

Mereka pun makan bersama. Selama makan mereka tidak banyak bicara, bahkan hampir tidak bicara kecuali kata-kata, 'sambel, dong….tolong merica…sendok..'.

Sampai akhirnya mereka selesai makan, Imman dan Aris menghabiskan rokok masing-masing sebatang, lalu mereka pulang bareng mobil Imman dan turun sesuai arah jurusan angkot masing-masing. Mereka memutuskan untuk menjernihkan pikiran masing-masing dulu dan memikirkannya sendiri-sendiri untuk kemudian di-briefingkan kembali masalah ini.

                                                             ~

-->[if !supportEmptyParas]-->  -->[endif]-->

Malam Rabu, sekitar jam 11 Rini di kamarnya sambil mendengar CD The Velvet Underground, menerima telepon dari cowonya, Richi menelepon dari Makassar.

"Hi, yang…", suara Richi di sebrang sana menyapa Rini."

"Heeiii,….kangen niih..kapan ke Bandung?", sambut Rini manja (benar-benar tidak mencerminkan seperti pemain band kali ini).

"Mmm…ada rencana, sih…mungkin bahkan minggu depan aku ke Bandung. Hehe…"

"Oya?!…yang bener?..Rini kan cuma becanda nanyanya. Koq beneran ke Bandung sih? Hehehe…", sambut Rini jail.

"Mmmh…gitu yaaa…ngejailin cowonya jauh-jauh hehe…"

"Ngga atuh becanda…"

"Hehe…Oya! Aku udah baca sms kamu barusan tentang tawaran label Zip…wahh, selamet yaah…"

"Hee…makasiiih…iya tapi…bete, yang….."

"Kenapa , gitu?"

"Iyaaa…masa disuruh ubah nama band aku…", ungkap Rini manja.

"Wah…masa?…"

"Iyaaa.."

"Trus..?"

"Yaaa…ga tau..emang sih belum tentu harus, Cuma ya kalo bisa sih gitu kata Balky…dan ternyata kita beda-beda pendapat, aku sama Imman ga setuju, Velli sama Aris setuju ganti nama…"

"Wah…bisa gtu?…kamu kenapa ngga setuju…?"

"Yaah…gimana yaa…aku sih udah sreg aja sama nama itu. Yah, walopun katanya sih konsep namanya udah bagus, Cuma koq nanggung namanya katanya…"

"Nanggung..?"

"Iya.."

"Wah…gimana ya..?…tapi…kalo menurut aku sih, ngga ada salahnya dicoba ganti nama kalo untuk kebaikan kalian juga.."

"Iya siih…tapi kan Imman juga ngga setuju…tau ah bingung…tar aja ngomongnya.."

"Mmmh…sabar deh ya,….mungkin ini ujian buat band kamu tuuu…hehe…."

"Iyaa.."

"Hmm…ok deh gitu dulu…kamu jangan lupa makan ya…sholat juga…nanti insya Alloh aku ke Bandung minggu depan hehe…"

"Ok, deh yang…dah, sayang…"

"Bye, sayang…"

                                                               ~

Tiba saatnya Kamis sore hari yaitu dimana The Feels A Fat briefing membahas masalah tentang penggantian nama. Kali ini mereka berkumpul di kosan Imman.

"Yaah…so…gimana, nih..?", Tanya Velli meemulai briefing setelah tadi sebentar memperhatikan infotainment sambil pada melahap gorengan.

"Ada yang keputusannya berubah ngga..?", Tanya Rini kali ini.

Semua terdiam…

"Gue ngga berubah, Rin.", jawab Imman

"Tapi…gue juga..ga berubah.", kata Aris

"Idem", sambung Velli.

"Ok, berarti ngga ada yang berubah, karena gue juga ngga berubah.", terang Rini.

"Hfffh…", Aris menghela nafas bingung….

"Mmm…kalo gue boleh ngomong nih…"

"Ya bolehlah, Vel." kata Rini.

"Iya,…gue…kenapa mau ganti nama, karena itu buat kebaikan kita juga,…trus kita juga kan bukan band lama atau udah punya nama. Kita kan baru. Jadi orang ngga terlalu tau kalo nama kita ganti. Toh yang ganti namanya , bukan musiknya….eu…ya gitu aja sih…"

"Yah maksud gue juga gitu, Vel", Aris mendukung.

"Yah,…gue ngerti itu. Tapi gue ngerasa aneh aja. Ini indie label koq ternyata masih ada ganti-ganti nama juga gitu. Trus yaa…terus terang gua kaget sih…"

"Ya gue juga kaget, Man..", terang Velli.

"Yah, paling ngga yang gue rasain juga kaya Imman gitu. Walopun mungkin Velli ama Aris ngerasain hal yang sama juga, pasti pada kaget. Cuma…ya itu…gue belum…ga tau juga yah…koq tiba-tiba jadi bingung…ya awalnya sih gue emang ga setuju…Cuma…gue kan curhat juga ke Richi, dia sih nyaraninnya ga masalah ganti nama demi kebaikan…walaupun hati kecil gue masih ngga setuju…"

Sesaat mereka pun terdiam…..

"Tetep gue masih penasaran sih, kan katanya ngga harus ganti nama, Siapa tau mereka masih ngasih toleransi. Toh ini kan band, band kita…", lanjut Imman.

"Kalo misal ganti nama jadi apa?", tanya Aris.

"Mening jangan ke situ dulu, Ris. Karena ini masih kaya gini…", kata Imman

"Ya gue kan cuma misalnya…", lanjut Aris kali ini agak ketus.

"Ck…ahh..masa ini mau dilanjut besok-besok lagi. Jangan terlalu kelamaan lho hal-hal kaya gini. Banyak orang yang mau berada di posisi kita kaya sekarang ini", Velli mengingatkan.

"Ya tapi kan masalahnya ngga sesederhana itu, Vel. Trus profile kita yang udah dikirim ke Italy gimana?", tambah Imman.

"Hhffff….", Velli menghela nafas…

"Itu kan bisa diatur sama label…", jawab Velli sambil menunduk dagunya ditopang oleh kedua tangannya sambil duduk sila.

Imman pun agak tersentak oleh jawaban Velli yang sepertinya membuat suasana agak menegang, Imman melihat ke arah Velli memperhatikan wajahnya seperti menyesali suasana yang telah terjadi antara mereka berdua dan mereka berempat.

"Yaah…gue baru inget nih, sory…gue dipikir-pikir kan baru dibanding kalian bertiga, kalian pendirinya. Jadi…"

"Ck, apa-apaan sih lu, Vel..kita semua sama…masa lu jadi kaya gitu…lagian lu juga kan udah bikin lagu buat kita. Udah ngga ada pendiri dan bukan pendiri!", ketus Rini

"Iya, Vel..", Aris mengiyakan.

"Ck, Haaahh….", Imman menghela nafas sambil menyalakan sebatang rokok.

"Hm…gue…bingung…sebenernya kita ini band kecil tapi masalahnya sampe kaya band gede gini. Padahal masalahnya mungkin belum seberapa…heu..", tambah Imman dengan tertawa sinis. Semua terdiam….

"Ya, sebenarnya kan….kalo semua misalkan….setuju ganti nama…ga kan ada masalah dan band tetep jalan seperti biasa…", kata Aris.

Imman menatap Aris dengan agak tidak menyangka, Aris jadi agak ngga enak, ga lama kemudian Imman beranjak keluar sambil berkata, "Sory gue mo ngejernihin pikiran dulu di luar."

Suasana hening………

"Aduuuh…salah ngomong gue…"

"Lo siiih…", seru Rini

"Yeeh…gue ngomong apa adanya…"

Aris pun langsung berdiri bergegas akan menyusul Imman.

"Tar dulu…tar dulu…jangan sekarang dah biarin aja. Dia ga bener-bener marah koq…tar juga ke sini lagi…", cegah Rini

"…….Heuuuhhh….", Ari kembali duduk.

Velli pun merapatkan lutut kakinya yang sedang dilipat dan dijadikan sandaran kepalanya sambil menunduk. Rini menenangkan Velli sambil mengusap-ngusap punggungnya.

"Vel,…"

"Ya…", kata Velli pelan sambil tetap menundukan kepala di lutut.

"Gue…ngerti….gue ngerti lo banget, Vel…ambisi lo paling gede di antara kita. Yah walopun mungkin Cuma beda-beda tipis…gue juga sama punya ambisi di musik, siapa juga yang ngga di kita. Tapi gue ngerti perasaan lo. Lo paling…ya berambisi."

"Duuuh….Riin…"

"Kenapa..?"

"Jangan ngomong gitu…gue jadi sedih…."

"Oo…oow…sory, Vel.."

Aris pun terhentak melihat Velli yang mulai terlihat sedih dan terpukul.

"Vel, maafin gue ya…kalo gue beda pendapat ama lo…", kata Rini.

"Ya…gu…e…juga…", kata Velli pelan udah mulai nangis…

Rini menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap Aris. Aris pun kebingungan mengangkat bahu. Velli mulai sesenggukan….

"Vel…minum dulu gih…", kata Rini.

"Iya…nt..tar.."

Sementara di luar kosan Imman, tampak Imman sudah menghabiskan batang rokoknya. Dan berniat kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamarnya Imman sontak kaget.

"Loh?…kenapa Velli?", Imman bertanya cemas seolah lupa masalah tadi.

Aris mengangkat bahu sekaligus berharap Imman tidak lagi marah padanya. Rini hanya menggelengkan kepalanya dan memberi isyarat bahwa Velli tidak apa-apa. 

"Vel, lo gpp?", tanya Imman masih cemas.

Velli semakin sesenggukan ditanyain gitu sambil menggelengkan kepala.

"Man, meningan lo anter pulang Velli, deh.", kata Aris.

"Ngga…jan…jangan sekh…sekarang…nanti…keliatan nangis…ama mama..males…"

"Hmmmh…ok…ok..Vel…nyantei aja…di sini aja dulu..", kata Imman sambil tangannya membelai rambut Velli.

Aris udah mulai curiga atas reaksi Imman dan reflek ketawa…

"Apa lo ketawa?…", kata Imman sambil agak tersenyum malu.

"We he hei….sabar, men…..jangan marah..gue takut"

Rini hanya terbengong-bengong kurang mengerti.

Imman pun mengisyaratkan agar Aris diam dengan menutup bibirnya dengan telunjuk sambil matanya melotot.

"Vel…vel, minum dulu, Vel…"

Velli pun dengan muka yang begitu merah dan pipinya dibasahi air mata -sempat membuat Imman tak sampai hati melihatnya- akhirnya minum juga.

"Bukan gara-gara gue kan ,Vel…?", tanya Imman khawatir.

Velli menggeleng pelan…

Tiba-tiba Aris nyeletuk, "Aduuh…huu…huu…gue juga nangis gara-gara lo tadiii huu..huu..", sambil meniru nangis seperti anak kecil menggosok-gosokkan tangan di mata.

Imman langsung melempar bantal ke arah Aris sambil sedikit tertawa, muka Imman pun memerah.

"Hheuuh…", Velli menghela nafas menenangkan diri…sambil mata masih menunduk lurus.

"Sory…gue ngerusak suasana….nangis segala…"

"Nyantei, Vel…", terang Rini

"Iya, gpp….maafin gue juga kalo tadi….sikap gue juga.."

"Iya gue maafin..", tiba-tiba Aris memotong..

"Sialan lu….gue ngga minta maaf ama lu yee..", kata Imman meniru nada anak kecil.

"Yaah…lu pulang istirahat aja dulu…gpp kita pending aja…mo gimana lagi…ga bisa dipaksain…bukan karena lo nangis koq…emang kita buntu"

Velli mengangguk pelan. Rini dan Aris setuju.

-->[if !supportFootnotes]-->

-->[endif]-->

-->[if !supportFootnotes]-->[1] -->[endif]--> Enhai/NHI = Sekolah Pariwisata daerah Setiabudhi, Bandung.

-->[if !supportFootnotes]-->[2] -->[endif]--> Kaleum = dalam bahasa Sunda yang berarti 'tenang'