Beberapa waktu lalu, saya sempat mendengarkan beberapa lagu yang sedang hits (naik daun) di radio. Mendengarnya ini pun kebetulan; dari sebuah radio di kios makanan ringan.
Saya
mendengar, lagu demi lagu, miris rasanya. Betapa lagu-lagu yang katnaa
ngetop itu sungguh tidak saja ecek-ecek secara musikal, tetapi juga
rendah kasta secara kesastraan. Ayo nikmati lagu bertema selingkuh ini:
Jangan Kau Dustai Aku
Jangan Kau Sakiti Aku
Bila Kau Cinta Padaku
Jangan Kau Bohongi Aku
Jangan Kau Lukai Aku
Bila Kau Sayang Padaku
Reff:
Tanpa Ku Tahu Salahku
Tanpa Ku Tahu Dosaku
Kau Berbuat Semaumu
Jangan Pernah Kau Selingkuh
Jangan Pernah Kau Mendua
Bila Kau Memang Cintaku
(Angkasa - Jangan Pernah Selingkuh)
Aduh,
benarkah ini lirik lagu? saya kok tidak habis pikir mendengarnya (ya,
sayang sekali kalau pikirnya harus dihabisin). Mana ruang kontemplasi
dalam lirik ini? Dug! kontemplasi? Ah, kontemplasi!
Ada
pula yang berjudul “Tak Selamanya Selingkuh Itu Indah”. Yakin saya
kalau ini merupakan tanggapan si penulis lirik buat Agus Noor yang
menulis “Selingkuh itu Indah”. Sebagai sebuah pernyataan sikap, di mata
saya, judul lagu ini “benar” dan Agus “salah”. Tetapi, secara estetik,
pernyataan jadi terbalik.
betapa ku mengerti sebagai selingkuhanmu
kuharus menjalani ikatan yang tersembunyi
ku mencoba bertahan meskipun menyakitkan
tak menyisakan sebuah sesal di hatiku
(Merpati Band - Tak Selamanya Selingkuh Itu Indah)
Masih dengan tema selingkuh, ada pula yang serupa tapi tak sama, yang mendayu dan bersedih hati:
Pacarku sayangilah aku
Seperti ku menyayangimu
Pacarku cintailah aku
Seperti aku cinta kamu
Bridge:
Tapi kamu kok selingkuh
Tapi kamu kok selingkuh
(Kangen Band - Selingkuh)
Itulah sebagaian kecil lirik lagu band-band Indonesia kita yang dipuja oleh banyak orang di sini. Tidak perlu penelitian serius, ini sudah cukup menjadi sample untuk mengambil gambaran umum: kira-kira, beginiliah selera pasar kita saat ini; beginilah selera musik-sastra masyarakat kita! Asyik, ya?!
Tiba-tiba, saya teringat sebuah band asal surabaya,
Grass Rock. Band ini muncul dan awal paruh pertama tahun 80-an, namun
baru menjajaki nama belantika musik rock tanah air sejak 90-an. Di
tahun 1992/1993 lalu, band yang kerap mengusung karya-karya band
art-rock-progresif “Yes” di awal-awal kemunculananya ini pernah ngetop
dengan lagu melankoli bertajuk “Bersamamu”. Lagu ini jadi hits di beberapa stasion radioa. Tapi, ya, tentu penjualannya tidak sedahysat band-band sekarang seperti almukarram Kangen Band dan Radja.
Lagu
“Bersamamu” adalah lagu rock biasa, dngan tema cinta anak manusia.
Hanya saja, lirik yang disajikan bukanlah sekadar cinta yang diobral di
pasar cinta Adam dan Hawa. Karena itu, ingat masalah lirik, mari kita
coba perhatikan lirik cinta-cintaan milik Grass Rock ini:
BERSAMAMU
Dentang bunyi kedamaian, telah terdengar di kejauhan
hari-hari berlalu, bawa pergi angan dan mimpi
hanya letih kautinggalkan
menanti matahari pagi
ingin kuterbang tinggi lagi
meraih pelangi di angkasa
letakkan jiwaku
Reff:
Rengtangkan sayapmu
janganlah aku kaubiarkan, melayang
hanya bersamamu
semua misteri yang terjadi dapat kita lalui
tanpa sunyi
Hanya lagu ini
yang dapat aku nyanyikan
untuk sepi rinduku
bersama denganmu
segala mendung di langit biru
dapat kita lewati
kau, imanku!
Ini
sebuah lirik—yang dalam anggapan saya—sangat liris, tentang ratapan
panjang yang mungkin mendayu, lambat, namun menyimpan sebuah ambisi
permenungnan yang dalam (mohon tidak terlalu jauh membanding-bandingkan
lirik lagu ini dengan lirik yang telah disebutkan di atas, nanti hanya
akan menimbulkan fitnah dan iri dengki).
Masih milik Grass rock, ini juga petilan lirik lagunya yang lain pada lagu hitsnya yang lain, “Bulan Sabit”:
lantas apa yang didapat olehnya
setelah semua itu akan berakhir
kebenaran yang hilang tanpa sebab
atau kedamaian yang menjadi tengkorak
Wahai bulan sabit
cucu dewa
bulan sabit, cucu dewa
merah darah, putih jiwa
Demikianlah.
Pernyataan-pernyataan saya di atas mungkin berpihak: ini pendapat,
bukan fakta. Tetapi, faktanya, adalah: tidak saja dari segi kualitas
aransemen lagu, lirik lagu-lagu kita sekarang memang punya masalah.
Lirik gak diurus. Lirik tidak dilirik. Lirik harus poppish. Lirik tidak mendididk. Lirik tidak puitis. Lirik tidak, ah, sudahlah.. ambu kah!
Tapi, bagaimana pun, proses kreatif haruslah dihargai, seberapa pun itu nilainya.
Untuk
Angkasa, Merpati, dan Kangen: salut untuk kreativitas kalian.
Berangkatlah duluan. Saya menyusul. Semoga kalian selamat sampai di
tujuan Hati-hati di jalan, ya!!
(dikutip dari http://kormeddal.blogspot.com)