MySpace
myspace music

S a r e y a n g tahlilan, poems, hardrock, and more were than are

M. Faizi ~Sareyang~



Last Updated: 12/23/2009

Send Message
Instant Message
Email to a Friend
Subscribe

Status: Married
City: Sumenep
Country: ID
Signup Date: 5/15/2009

My Subscriptions

Blog Archive
[Older      Newer]
 /  / 
August 30, 2009 - Sunday 

Category: Music


“The Sad But True Story Of Ray Mingus, The Lumberjack Of Bulk Rock City, And His Never Slacking Stribe In Exploiting The So Far Undiscovered Areas Of The Intention To Bodily Intercourse From The Opposite Species Of His Kind, During Intake Of All The Mental Condition That Could Be Derived From Fermentation”.

Frase di atas adalah judul lagu, lho. Panjang sekali, ya. Tapi, aneh rasanya. Judul lagu ini milik kelompok musik asal Swedia, Rednex, yang untuk sementara dianggap sebagai judul lagu terpanjang. Adakah Rednex menghendakinya hanya sekadar untuk mencetak rekor dunia? Tak tau-lah.. saya tahu hal ini dari pak Google. Sebab, selama ini, judul lagu terpanjang yang saya tahu, antara lain, adalah lagu milik Meat Loaf: “Objects In The Rear View Mirror May Appear Closer Than They Are” yang tak lain merupakan plesetan frase yang umumnya ditempelkan di bagaian dalam spion mobil. Heh, kreatif juga, nih, Meat Loaf. Mengapa kreatif, toh hanya mencontek? Jawabannya barangkali terletak pada materi lagu yang berbobot, dan tidak sekadar asal contek judul.

Ada pula yang judul lagunya diambil dari frase atau pepatah atau judul karya orang masyhur, seperti “For Whom The Bell Tolls”-nya  Metallica (dari novel berjudul sama karya Ernest Hemingway), juga “Tom Sawyer”-nya Rush (dari novel The Adventures of Tom Sawyer karya Mark Twain).

Lalu, bagaimana dengan judul-judul lagu yang belakangan ini naik daun di belantika musik tanah air? Waduh! Kok, umumnya bikin saya miris. Mengapa, ya? Mengapa hal ini justru terjadi di negara yang punya bahasa sendiri, dan lebih dari itu, memiliki dan menggunakan bahasanya sendiri serta dipergunakan sebagai lingua franca meskipun telah ratusan tahun dijajah?

.. ..

Saya tidak tahu. Tetapi, keluhan semacam ini mungkin saja tidak saja disampaikan oleh saya seorang diri, melainkan juga oleh orang lain, di negara lain, terhadap rendahnya “selera seni” para seniman musiknya.


August 13, 2009 - Thursday 


http://www.imeem.com/people/OfDaVD3/music/49KFs6bh...

Thala al-Qamar (mawal) - Fairuz
....................


Lagu di atas ini merupakan petikan mawal dari lagu lengkap berjudul Thala' al-Qamar, milik Fairuz. Dia adalah seorang biduanita Kristen Libanon yang berwibawa. Dan walaupun juga mendendangkan lirik-lirik cinta, namun Fairuz juga masyhur dengan lirik-lirik kemanusiaannya. Lagu yang berjudul Zahrah al-Madain secara puitik seolah-olah menjadi theme song bagi penderitaan tak kunjung selesai kota Jerussalem. Di dalam lagu tersebut, dikisahkan tentang kelahiran Isa putra Maryam juga Isra’ Mi’raj-nya Nabi Muhammad.


Berbekal vokal yang sangat khas, Fairuz dikenal baik sebagai penyanyi yang berkarakter di jalur musik yang dipilihnya, klasik. Di samping itu, semangat patriotismenya, seperti juga ditunjukkan oleh penyanyi-penyair Libanon yang lain, banyak ditemuakn dalam lirik-lirik lagunya.


Pada beberapa lagu, Fairuz berkolaborasi dengan penyanyi gaek Libanon, Wadi as-Shofi. Salah satunya diangkat dari petilan-petilan puisi Arab lama, Muwasy-syahat min Syi’r al-Qadim yang dinyanyikannya dalam Festival Baalbek, 1973. Dan pada beberapa lagunya juga, antara lain yang berjudul A’tini an-Nay wa Ghanni dan Sakan al-Lail, ia menggunakan syair milik penyair senegerinya, Khalil Gibran, sebagai lirik lagunya (M. Faizi: dari berbagai info).

June 25, 2009 - Thursday 

Category: Music

Edward, atau Eddie mudahnya kita sebut, merupakan ikon dari band Van Halen. Di lidahku, mengucapkan kata “Eddie Van Halen” ataupun hanya “Van Halen”, tetap saja merujuk pada gitaris ini. Demikian pula ketika saya mengucapkan “Jon Bon Jovi” atau “Bon Jovi” saja.
 
Ya, EVH adalah tag yang  tidak boleh dilupakan dari percaturan musik rock, wa bil-khusus, hardrock dan teknik bermain gitar. Dari keliaran imajinasinya, muncullah komposisi-komposisi aneh dari kelihaian jemarinya, setidaknya ketika itu, saat ia muncul di belantika musik dunia. Komposisi “Eruption”, misalnya, menjadi lagu wajib bagi para gitaris (hardrock), seperti halnya ke-lagu-wajib-an Romance d’ Amor bagi pemula gitar klasik dan “Recuerdos de la Alhambra” bagi senam jari tremolo juga demikian halnya intro “Stairway to Heaven”-nya Led Zeppelin bagi mereka yang berambisi jadi rocker [berlebihan-kah?].
 
Teknik-tekniknya, hal-hal yang selama itu (bukan selama ini), tidak pernah terpikir oleh para gitaris lainnya. Terutama “tapping” (in harmony). Memang, Brian May mungkin lebih dulu menggunakannya, atau bahkan masih ada nama lain yang lebih dulu lagi, tetapi yang mengutamakan, mempopulerkan, dan bahkan berusaha membakukannya, hanyalah Eddie. Lebih dari itu, sound dan gaya Eddie saat tapping, juga diramu dengan sklill mumpuni dan pola yang tidak lazim, yakni dengan ramuan bending dan handling. Era 80-an, dan selanjutnya, menjadi era yang tak mungkin dilepaskan dari era kewibawaan gitaris ini. Andai Vitto Bratta, Paul Gilbert, Nuno Bettencourt membaca artikel ini, mereka akan tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala, beranjak dari kamar tengah menuju studio, menyalakan amplifier, mengambil gitar, memiankan sebuah lagu, dan berusaha untuk tidak percaya kalau pengaruh itu benar-benar telah melekat pada jemari dan kepala!
 
Pengalaman:
Tahun 2001 menjadi awal saya mencicipi EVH Wolfgang Seires dengan sound effect bermerek Ibanez. Gitar berkostum buah melon ini sungguh mengesankan. Sungguh saya sulit melupakan pengalaman ini. Sayangnya, saya tidak dapat memainkan apa pun dari komposisinya, paling-paling hanya “Judgement Day” dan “5150” (he..he…guyon!)
 
Pak Eddie, di mana Anda sekarang?
Jika kebetulan lewat di depan rumah, mampirlah!!
June 24, 2009 - Wednesday 

Category: Writing and Poetry

Beberapa waktu lalu, saya sempat mendengarkan beberapa lagu yang sedang hits (naik daun) di radio. Mendengarnya ini pun kebetulan; dari sebuah radio di kios makanan ringan.

Saya mendengar, lagu demi lagu, miris rasanya. Betapa lagu-lagu yang katnaa ngetop itu sungguh tidak saja ecek-ecek secara musikal, tetapi juga rendah kasta secara kesastraan. Ayo nikmati lagu bertema selingkuh ini:

Jangan Kau Dustai Aku
Jangan Kau Sakiti Aku
Bila Kau Cinta Padaku
Jangan Kau Bohongi Aku
Jangan Kau Lukai Aku
Bila Kau Sayang Padaku
Reff:
Tanpa Ku Tahu Salahku
Tanpa Ku Tahu Dosaku
Kau Berbuat Semaumu
Jangan Pernah Kau Selingkuh
Jangan Pernah Kau Mendua
Bila Kau Memang Cintaku
(Angkasa - Jangan Pernah Selingkuh)

Aduh, benarkah ini lirik lagu? saya kok tidak habis pikir mendengarnya (ya, sayang sekali kalau pikirnya harus dihabisin). Mana ruang kontemplasi dalam lirik ini? Dug! kontemplasi? Ah, kontemplasi!

Ada pula yang berjudul “Tak Selamanya Selingkuh Itu Indah”. Yakin saya kalau ini merupakan tanggapan si penulis lirik buat Agus Noor yang menulis “Selingkuh itu Indah”. Sebagai sebuah pernyataan sikap, di mata saya, judul lagu ini “benar” dan Agus “salah”. Tetapi, secara estetik, pernyataan jadi terbalik.

betapa ku mengerti sebagai selingkuhanmu
kuharus menjalani ikatan yang tersembunyi
ku mencoba bertahan meskipun menyakitkan
tak menyisakan sebuah sesal di hatiku
(Merpati Band - Tak Selamanya Selingkuh Itu Indah)

Masih dengan tema selingkuh, ada pula yang serupa tapi tak sama, yang mendayu dan bersedih hati:

Pacarku sayangilah aku
Seperti ku menyayangimu
Pacarku cintailah aku
Seperti aku cinta kamu
Bridge:
Tapi kamu kok selingkuh
Tapi kamu kok selingkuh
(Kangen Band - Selingkuh)

Itulah sebagaian kecil lirik lagu band-band Indonesia kita yang dipuja oleh banyak orang di sini. Tidak perlu penelitian serius, ini sudah cukup menjadi sample untuk mengambil gambaran umum: kira-kira, beginiliah selera pasar kita saat ini; beginilah selera musik-sastra masyarakat kita! Asyik, ya?!

Tiba-tiba, saya teringat sebuah band asal surabaya, Grass Rock. Band ini muncul dan awal paruh pertama tahun 80-an, namun baru menjajaki nama belantika musik rock tanah air sejak 90-an. Di tahun 1992/1993 lalu, band yang kerap mengusung karya-karya band art-rock-progresif “Yes” di awal-awal kemunculananya ini pernah ngetop dengan lagu melankoli bertajuk “Bersamamu”. Lagu ini jadi hits di beberapa stasion radioa. Tapi, ya, tentu penjualannya tidak sedahysat band-band sekarang seperti almukarram Kangen Band dan Radja.

Lagu “Bersamamu” adalah lagu rock biasa, dngan tema cinta anak manusia. Hanya saja, lirik yang disajikan bukanlah sekadar cinta yang diobral di pasar cinta Adam dan Hawa. Karena itu, ingat masalah lirik, mari kita coba perhatikan lirik cinta-cintaan milik Grass Rock ini:

BERSAMAMU
Dentang bunyi kedamaian, telah terdengar di kejauhan
hari-hari berlalu, bawa pergi angan dan mimpi
hanya letih kautinggalkan
menanti matahari pagi
ingin kuterbang tinggi lagi
meraih pelangi di angkasa
letakkan jiwaku
Reff:
Rengtangkan sayapmu
janganlah aku kaubiarkan, melayang
hanya bersamamu
semua misteri yang terjadi dapat kita lalui
tanpa sunyi
Hanya lagu ini
yang dapat aku nyanyikan
untuk sepi rinduku
bersama denganmu
segala mendung di langit biru
dapat kita lewati
kau, imanku!

Ini sebuah lirik—yang dalam anggapan saya—sangat liris, tentang ratapan panjang yang mungkin mendayu, lambat, namun menyimpan sebuah ambisi permenungnan yang dalam (mohon tidak terlalu jauh membanding-bandingkan lirik lagu ini dengan lirik yang telah disebutkan di atas, nanti hanya akan menimbulkan fitnah dan iri dengki).

Masih milik Grass rock, ini juga petilan lirik lagunya yang lain pada lagu hitsnya yang lain, “Bulan Sabit”:

lantas apa yang didapat olehnya
setelah semua itu akan berakhir
kebenaran yang hilang tanpa sebab
atau kedamaian yang menjadi tengkorak
Wahai bulan sabit
cucu dewa
bulan sabit, cucu dewa
merah darah, putih jiwa

Demikianlah. Pernyataan-pernyataan saya di atas mungkin berpihak: ini pendapat, bukan fakta. Tetapi, faktanya, adalah: tidak saja dari segi kualitas aransemen lagu, lirik lagu-lagu kita sekarang memang punya masalah. Lirik gak diurus. Lirik tidak dilirik. Lirik harus poppish. Lirik tidak mendididk. Lirik tidak puitis. Lirik tidak, ah, sudahlah.. ambu kah!

Tapi, bagaimana pun, proses kreatif haruslah dihargai, seberapa pun itu nilainya.
Untuk Angkasa, Merpati, dan Kangen: salut untuk kreativitas kalian. Berangkatlah duluan. Saya menyusul. Semoga kalian selamat sampai di tujuan Hati-hati di jalan, ya!!

jika ingin mendengarkan lagu "Bersamamu" dan "Peterson (Anak Rembulan" karya Grass Rock, bisa didownlod dari tautan ini.

(dikutip dari http://kormeddal.blogspot.com)