MySpace


March 31, 2008 - Monday 
For Real Beauty for Real


    Semua wanita memang sudah saatnya muak dengan industri kecantikan. Lewat iklan-iklan produknya kita dibuat seolah-olah ada saja dari bagian tubuh kita yang tidak ideal atau sempurna. Bagi iklan pengurus badan, saya lupa merknya, Nadia Hutagalung itu cantik dengan ukuran pinggang yang pas. Lain lagi bagi shampo pantene yang merepresentasikan cantik lewat Siti Nurhaliza dengan rambut lurus, hitam, dan panjangnya. Sedangkan untuk akhir-akhir ini, hanya wanita putih lah yang bisa memiliki kisah cinta yang begitu indah lewat iklan Ponds Flawless white. Lalu bagaimana nasibnya perempuan yang tidak langsing, yang tidak berambut lurus hitam, yang tidak berkulit putih?
    Bagi para pembuat iklan atau produsen itu sendiri, riset memang menunjukkan bahwa perempuan Asia cenderung menginginkan kulit yang lebih putih sekalipun perempuan asia timur (yang udah jelas putih banget). Kenapa ya? Setelah ditelusuri lebih lanjut, lewat berbagai literatur saya dapatkan jawaban yang lebih rasional, ada faktor historis di situ. Bagi orang Asia yang menjadi wilayah jajahan bangsa barat, kulit putih berarti bule atau bangsa barat yang pada kala itu (dan ternyata masih sampai sekarang) derajatnya dipandang lebih tinggi. Maka jangan heran perempuan asia berlomba-lomba untuk tampak lebih putih, blame it on colonial complex.
    Itu soal wajah, bagaimana dengan tubuh? Pinggang kecil, pantat besar, dan payudara yang besar adalah definisi seksi. Nah sejak Twiggy mulai menjadi icon di tahun 60-an, semua perempuan berlomba menjadi kurus. Untuk masa sekarang, blame it on Nicole Richie, Mischa barton, or Gemma Wand. Media memang tidak bertanggung jawab dalam represntasi kecantikan, media tidak mengenal banyak bahasa dari berbagai budaya. Cantik hanya diolah dalam satu bahasa, misalnya look like supermodel atau Hollywood scarlets. Sedangkan iklan sendiri selalu memanfaatkan Gap yang terletak antara kenyataan dan yang diimpikan. Perempuan asia ingin kulit seterang Cate Blanchette (iklan SK II) sedangkan perempuan Amerika mengidamkan kulit se-tanning Gisele Bundchen.
    Nampaknya hampir sebagian besar hari kita dibombardir dengan cantik versi media dan iklan. Perempuan mulai membuat janji dengan dokter kulit untuk suntik vitamin c, kulit putih namun berisiko kanker kulit. Diet juga menjadi tren, seolah-olah manusia memang tidak pernah puas akan apa yang sudah ada. Bersyukurlah, akan saya perlihatkan iklan Tv dan Print Ad dari produk DOVE yang mungkin akan sedikit menggugah sekaligus menenangkan kekhawatiran anda.
Bagaimana tidak dengan iklan yang langganan award dan dibubuhi copy sedahsyat "No wonder our perception of beauty disorted" atau "Talk to Your Daughter before The Beauty Industry Does" DOVE memabawa angin segar dalam memandang kecantikan. Buat kita di Indonesia, masih inget kan kampanya For real beauty nya DOVE dengan mengedepankan pertanyaan bipolar, seperti gambar ibu yang beruban dengan pertanyaan Grey or Gorgeous dan kita dapat berpartisipasi dalam kampanye tersebut lewat websitenya. DOVE percaya bahwa cantik itu apa adanya. Bukan putih berambut panjang dan bertubuh bak barbie. Tim dari agency Ogilvy & Mather yang dipercaya menggarap kampanye ini (termasuk di Indonesia) juga melakukan pendekatan yang mampu meredefinisi cantik. Di US sendiri DOVE sudah mendirikan "Self Esteem Fund" guna menumbuhkan self esteem perempuan, terutama remaja, akan pentingnya menghargai diri sendiri dan percaya diri akan apa yang dimilikinya. Betapa gembiranya perempuan bahwa masih ada yang percaya bahwa cantik itu tidak absolut melainkan relatif.
    Kebetulan topik ini menjadi masalah yang saya angkat dalam skripsi saya (doakan saya lulus semester depan). Masalah? Dimana letak masalahnya? DOVE kan merepresentasikan kecantikan as it is (apa adanya) dan tidak dibuat-buat? Tentu menjadi sebuah masalah bagi saya karena ada fakta yang tidak bisa dihindari. DOVE adalah salah satu produk milik produsen consumer goods kenamaan di dunia, "UNILEVER". Sayangnya Unilever tidak hanya memiliki DOVE dalam kategori personal care, dia juga pemilik dari produk PONDS, Sunsilk, Citra (di Indonesia), Slim-fast, Vaseline, dan masih banyak lagi. Nah, produk selain DOVE itulah yang telah menghadirkan iklan 7 hari menjadi putih, lalu apa kata Unilever? Seperti yang dikutip dalam Advertising Age, pihak unilever hanya bilang bahwa perusahaan ini adalah perusahaan besar yang membawahi banyak Brand yang melayani kebutuhan berbagai jenis konsumen. Wah kok gitu? Ya iyalah… Unilever itu Global Company yang berideologi kapitalis (like every company does) yang menuhankan profit dan sales. They realy don't give a fuck about beauty perception structurally, the only thing they see it's just how can we expand market? By adding product for serving every personalities and needs.
    Dengan adanya DOVE, unilever berarti sedang melayani para perempuan yang muak tadi. Yang tidak bisa diraih lewat produk Ponds dan slim-fastnnya, yang membutuhkan pembenaran untuk ketidak'cantik'annya. Phiuh…begitulah nasib dari target market, tidak akan lepas dari bidikan produsen yang mencari pasar.
Biar bagaimanapun, kampanye For real Beauty DOVE patut diberikan standing applause tapi What is Beauty for Real?
March 10, 2008 - Monday 

Category: Life
Sabtu, 2008 Februari 23
Simfoni Hari ini

No sound-my bed-my room-my conformity

.udara dingin memenjarakan tubuh saya di dalam selimut.alarm berbunyi tepat jam 7. tidak saya hiraukan hanya dimatikan.tenggorokan sakit.meradang. membuat badan merasa tidak enak.ada pemaksaan entah datang daari mana.saya harus bangun.tugas etika & filsafat komunikasi sudah diselesaikan.analisis semiotika iklan visa sampai jam 2 pagi.ayo bangun.akhir tahun ini harus wisuda.semester 6 ini outline harus selesai.semester 7 skripsi.ayo katanya mau jadi sarjana komunikasi di umur 20 tahun.ayo afra bangun.papa tercinta sudah tidak sabar membanggakan anak pertamanya.

Ost. The Clash- I fought the law-bersiap ke kampus

.terpaksa mandi.jangan lupa catridge harus diisi.bawa amoxcilin.cuci temporary bracket.bangunkan dimas.jangan! biarkan dia tidur nyenyak.pastikan tebengan sudah siap.bawa powerbook dan adaptornya.bawa sweater kuning kesayangan.turun ke bawah.menyapa mbak yanni yang sedang memasak.minum segelas air mineral.pakai sepatu hitam.duh lecet lagi nanti.ya udah, males mikir yang lain.tancap!.panggil ojek.tancap!!!.

Ost. Portishead- Glory Box

.yah dosennya Pak Embu Henriquez.duduk di sebelah Zara.membenarkan posisi duduk.mengumpulkan konsentrasi.perhatikan dosen!.oh sedang membahas estetika.pasti ujung-ujungnya seni.siapa yang memaknai itu seni.aliran yang mana.hanya dibahas era yunani-enlightment-post modern.menunggu Andy Warhol disebut.nihil.pembahasannya semakin membosankan.etika & estetika.sekilas tidak ada bedanya.pusing.ngantuk.tidak bersemangat.gerai rambut.pasang earphone.pilih lagu.portishead aja deh buat bengong.dosen?.wasalam.

perpustakaan Miriam Budiarjo-Ost.Bloc Party-Blue Light

sudah kenyang.titipkan tas.kumpulkan anggota kelompok.hilang satu, pulang katanya.pulang? cukup brilian untuk mengerjakan tugas bab 1 & 2 yang dikumpulkan besok.sudahlah.tidak ada waktu mengeluh.ayo bergerak.cari buku dan skripsi di katalog.ke tempat peminjaman skripsi.akhirnya! skripsi jenius hegemoni MRA ditemukan.Asikk! dikasih kesempatan pinjam 2 skripsi.mulai di skimming skripsinya.bagus.cocok untuk bab 1 dan 2.cari buku Giddens.saya harus ngedate dengan giddens hari ini.saya dengar dia yang punya teorinya.yang relevan dengan penelitian kelompok saya.aminnnn.memang benar.dia jenius.brilian.saya temukan jawaban.ayo cari buku di rak 300.tiba-tiba bluest light.baguslah.mulai bagi tugas, siapa yang bab 1, siapa yang bab 2.satu orang kurang fokus.satunya lagi ingin pulang cepat.tolong!deadlinenya besok, let's get things done folks!.saya selesai.jam 3 harus cepat pergi dari sini.

Ost. Bjork-Unravel-di dalam taxi

.harus ke ADOI.jangan telat, naik taksi aja kali ya.bengong.arahkan sopirnya.bengong lagi.ayo dengarkan lagu lewat mp3 di hp.lagunya itu lagi, nggak bosen-bosen.tante Bjork yang makin keren tiap hari.telepon dimas.banyak noise.sudahlah.langit mendung.serupa dengan emosi saya.jangan sampai macet.saya tidak punya waktu untuk itu.F$% ! beneran macet.jakarta, muak saya.sampai juga.Sh%*! Tidak ada bos saya.makan gaji buta.browsing sebentar.telepon minda.akhirnya janjian.

Plaza Senayan-Ost. The Milo-Get into ; Everything But The Girl-Driving

.sampai juga.minda masih sibuk.harus menunggu.ayo cari free wifi!.berputar-putar sampai pegal.Ke^&*t nggak ada yang free ataupun yang indosat.weksss, malasss.lapar, food gathering.end up di Food court juga.donner kebab yang paket 1.minta sambal yang banyak.pilih tempat yang mojok.nyam,nyam, enak juga.laper gitu, iyalah enak.sambil baca buku giddens.strukturasi, agensi.kutu (kurang tau).ini mulu.kepala udah penuh.tapi oke banget emang.ruang dan waktu.Giddens banget!.udah ah.nyalakan powerbook.cek kumpulan pembagian tugas tadi.sial, tidak sesuai dengan harapan.ada yang tidak fokus nampaknya.rapikan sedikit.asikk! minda (dijamin janda) dateng juga.ngobrol-ngobrol, curhat.dear nancy mau manggung di Singapore.minda ngajakin saya.aduh, ntar dulu kali ya.ingat outline afra.pantang berenag-renang ke tepian sebelum berakit-rakit ke hulu.go to metro sale.bo'ong banget salenya.dasar kapitalis.mulai deh afra.hahahaha.ada sepatu hijau lucu.diskon 50%.pe we banget dipakenya.aduh jangan sampe beli.phiuhhhh, thank god gak ada ukurannya.selamet deh duitnya.dimas sudah datang.waktunya pulang.baik saya, dimas, maupun minda berwajah kusut dan lelah.saatnya mengakhiri hari.aaawwww, sariawannya sakit banget.dikasi obat sama dimas.thanks a lot dimdim.need to go home now.too tired to do more activity.we're go home.absolutely tired.but I have to write.about my cloudy day.better day tomorrow.hopefully.pengen shalat sebelum tidur.tapi gak bisa lagi dapet.huhuhu.tidur aja deh.hiks.
February 29, 2008 - Friday 
VISIT

MY NEW BLOG

http://esotericafra.blogspot.com

For those who find life so mind-numbing...
February 29, 2008 - Friday 

Category: Life























Salah satu merk pakaian ternama di dunia, DIESEL kembali dengan kampanye barunya di awal tahun 2008. Setelah tahun lalu menggebrak dengan tema 'Global Warming Ready' dan 'Human Afterall' kampanye merk berslogan 'Sucessfull Living' ini mengusung tema 'Live fast'. Jika dilihat dari tampilan kampanye di media cetak yang sudah-sudah, DIESEL memang dengan cerdiknya membawa isu yang terkait erat dengan kehidupan manusia modern terutama di perkotaan. Dalam kampanye 'global warming ready'-nya, DIESEL memotret seseorang yang terselamatkan dari keadaan yang mengenaskan akibat pemanasan global. Kedaan itu divisualisasikan dalam kejanggalan yang terjadi di kota-kota seperti london atau paris. Yang pada saat itu, filmnya Al gore belum sepopuler sekarang dan perusahaan pengeksploitasi manusia maupun alam belum gencar dengan CSRnya. Begitu pula dengan merk2 fashion lain yang belum tergerak untuk sok-sokan cinta lingkungan dengan bahan ecofriendly dan gerakan amal lain.
Kemudian kampanye "Human after all" yang mengangkat isu "Technological determinism" secanggih2nya teknologi yang kita buat dan gunakan, we're human afterall. Dengan mobil secanggih itu (sampe melayang gitu mobilnya) tetep aja yang namanya teknnologi ya teknologi bisa berbuat lebih tapi ada limitnya dan apesnya. Kalau kita sadar nih, teknologi lebih sering eror ketika kita benar2 bergantung padanya dan sangat membutuhkannya pada saat2 penting. Sedikit berbagi pengalaman nih…saya mau presentasi kampanye untuk satu tugas mata kuliah yang penting dan harapan saya hanya terletak di flash disk 1 gb saya dan komputer yang tersedia di ruangan itu. Dengan cantiknya power point sudah dibuat dan sudah berlatih, ternyata ketika tiba giliran saya presentasi, flashdisk saya yang sudah dicolok di komputer tersebut langsung terinfeksi virus dari komputer tsb. Dan Abrakadabra…..harapan saya hangus begitu saja seiring dengan virus yang menggerogoti data2 saya dalam sekejap! Boro2 presentasi dengan power point yang sudah animated, manual aja dulu,,,,,huhuhu…dari situ saya belajar untuk tidak segitunya bergantung pada teknologi. Tentu saja kampanye "human afterall" begitu menyentil saya (atau mungkin anda juga?). Dan sekali lagi, kampanye barunya begitu menggugah pikiran untuk kembali diresapi dan instropeksi (jaaahhh…)
Dengan tema "Live Fast" saya kembali berefleksi pada kehidupan modern yang memang berjalan dengan serba cepat. Makan cepat karena jam kerja akan berkurang jika kita terlambat dan itu berarti hitungan per jam kita menjadi tidak efektif, potong gaji pula konsekuensinya. Hahaha….
Kenapa "Live Fast" ??? Kalau menurut saya, itu bersumber dari pedoman "Time is Money". Btw, siapa sih yang bikin pedoman itu? It's arbitary anyway, jadi nggak keusut siapa pencetusnya. Kalau waktu adalah pedang sih saya percaya tapi uang??? Lepas dari siapa yang melontarkan untuk pertama kalinya, saya rasa kalimat itu erat kaitannya dengan kapitalisme. Ketika majikan memperkerjakan buruhnya dengan menetapkan tarif pada hitungan waktu tertentu di situlah kemudian waktu berubah menjadi uang. Lihat anak kecil yang bermain sesuka hati, yang hanya tahu pagi, siang, dan malam. Kalau pagi ada dora, siang waktunya tidur, malam nonton tv lagi, jadi dia tidak menganggap kalau waktu itu tidak berkorelasi dengan uang. Namun coba tengok pekerja kantoran, walaupun mereka digaji perbulan, hitungannya tetap diawalai dari per jam kemudian diakumulasikan dalam hitungan hari, bulan, dst. Serupa dengan karyawan, buruh pabrik harus lembur untuk kecukupan hidup mereka, tambahan jam kerja berarti tambahan pemasukan. Semua orang berlomba-lomba untuk menjadi yang tercepat, karena siapa yang paling cepat, dia yang dapat. Dengan dasar waktu harus efektif maka apartemen harga miliyaran di pusat kota pun laku bak kacang goreng. Kembali pada pilihan transportasi atau residensi, ongkos transportasi mahal karena rumah di pinggiran lebih murah. Begitu pun sebaliknya tempat tinggal mahalnya selangit tapi ke kantor tinggal nyebrang. Pilih mana???
Ujung-ujungnya duit, lagi-lagi uang. Semua di reduksi menjadi uang, ada waktu, cinta, persahabatan, hingga tuhan. Hubungannya menjadi lebih fungsional. Kejam? Sudah pasti, siapa yang bisa bertahan dialah yang menang. Lihat saja di kampanye DIESEL ini, perempuan yang terburu-buru, pekerja yang harus tepat waktu, dan tentu saja dengan balutan style modern urban khas DIESEL.
Jadi apa yang sebenarnya ingin dikemukakan DIESEL? Sebagai manusia modern, kita memiliki banyak kontradiksi. Ada harga yang harus dibayar dari modernisasi. Anyway, saya memakai produk DIESEL juga sih,,,hehhee,,,Ummm…bagaimana kalau ganti pedoman menjadi Slowly but Sure, Alon-alon asal kelakon?hahaha…..

Be Slow, Be Low, Let it Flow….

December 26, 2007 - Wednesday 

Current mood:  argumentative
Memakai ZARA, Mengonsumsi Tanda

Intro:
Mari coba kita bayangkan bersama-sama jika…
1. Lagunya Jesus & Mary Chain bisa didengar di mana-mana, cd bajakannya diputer di pasar tradisional terdekat, kaos bertuliskan band ini dijual di empire (emperan) !
2. Marc Jacobs buka butik di Matahari and guess what? Harga bajunya gak ada yang lebih dari Rp 200.000 tapi modelnya Marc banget tetep!
3. Film-filmnya Wong Kar wai diputer di 21 trus antriannya kaya ular naga panjangnya !
4. Raam Pundjabi bangkrut soalnya udah gak ada yang demen ntn Sinetron lagi, sampah katanya. Trus stasiun Tv kita muter film-film pendek berkualitas karya sutradara muda Indonesia (sebut saja Kara anak Sebatang pohon, perjalanan pulang ;p, A very slow breakfast, The conductor, etc) !
5. Para remaja perempuan stop baca Gogirl! Mereka pada langganan NYLON magz aja dulu !

Udah ah capek bayangin mulu! Karena pada faktanya…

Bukan gak mungkin lho itu terjadi…sumpah saya gak bo'ong! Coba kita cari contoh terdekat : dulu kayanya yang punya Mac keluaran Apple hanya orang-orang tertentu, biasanya yang berhubungan dengan dunia audio visual (graphic design, editor, etc) nyari suku cadangnya setengah mati di Jakarta, Tapi sekarang? Coba Anda cari di Mall-mall gaul di Jkt atau kota besar, pasti ada Ibox, e-store, dan sebangsanya. Trus sekarang, semua orang pake produk apple kayanya (termasuk saya dong biar gak ketinggalan,hahaha). Contoh lainnya Cerahati yang terkenal dengan vidklip indienya kaya Mocca yang I don't think I need my diary atau KOIL yang mana gitu gw lupa (he3 maap) sekarang mulai menggarap band paling happening tahun ini yaitu T2. Dan masih banyak contoh lain tentunya.

Emang kenapa sih? Salah? Gak boleh gitu kalo semuanya jadi begitu?

Ya nggak lah….gak papa kalee. Sah-sah aja kok Karena sekarang semua itu mungkin terjadi (impossible is nothing klo kata Adidas), kecuali Anda makan kepala Anda sendiri (coba buktikan klo gak percaya!). Biar bagaimanapun ya para pembaca… apa yang kita konsumsi itu bukan apa-apa melainkan hanya sebuah tanda (sign). Gini deh biar saya keliatan intelek (saah) saya mau mengutip kata seorang yang dinobatkan sebagai postmodernist yaitu Alm. Jean Baudrillard, kata doi nih:
"Through objects, each individual & each group searches out his/her place in order , all the while trying to jostle this order according to a personal trajectory. Through objects a stratified society speaks…in order to keep everyone in a certain place."(Baudrillard,1972/1981:38)

Jadi, klo Anda beli Skinny jeans di Zara seharga Rp 475.000 untuk Anda gunakan nantinya, Anda sukses meletakkan diri anda di kalangan urban, sadar mode, dengan ciri gaya Europe eclectic, dan berada di tingkat SES A atau A+. Atau jika Anda mengidentifikasikan diri sebagai anak indie, Anda mempunyai seabrek Mp3 dengan nama band luar aneh2 ( Arch. In Helsinki, Mum, Nouvelle Vague) atau band dalam negeri dengan awalan the (the SIGIT, The Berandals, The Adams, dan band keluaran Akasara atau FFWD lainnya) trus pake kacamata gede biar nerd dengan celana ngepres berambut acak-acakan.
Singkatnya, dalam era konsumsi ini kita hanya sekumpulan manusia yang tidak akan bisa hidup tanpa mengonsumsi benda, ide, jasa, atau apapun itu yang ternyata cuma tanda (sign). Klo gak begitu serasa telanjang kayanya. To sum up, "I consume therefore I am"
Klo ada yang ngerasa pinter, kayanya harus mengakui bahwa mereka kalah pinter sama orang-orang marketing. (Untungnya nih, saya belajar dogma2 marketingnya Philip Kotler di perkuliahan.hohoho)

Lebih kasihannya lagi nih kita di zaman ini udah bener-bener jadi masyarakat yang tidak bisa membedakan antara mana yang nyata (real) sama yang lebih dari nyata (hyperreality). Begini, kita (cewek2) percaya begitu saja klo memakai ponds, citra dan produk sejenis itu kuit menjadi lebih putih, mulus, jadi nanti dilirik cowok. Kita kan tahunya cowok-cowok Indonesia sukanya sama cewek putih, tinggi, langsing, rambut panjang, dengan segala keanggunan dan kelemahlembutannya. Jadi kita pengen deh kaya gitu juga. Pada faktanya, mereka (cowok2) menganggap cewek cantik dengan kriteria tersebut karena mereka biasa melihat di media (tv, iklan, film, dsb) kalau yang dibilang cantik ya yang kaya Luna Maya, Dian Sastro,dan sebangsanya itu. Percaya atau nggak ada banyak cowok di luar sana yang bosen sama cantik versi media itu. Jadi udah kaya lingkaran setan deh mana yang nyata sama yang lebih dari nyata (komik jepang dengan mata-mata belo adalah salah satu contohnya) batasnya udah blur. (Thanks to Mass Media)


Jadi salah siapa dong?
Wah udah susah banget buat ngusutnya! Klo mulai dari media, iklan, dsb ujungnya ke marketing dan orang yang berkuasa di belakangnya, trus marketing dan csnya itu ujungnya profit a.k.a uang yang banyak. So…blame it on money as the most stupid (and smart in the same time) thing in the world.

Emang laknat deh tuh marketing (loh kok?) soalnya lewat proses perencanaan pemasaran itulah semua citra, tanda diciptakan. Setelah berbagai analisa pasar, kompetitor dan semacamnya mulai deh ditentukan klo Produk Adidas stella mccartney target market secara demografis: cewek, umur 20-30an, SES A+ secara Psikografis: gemar berolahraga, selalu ingin tampil modis, feminin, etc. Lalu produk tersebut diposisikan sebagai pakaian olahraga buat cewek sporty yang modis (halah,,,) Lewat positioning itu maka iklan, dan serangkaian kegiatah promosinya berusaha setangah mati untuk menancapkan 'tanda' itu di benak khalayak yang notabene adalah Anda, Mama di rumah, temen-temen di kampus, dan tentunya saya sendiri. Biar kita semua rame-rame beli produknya deh…hohoho….

Eits..belum abis..sabarr…masih ada satu lagi….
Buat Anda sekalian yang merasa sudah 'beda' atau cutting edge dengan baju keluaran Comme Des garcons, ada lagu Sigur Ros sama Bjork di playlist mp3 playernya, Menggemari film-filmnya Tim burton, dan khatam sama novel-novelnya Irvine Welsh kayanya harus buru-buru ngumpet deh biar gak ketauan….hehehhee….Soalnya ya seperti yang sudah dikemukakan di atas tadi, itu semua cuma 'tanda' kita semua sama-sama mengonsumsi tanda tetapi postioningnya aja yang berbeda. Dan jangan heran yak lo ada banyak orang yang sebenarnya Sama kaya kalian karena pertukaran 'tanda' (sign exchange) ini sudah begitu massif. Gak ada deh yang bisa melarikan diri dari ini semua.

Nah klo sudah begitu harus bagaimana dong kita?
Klo kata iklan LA lights sih Enjoy aja….dan jangan terlalu terjebak sama 'tanda' yang udah betebaran dimana-mana itu. Gak usah ngoyo beli CDnya Nouvelle vague yang baru di Aksara seharga Rp 240.000 wong tinggal search di multiply aja gratis! Toh sama kan Nouvelle vague juga gak jadi berubah vokalnya kaya Mulan Kwok kan?? Lagian CD asli di rumah juga jadi pajangan doang kecuali klo Anda mau ngado pacar sebuah tanda kasih sayang yang digambarkan dengan usaha membeli CD itu.hehehe
Prinsipnya simple aja sih semuanya tuh omong kosong, bohong belaka, kan udah gak ada yang nyata menurut sepenglihatan kita.hehehe….mendingan kita mengasingkan diri di pelabuhan bajo aja biar gak pusing, Ceesan sama nelayan dah di situ (waw…postmod amat tuh). Ya udah lah…orang saya juga cuma ngelantur ini (tapi kok panjang amat ye?) Afterall Dude….Maybe we should give big applause for BLUR to mention that "Modern Life is Rubbish"

CHEERS…..!! Happy New year!
Currently listening:
The Worst Taste in Music
By Radio Dept
Release date: 07 March, 2006
November 29, 2007 - Thursday 

Current mood:  calm
Category: Life

Suatu Sore di Starbucks

Bodohnya saya, betapa jahatnya saya, bayangkan, hujan turun sangat deras di Jakarta diiringi dengan angin puting beliung, saya yang terjebak dalam hujan dan dengan penuh kesombongan ala orang Indo, saya berteduh ditempat yang menjadi lambang kapitalisme global yaitu warung kopi dengan logo wanita bermahkota didalam lingkaran berwarna hijau, ( yup, tepat sekali, It was Starbucks! ).

            Mengapa berteduh disini? Oiya, sebelum saya mengajukan pledoi kenapa saya ada disini, saya kasih tahu, saya di Starbucks Pasaraya dan bayangkan, ketika saya masuk dan duduk, saya adalah satu-satunya customer Indonesia alias pribumi, whew! What an intruder are you? Hahaha...

Yah paling barista sama doorboynya, what the heck gw? Mungkin gini kali yah suasana pas Soekarno atau si Minke-nya Pramoedya ketika nongkrong ditempat-tempat para penjajah kita? Oke kembali keawal, why do I choose this fuckin coffeeshop? Jawaban sejujurnya dan sepolosnya saya terjebak dalam hujan, saya benci keramaian ( karena itu saya tidak memilih foodcourt ), saya ingin membaca buku kesayangan sambil mendengarkan JEW dengan khusyuk, jadi saya memang membutuhkan tempat yang benar-benar PW-lah istilahnya, ga ada alasan sok2an, kemodern2an, dan high class2an lho. Saya tahu Starbucks mengolah biji-biji kopi negara berkembang ( Indonesia, Brazil, dll ) untuk diolah, dikemas, di-branding, di-promo, diiklankan, dan tentu dijual dengan harga murah ( eits bagi orang amrik sana, @ Rp.30.000,- / $3.5 ) dan sangat mahal untuk secangkir kopi ( nah ini baru bagi orang kaya kita-kita @ Rp.30.000,- ), padahal petani-petani kopi itu sama sekali ga nambah kaya, barista-barista yang bikinin kopinya juga ga tambah kaya dan kece. Terus, siapa dong yang tambah kaya??? Siapa lagi kalo bukan....  ( jawab sendiri aja deh, hitung-hitung kuis berhadiah ).

Maka dari itu saya ga beli kopi, saya belinya hot chocolatte, at least saya tahu emang cocoa itu harga olahannya lebih tinggi dari kopi dan saya ga merasa ditipu-tipu amat gitu. Selain itu, saya emang huge fans of chocolatte, terus apa hubungannya dengan saya jahat?

Oke, saya duduk dikursi pinggir kaca, jadi saya bisa lihat hujan sudah berhenti atau belum, namun ternyata saya juga bisa lihat pemandangan lain. Diluar sana, ditengah hujan badai yang saya sendiri takut sekali untuk menerobosnya, saya melihat ada anak kecil ( kurang lebih umurnya 6-7 tahun ) sedang menerjang hujan dan menjajakan payung, disekitarnya ada juga sekawanan anak-anak lain yang juga ojek payung. Saya bengong menatapnya, kepala saya dipenuhi berbagai pertanyaan, emang ga sakit? Ga kedinginan? Dapetnya berapa? Orang tuanya siapa? Sekolah ga? And so on... Kepala saya terasa ditusuk-tusuk, hati saya kaya dikocok-kocok, saya sama dengan mereka, orang Indonesia ( though its something hard for me to deal with ). Tetapi saya tidak melakukan apa-apa saat melihat neokolonianisme, ga usah baca Newsweek, Bussinessweek, atau Kompas buat tahu bahwa negara ini belum merdeka dan masih terjajah, we see it explicitly but we seems abandon and deny it.

Kalau memang katanya negara Indonesia merdeka, kenapa saya bisa melihat pemandangan itu? Kenapa mereka tidak kesekolah seperti saya? Mereka kan punya hak untuk itu yang katanya diatur di UUD '45 pasal 34, yang katanya tercantum dialinea 4 pembukaan UUD '45? Apa perumusnya mengarang saja?

November 20, 2007 - Tuesday 

Category: Music

Di saat saya melewatkan 1 minggu kemarin dengan penuh kesuntukan, ternyata saya mendapat sedikit pencerahan. Suntuk dan bosan itu biasa tapi masalahnya saya sendiri sudah terjepit dengan berbagai pekerjaan yang entah mengapa menumpuk di satu minggu -I hate that messed up busy activities but unfortunately i really2 love being busy- tenaga saya serasa terkuras fisik maupun mental. Di sela-sela kebosanan saya, ada banyak album baru yang menghampiri playlist saya. Dua diantaranya adalah band yang saya gilai sedari dulu. Dua band yang sudah lama saya kagumi kembali dengan album barunya dan betapa senangnya saya mendengarkan album terbaru mereka yang kembali seperi album2 awal.

 

    Album pertama yang akan saya bahas adalah Chase The Light milik Jimmy Eat World, track-tracknya kembali menggila dan sangat cocok untuk soundtrack-soundtrack film amerika. Dengan distorsi yang JEW banget dan tone vokal yang khas. Dan seperti biasa... lirik lagu-lagu di album ini bagus2, membangkitkan semangat buat orang-orang yang terpuruk. Track yang saya rekomendasikan antara lain track ke-4, "Carry You". Ini lagu liriknya lumayan dalem dan beatnya enak. Bayangin aja coba ni kutipan liriknya:

 

"It's easy feeling righteous when removed. All you'll get is what you wanna hear. It hurts because it should. How else am I to make it clear?

I could never be the one that you want, don't ask.

Well, here's to living in the moment

"Cause it passed."

 

 Trus track 12 " Dizzy" juga enak buat didenger, Intinya di album ini Jimmy Eat World sudah semakin dewasa dan memantapkan musiknya.

 

Album kedua yang akan dibahas yaitu punya si ganteng Chris Carraba alias DC (dashboard confessional) judulnya "the shade of poison trees". Mungkin karena di album Dusk & summer kemaren doi udah puas pake gitar elektrik, di album ini si Carraba balik lagi ke gitar akustik. Buat yang kangen sama lagu-lagu DC kaya "swiss army romance","for u to notice", dan lagu-lagu dari album lamanya, album ini cocok banget untuk anda. Ternyata track yang judulnya diambil buat judul album ini bagus banget, baik lirik maupun musik. kata si chris di lagu ini sih "Is there truth in your pain? You decide. If you knew, what I know, would you try? As we lie in the shade of poison trees, Are we as safe as we let ourselves believe?" Ada juga "the rush" yang mengingatkan kita pada era-era hands down. Intinya, si Carraba back to basic di album ini.

 

Kedua album ini benar-benar membangkitkan semangat masa puber saya. kebetulan pas saya SMP saya lagi tergila-gila dengan dua band ini. Album-album ini mengajak saya untuk terus maju apapun yang terjadi, loh? emang nyambung? nyambung bangettt kaliii....makanya cari deh dua album ini dan dengarkan dengan seksama!! Mungkin akan membantu bagi anda yang putus asa, hehehehe.....

 



November 5, 2007 - Monday 

Category: Religion and Philosophy


Bad Religion

    BAru-baru ini ada isu yang lagi happenig di sekitar kita, yaitu tentang adanya agama sesat Al Qiyada. Menarik sekali nampaknya untuk dibahas. Para pengikutnya yang udah mulai ditangkepin sama pihak yang berwajib. Klo kita mau mengangkat masalah ini sih kita sendiri sebenarnya tidak menutup mata dan tahu di luar sana banyak agama2 yang berbeda dengan apa yang kita yakini. Sebut aja (tanpa sok disensor-sensor) ada LDII, NII, Saksi Yehova, Moromonisme, atau yang heboh sebelumnya ada AHmadiyah. Mungkin banyak dari kita yang ketika nonton beritanya di tv tuh terheran2 sama mereka, reaksi kita mungkin " ih…kok bisa sih percaya kaya gitu", "coba deh mana mungkin??", "Astagfirullah..mereka kok belum sadar ya?" dan berbagai bentuk kecaman dan cibiran lain buat agama dan pengikutnya tersebut. Kita menganggap mereka sesat, ajaran yang diajarkan menyimpang, dan masih banyak lagi.

 

Ok…sekarang saya hanya ingin mengungkapkan pandangan saya tentang hal ini. Buat yang setuju dan tidak setuju itu terserah anda.

Pertama2 saya mau menanyakan lagi…apa sih sesat itu??? Menyimpang dari ajaran yang selama ini kita pelajari? Melenceng dari firman Allah?? Atau mungkin ada yang berpendapat bahwa itu hanya kerjaan segelintir orang gila??? Hello….knock..knock there….kita melihat mereka sesat, mereka melihat kita sesat, jadi siapa dong yang sesat?

 

Ini adalah soal keyakinan. Saya yakin akan Tuhan, biarpun mungkin saya dan anda sama2 percaya Tuhan, sama2 islam, belum tentu "Tuhan" dan "Islam" yang saya yakini dan ada di kepala saya itu sama dengan anda. Keyakinan terhadap Tuhan itu urusan saya dengan Tuhan. Saya mau kaya gimana itu kan saya dan Tuhan yang tahu. TUhan yang menilai saya berhasil atau gagal, saya dapat pahala atau dosa. Buat saya itu hal yang sangat privat, toh kalau saya masuk neraka saya gak bisa ngajak2 orang lain, toh kalau saya masuk surga saya tidak bisa membookingkan tempat disana untuk anda. Sekali lagi ajaran yang saya yakini dan pahami tentu berbeda dengan apa yang anda yakini. Ok….Saya mau terang2an aja. Buat ajaran islam, yang gak percaya Tuhan dan Rasulullah itu kafir, Buat ajaran Kristen, yang tidak berkeyakinan sama itu domba2 yang tersesat. Ya….klo mau dilihat dari kita…dari kebenaran yang kita anut, yang beda ya sesat…ya salah buat kita. Tapi bagaimana buat orang yang meyakininya??? Urusan ajaran sesat itu melenceng dari Firman Tuhan itu kan karena apa yang kita yakini dengan mereka itu berbeda. Teman saya ada yang bersikeras bilang bahwa mereka sesat karena menurut dia Tuhan tidak pernah menurunkan wahyu tentang itu. Itu kan TUhan yang dia percaya, coba Tuhan yang dipercaya sama mereka???

Kebenaran itu tidak pernah mutlak alias relatif. Saya heran banget kenapa polisi menangkap pengikut Al Qiyada, kurang kerjaan aja ngurusin orang sama TUhan dan agamanya. Mending ngurusin pelaku korupsi yang katanya beragama, percaya TUhan tapi seneng banget makan sesamanya.

 

Agama menjadi sebuah agama karena mereka orang-orang dengan keyakinannya yang sama berkumpul, berinteraksi, mensakralkan hal2 tertentu, melakukan upacara tertentu, menmbuat symbol dan berbagi symbol tersebut, untuk kemudian mereka memiliki kesadaran kolektif dan mereka membentuk suatu komunitas. Anda meyakini Alquran murni dari Tuhan atau tidak itu hak anda, Anda percaya akan Trinitas atau Bunda Maria itu juga hak anda, Wong itu urusan anda dengan TUhan.

 

Pada akhirnya kita sebagai manusia yang termasuk makhluk social tentu harus sadar bahwa apa yang kita lakukan itu ada efeknya ke orang2 lain. Yah domino effect gitu contohnya saya beli sayur di seorang pdgang sayur, uang saya tadi dibelikan makanan untuk anak si tukang sayur, anak tukang sayur bisa hidup dan bermain karena makanan tadi, karena dia bisa hidup dia masih bisa membantu org tuanya dengan berjualan keripik, keripiknya dibeli oleh orang untuk oleh2 dan seterusnya. Karena kita tidak hidup sendiri. Asalkan apa yang kita lakukan tidak berefek buruk ke orang2 seperti menyakiti atau menyusahkan ya tidak apa2.

 

Al Qiyada yang katanya meresahkan itu karena mereka dianggap menyimpang oleh masyarakat sekitar. Mereka berbeda tidak melakukan hal yang selumrahnya dilakukan oleh kelompok. Mungkin kalau mayoritas penduduk daerah tsb menganut Al Qiyada, orang2 Islam juga akan dianggap meresahkan.

 

Sekarang bukan saatnya lagi mengklaim siapa yang paling benar, siapa yang paling asli, siapa yang menang, siapa yang kalah…Yang penting bagaimana kita menjadikan dunia ini menjadi lebih nyaman dan ramah untuk ditinggali. Perbedaan itu wajar tapi gimana caranya kita bisa menghargai dan menjalani itu dengan baik. Bagaimana yang mayoritas tidak menginjak yang minoritas, bagaimana yang minoritas menghargai yang mayoritas. Dunia udah cukup deh kayanya sama yang namanya perang….hehehehe….so why don't we make a beautiful place to be living in???

November 5, 2007 - Monday 

Category: Life

   

Kenangan Tentang Impian

    Lima tahun yang lalu ketika saya masih SMP, saya mulai memikirkan cita-cita yang lebih memungkinkan. Ya…bukan cita2 anak SD yang klo gak dokter, astronot, pilot, guru, dan semacam itulah. Sebenernya dari kecil saya memang agak2 anomali, ketika teman2 ingin mejadi dokter, saya juga mau jadi dokter tapi dokter forensic.hahahha..serem amat. Atau pas udah gedean dikit saya mimpi mengudek2 mumi di mesir dengan menjadi arkeolog. Pernah juga mau jadi astronot pas lagi menggandrungi STAR WARS. Emang dasar anak kecil ya muluk2 aja pengennya. Sampai pas SMP akhirnya saya sadar itu semua rada2 muskil untuk diwujudkan seiring dengan mulai sadarnya saya akan bidang apa yang saya minati.

 

 Saya hobi banget menulis, dalam bentuk apa aja kecuali mencatat pelajaran di kelas.hohoho….Dari cerpen, diary, sampai gaya2an bikin script film. Hobi saya yang satu ini kayanya muncul karena hobi saya satu lagi yakni membaca. Menurut saya otomatis aja dengan saya membaca berbagai buku saya lalu menuangkan imajinasi dalam sebuah tulisan. Saya juga suka benget baca majalah, apa aja mulai dari majalah cewek, cowok, tempo, dll. Akhirnya saya mulai mencari2 bidang yang ada hubungannya dengan menulis, membaca, dan majalah. Setelah mencari tahu lewat berbagai sumber, saya menemukan komunikasi sebagai pilihan studi yang akan saya pilih nantinya. Dari situ saya sudah tahu nanti pas SMA saya mau masuk jurusan IPS atau bahasa klo ada. Waktu itu sih saya udah bermimpi untuk kuliah jurusan komunikasi di UI. Kenapa UI? Karena sangat bergengsi katanya. Kata mama papa&orang2, yang masuk UI itu orang2 yang pinter dan terpilih lewat seleksi ketat jadi klo kuliah di UI kayanya pinter dan kheren banget gitu…..

 

Lulus SMP, saya masuk SMA 70 yang katanya persaingannya ketat, orangnya pinter2 tapi ternyata gurunya kacrut2….hahaha…..Kenapa saya masuk 70? Karena kata mama itu SMA unggulan dan gak gampang buat masuk situ. Yah namanya juga anak SMP masih percaya yang begituan. Biarpun nyatanya bener tapi tetep aja jauh dari bayangan. Biar bagaimanapun saya mengalami masa2 SMP dan SMA yang begitu berkesan. Di 70 kayanya ada doktrin buat anak2nya masuk Universitas Negeri. Secara kakak2 kelasnya banyak yang tembus SPMB dan kayanya pas mereka jadi alumni trus pamer ke skolah ketika tembus SPMB mereka terlihat begitu cool! Semakin mantaplah saya untuk menuntut ilmu di UI. Di masa SMA ini saya makin yakin klo saya pengen banget masuk komunikasi. Saya bemimpi kerja di tempat2 yang menuntut kreatifitas, yang ke kantornya boleh pake sendal, boleh gaya, kaya di majalah2 atau agency iklan gitu. Kayanya kerjaan mereka seru banget.

 

Dan hari itu pun tiba….impian saya selama bertahun2 terkabul! Saya menjadi mahasiswi ilmu Komunikasi UI yang katanya passing Grade SPMBnya tinggi, yang kayanya bergengsi banget gitu…..

 

And here it comes…..dua tahun lebih saya menjadi mhasiswa kom UI namun kebanggan itu (terutama dari diri saya sendiri bkn org lain) tetap tidak muncul juga. Entah kenapa semua impian saya kok tidak terjadi. Kalaupun ada orang yang menyesal masuk UI, mungkin saya salah satunya.hahaha…..Perkuliahan yang saya bayangkan begitu seru, dinamis, bermutu. Tidak tahu salah siapa semua menjadi tidak sesuai impian, entah dosennya yang membosankan, pelajarannya yang kurang menantang, atau apapun itu. Mungkin karena saya memilih program studi iklan. Sebenarnya saya ingin masuk ke komunikasi media untuk diarahkan menjadi kritikus media atau semacam effendi ghazali gitu. Namun saya berpikir untuk apa saya mengkritik tanpa tahu apa yang saya kritik? Akhirnya saya masuk Iklan. Ngelesnya sih biar tahu apa yang dilakukan para kapitalisme itu untuk mengelabuhi kita. I always love to break the rules but how could u break it if u don't even know the rules? Untungnya saya masih bisa mengambil mata kuliah lain selain iklan. Jadi disamping belajar teorinya si Philip Kotler saya juga belajar teorinya Marx, Mcluhan, dan Focault (dengan sedikit seat in di kelas lain). Ya…biar gak sia2 lah masuk UI…hehhee….

 

Semakin kesini, saya semakin ragu untuk kerja jadi copywriter di  AD agency ternama, jadi wartawan atau fashion editornya cosmogirl. Agency2 dan majalah2 ternama bukan lagi impian saya. Sekarang saya hanya mengimpikan saya dapat berbuat banyak untuk membantu orang yang kurang beruntung lewat ilmu2 yang sudah saya pelajari. Eits….maksud orang2 yang kurang beruntung bukan hanya kaum dhuafa lho. Orang yang tidak tahu bahwa GAP itu memperkerjakan anak2 dibawah umur dengan upah rendah, yang tidak tahu klo Festival Europe onscreen propaganda halus uni eropa, yang tidak tahu bahwa acara2 TV bukan hanya sekedar "acara" tetapi banyak maksud terselubung di dalamnya termasuk dengan kategori itu.  Saya ingin menyadarkan mereka, memberi tahu mereka bahwa dunia tidak senaif itu. Saya ingin membantu anak di papua mengenyam pendidikan, Saya ingin memberi tahu perempuan lelaki itu makhluk yang benar2 sedrajat dengan kita, Saya ingin membuat dunia yang kita tinggali dengan kita sebagai penghuninya menjadi jauh lebih baik. Dengan apa? Lewat apa? Dengan banyak cara dan lewat banyak cara tentunya…..Cheers!!!!

 

September 29, 2007 - Saturday 

Current mood:  intimidated
        Dear mate.....if u have a pair -or maybe more- of nike shoes, u should feel guilty for taking part in a major exploitation of human made by Nike. I'll let u know something that u even never think about it before. Beyond ur cool shoes, there're some cruelty of capitalism. And in capitalism, the choice is just WORK OR DIE !!! If u think it's not ur problem, u're successfully wrong! Because we live in a false consciousness. Don't call ur self as a human kind or a religious one if u see there's a man eat the other man and u still there...doing nothing. The easiest way to act is stop support this exploitation.!!!

Get more facts here : just read and bleed......



Nasib Buruh Terinjak Sepatu Nike
(analisa marxis terhadap Nike)

    Di Indonesia cerita tentang pengeksploitasian Nike terhadap para buruh sudah bukan hal baru lagi. Berdemonya para buruh pabrik PT Hardaya Aneka Shoes Industry (HASI) dan PT Nagasakti Paramashoes Industry (Nasa) yang berjumlah sekitar 14.000 orang pada pertengahan Juli kemarin merupakan kasus yang kesekian kalinya dalam sejarah investasi Nike di Indonesia. Para Buruh yang turun untuk berdemo di kantor Nike Indonesia itu memprotes pemutusan hubungan kerjasama Nike dengan kedua pabrik tersebut. Pemutusan kontrak tersebut akan mengakibatkan 14.000 buruh kedua pabrik tersebut menganggur. Karena sudah sejak beberapa bulan yang lalu Nike mulai mengurangi pesanannya, dengan alasan mutu yang kurang baik dan ketidaktepatan waktu pengiriman.
       
    Hal yang jarang kita ketahui tentang merek sepatu yang tergolong mahal ini adalah bagaimana nasib buruh pabrik yang seharinya bisa mengerjakan sepatu dalam jumlah banyak. Gaji sebulan dari buruh pabrik HASI (tidak termasuk lembur) yang sudah bekerja selama 10 tahun sebesar Rp 900.000,- atau sama dengan $97,8 (dengan kurs Rp 9.200/ $1) yang berarti mereka hanya mendapatkan RP 30.000,-/harinya atau setara dengan $ 3,3. Dengan pendapatan harian sebesar $3,3 terebut mereka bisa membuat sejumlah sepatu Nike yang dijual oleh pabrik ke Nike di kisaran $11-$20. Sedangkan untuk satu pasang sepatu Nike bisa dibanderol seharga $60 (Rp 552.000,-). Berdasarkan gambaran tersebut, Nike sudah dipastikan tidak mengahargai buruh dengan sepantasnya. Mengingat dengan gaji Rp 900.000,-/bulan bagi buruh pabrik yang tinggal di Tangerang adalah jauh dari cukup karena harga kebutuhan maupun ongkos transportasi semakin meningkat.

Lalu bagaimana dengan pandangan Marx mengenai kasus ini?
   
    Jauh sebelum merek Nike dan berbagai macam bentuk eksploitasi kapitalis ada, Karl Marx sudah mengemukakan berbagai teori yang terkait dengan kasus di atas. Sebagai seorang determinis ekonomi, Marx memandang segala dinamika di balik sejarah adalah proses produksi. Dan yang dimaksud oleh Marx sebagai produksi mencakup tiga hal: yang pertama proses sebenarnya yang terjadi dalam produksi, hubungan sosial yang terbentuk akibat dari proses tersebut, dan hasil dari proses tersebut yaitu produk itu sendiri. Cara-cara atau proses produksi (means of production) mengacu pada metode dan bahan-bahan yang diapakai untuk mempertahankan proses tersebut. Dalam kasus ini adalah pabrik, mesin-mesin produksi, bahan baku sepatu, dll. Sedangkan hubungan produksi (relations of production) adalah beberapa bagian terkait dengan proses produksi (means of production) dalam bahasan ini adalah Nike pemilik modal, Pemilik pabrik sebagai penyedia sepatu,dan buruh sebagai pembuat sepatu. Nike menjalin kontrak dengan ± 30 pabrik di Indonesia dengan memperkerjakan sekitar 120.000 buruh.kemudian buruh-buruh tersebut digaji oleh pabrik. Hal ini telah terbangun relasi sebagai akibat dari proses produksi sepatu tersebut. Hasil dari proses tersebut (
the result of production) adalah sepatu Nike yang dibeli dengan kisaran harga $11-$20/pasang dari pabrik dan dijual dengan kisaran $40-$160/pasang di gerai-gerai sepatu seluruh dunia.

    Bagi Marx, sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas. Marx membagi stuktur kelasnya cenderung secara bipolar (bipolarization) dan di bawah kapitalisme, dua posisi tersebut adalah Borjuis (pemilik modal) dan Proletar (pekerja). Si borjuis sudah pasti Nike, walaupun Nike menjalin kontrak dengan pabrik, dia tetap pemilik modalnya dan dia membeli sepatu tersebut dari pabrik. Sedangkan si Proletar adalah si buruh, yang bekerja membuat sepatu-sepatu tersebut Kapitalisme terbentuk oleh penanaman modal terus menerus dari keuntungan untuk kemudian memperoleh keuntungan yang lebih banyak.

    Menurut siklus bisnins Marx (Marx's Business Cycle), Seiring kapitalis menanamkan modalnya dari keuntungan sebelumnya, permintaan akan buruh (pekerja) meningkat, peningkatan ini berakibat pada pengumpulan pekerja (labor Pool) dan jumlah pengangguran berkurang. Lalu seiring dengan banyaknya komoditas dan ketika permintaan lebih besar daripada penawaran, harga merambat naik yang berimplikasi pada kenaikan gaji tentunya. Dengan menaikkan gaji tersebut berarti keuntungan perusahaan menurun, maka perusahaan memangkas produksi yang berakibat krisis ekonomi, krisis menuntut perusahaan untuk mem-PHK pekerjanya dan perusahaan-perusahaan kecil gulung tikar. Lalu perusahaan besar membeli perusahaan-perusahan kecil tersebut dan mereka kemudian tergabung dalam kelas pekerja (working class). Begitulah siklus ini terus berulang hingga kelas pekerja yang bergantung pada perusahaan semakin banyak dan modal hanya dimiliki oleh sebagian kecil pihak kapitalis.

    Nike yang meningkat penjualannya setiap tahun tentu akan memproduksi lebih banyak sepatu setiap tahunnya untuk melayani kebutuhan sepatu dunia. Maka dari itu Nike membutuhkan semakin banyak pekerja namun kembali ke prinsip kapitalis dimana peningkatan keuntungan adalah yang utama, Nike tentu menekan ongkos produksi dengan mencari produsen sepatu yang menawarkan harga murah yang berarti gaji buruhnya lebih kecil. Menurut Hartati Murdaya (komisaris PT. HASI & NASA), Nike menghentikan kontraknya karena masa kerja buruhnya yang panjang (rata-rata sudah 10 tahun) membuat buruhnya telah menikmati gaji yang tinggi dan sudah jauh di atas upah minimum regional (UMR). Kondisi ini membuat perusahaannya tidak kompetitif lagi. Sementara, pesaingnya kini semakin banyak dengan upah buruh Rp 500.000 per bulan. Maka dari itu, perusahaan lain masih mau menerima order Nike dengan $11-$20 per pasang dan bagi dia, nilai sebesar itu sudah tidak memberikan marjin keuntungan yang memadai lagi bagi perusahaannya. Maka Nike mencari harga manusia yang lebih murah.

     Menurut Marx, tenaga manusia (human labor) adalah komoditas yang diperjualbelikan dengan harga yang tidak sepantasnya. Menurut teori nilai tentang pekerja (value theory of labor) nilai dari komoditas ditentukan oleh berapa lama waktu kerjanya. Permasalahannya adalah upah para pekerja jauh dibawah nilai dari apa yang dia produksi. Jika kita melihat lagi berapa harga sepatu Nike di pasaran, gaji sekecil itu (mis. Rp500.000 seusai yang dicari Nike) sangat tidak sebanding. Surplus tersebut adalah keuntungan yang didapat oleh pemilik modal. Hal tersebut tentu mengakibatkan Gap antara pemilik modal (Nike) dan pekerja (buruh) semakin menganga dan mengarah pada konflik bipolarisasi.

    Konsekuensi dari kapitalisme tersebut antara lain adalah Alienasi. Berdasarkan Marx, ada tiga bentuk alienasi: Teralienasi dari proses bekerja, dari produk itu sendiri, dan dari orang-orang lain. Pekerja teralienasi dari kerjanya ketika mereka terpangkas dalam proses produksi (means of production). Karena orang lain adalah pemilik modalnya dan dia bukan, pekerjaan itu otomatis berada di luar pekerja (external to the worker). Kemudian pekerjaan tersebut dipaksa, orang bekerja karena dia memang harus bekerja jika tidak, tentu tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Dan pada saat mereka bekerja, produk yang dibuat bukan milik dan untuk mereka melainkan untuk para pembeli nantinya. Para buruh Nike, jangankan memakai, memiliki sepasang sepatunya pun tidak. Mereka resmi teralienasi dari benda yang dibuat oleh mereka. Bentuk konsekuensi lain dari kapitalisme adalah kesadaran palsu (false consciousness) dimana lapis atas (borjuis) mempertahankan kekuasaan mereka dengan menanamkan norma-norma mereka sehingga lapis bawah (proletar) hidup dalam kesadaran semu. Dengan adanya uang lembur, bonus, mobil transport, pelayanan kesehatan gratis, standar bebas kimia dalam ruang kerja dan iming-iming lainnya yang dijanjikan Nike lewat standarisasi pabriknya, mereka terus ditanamkan bahwa Nike peduli dengan pekerjanya dan dibuat seakan-akan gaji mereka sebenarnya cukup untuk hidup padahal kenyataannya tidak mencukupi.

        Berkaca pada kasus pengeksploitasian Nike sebagai pemilik modal terhadap pekerjanya tersebut, kapitalisme terbukti membuat yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin miskin, jurang yang ada semakin lebar. Berdasarkan siklus bisnis Marx tadi, didapatkan gambaran bagaimana Nike atau kapitalis tentunya berorientasi pada laba dan cara yang dilakukan untuk peningkatan tersebut adalah mencari tenaga kerja yang lebih murah lalu menjual produknya dengan harga tinggi dibantu dengan advertising untuk meningkatkan penjualan. Pekerja di Indonesia yang berjumlah 120.000-an mungkin harap-harap cemas dalam mempertahankan hidupnya. Berharap Nike akan terus memproduksi sepatunya agar mereka tidak kehilangan pekerjaan dan dapat terus menghidupi keluarganya. Walaupun mereka teralienasi, mereka tidak begitu peduli asalkan penghasilan bulanan tetap ada. Dalam era kapitalisme ini kita dihadapkan pada dua pilihan, bekerja atau mati. Dan pemerintah, bagaimana sikapnya? Kapitalisme sudah menjulurkan akarnya kemana-mana hingga lembaga pemerintah, dengan dalih menarik investor asing tidak peduli investasi jangka panjang atau pendek, pemerintah membuat peraturan yang kurang berpihak pada lapis bawah. Jika pemerintah belum melakukan kontrol yang tepat pada para investor dan perlinddungan pada buruh, cerita berbondong-bondongnya buruh untuk memprotes akan terus berulang. Dengan gambaran di atas, masih banggakah kita mengenakan sepatu seharga Rp 600.000 berlambang strip tersebut yang telah menginjak nasib ribuan buruh? Tidak hanya di Indonesia namun juga di negara-negara lain (vietnam, Bangladesh,Thailand). 
-aVra adoRe-



Last Updated: 5/5/2009

Send Message
Instant Message
Email to a Friend
Subscribe

Gender: Female
Status: In a Relationship
Age: 21
Sign: Taurus

City: Unfortunately Jakarta
State: islam
Country: ID
Signup Date: 6/25/2005

Blog Archive
[Older      Newer]
 /  / 
>