 |
„The end of something is the beginning of a new“
Tempat itu
adalah pulau kecil di bagian barat perairan Nusantara. Hanya pulau
kecil yang dulu menjadi tempat bagi nelayan dan bahkan perompak. Memang
daerah itu berada di jalur perdagangan yang sempat dikuasai kerajaan
Aceh dan juga Malaka, meski bukan meeting point utama di era keemasan
perdagangan Asia Tenggara. Kini, tempat itu menjadi negeri kecil yang
maju di kawasan Asia Tenggara. Tempat itu telah menjadi tanah bagi
banyak gedung-gedung bertingkat dan tujuan wisata belanja. Seminggu
kemarin, tempat itu telah memberikan pengalaman yang berharga bagiku,
seolah menjadi closing part yang happy ending.
***
Awal
2005, aku memulai aktivitas bermusik. Mulai membuat lagu dan
mengedarkannya sendiri. Beberapa tahun sebelumnya, aku sangat tertarik
dengan—ya, katakanlah—scene musik independent di kotaku. Aku mulai
membaca majalah-majalah lokal, memerhatikan band-band yang bermunculan,
mengolah ketertarikan terhadap musik-musik mereka dan kemudian
menyukainya. Saat itu aku berpikir, ya tepat, aku menemukan hal yang
aku sukai.
Elemental Gaze. Aku memberikan nama itu kepada band
yang telah kubentuk setelah mendengarkan lagu Robin Guthrie. Berdua
bersama teman sebangku dan sekelasku, aku mulai menata hal-hal kecil
untuk band ini. Akhirnya, untuk pertama kali aku manggung dengan band
ini. Kala itu, rasanya sangat menakjubkan bisa manggung disana, bahkan
bertemu dengan band-band lokal yang aku sukai. Dan hal yang paling
menyenangkan adalah bertemu dengan teman-teman baru, dengan kesukaan
yang sama pula. Saat itu, tak ada alasan untuk berhenti dari aktivitas
ini. Aku menyukainya.
Rasa jenuh sempat singgah hingga akhirnya
aku bertemu teman-teman baru yang membantuku untuk memulai kembali
aktivitas band ini. Hingga saat ini. Kemudian banyak kejutan,
kekesalan, kesenangan, dan pelajaran yang datang selama 2 tahun bersama
mereka, bersama orang-orang yang kemudian masuk ke dalam lingkaran
hidupku.
Tepat satu tahun kemarin, di bulan Ramadhan, untuk
pertama kalinya band ini masuk studio recording. Saat itu pertama
kalinya juga aku melakukan take vocal, yang ternyata sangat sulit.
Pulang dari studio itu aku merasa sangat lega karena akhirnya recording
yang sudah lama direncanakan terjadi juga. Minggu berikutnya, band ini
menjalani proses mixing yang cukup lama. Aku harus mencuri waktu di
malam hari untuk mengerjakan semua materi lagu. Jadwal kuliah padat
disertai kegiatan lain di kampus membuatku harus memotong waktu tidur
untuk mengerjakan materi lagu. Sering aku merasa kesal karena teman di
band ini jarang menemani proses pengerjaan. Dan jika mereka datang, aku
selalu memesan bir dingin sebagai bagian dari pelampiasanku pada
mereka. Tepat 5 hari kemarin, rilisan band ini akhirnya keluar. Aku
merasa segala sesuatunya berbuah dan terbayar. Ketika aku mengetahui
kabar rilisan ini, aku teringat percakapan dengan Akbar, dan aku
benar-benar merasakan ucapannya.
Dua bulan sebelumnya, aku
merasakan kejutan besar bagi band ini. Kami pergi ke Malaysia dan
manggung bersama Mono. Hal yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan
sebelumnya. Saat itu aku benar-benar merasakan ucapan everything is
possible. Aku sempat berkata pada Taka, salah satu personil Mono, bahwa
aku tak pernah menyangka akan bertemu mereka, sungguh tidak akan
menyangka. Kemudian dia berkata, sekali lagi, bahwa segala sesuatu di
dunia ini bisa terjadi dan kau telah mengalaminya. Aku hanya diam dan
tersenyum.
Akhir bulan kemarin, kejutan besar kedua hadir. Kami
turun dari ferri yang membawa kami ke Singapura. Ah, akhirnya aku
sampai juga di tempat ini. Hari-hari menjelang keberangkatan tidak kami
persiapkan dengan waktu yang lama. Untuk persiapan manggung pun aku dan
Bilan hanya latihan selama 2 hari. Hari-hari sebelumnya aku sempat ragu
dan tidak yakin perjalanan ke Singapura akan berjalan mulus. Pikiranku
dipenuhi dengan spekulasi. Tapi, di hari sebelum berangkat, kejutan
besar datang lagi ke band ini dan akhirnya kami pergi dengan tenang.
Perasaanku
masih diliputi rasa enggan yang bercampur dengan keinginan untuk
memberikan kemampuan semaksimal mungkin untuk manggung di Singapura
ini. Aku meyakinkan diriku bahwa ini adalah manggung terakhirku dan
segala sesuatunya harus berjalan lancar. Namun, tetap saja perasaan
gamang mengikutiku. Hal itu kuobati dengan melihat Bilan yang tampak
sangat semangat di perjalanan ini. Aku berpikir, mungkin dia pun tahu
bahwa ini akan menjadi manggung terakhir bersamaku. Sedikit demi
sedikit rasa gamang itu mulai mereda.
Minggu malam jam setengah
9, kami naik ke panggung. Aku melihat kerumunan orang di depanku,
banyak sekali orang yang datang. Aku yakin kali ini akan berbeda dari
manggung di Malaysia, yang saat itu dipenuhi rasa tegang. Kami bermain
lepas, seolah tidak ada beban. Sound monitor yang jernih dan kencang
membuat kami lupa diri. Aku sampai lupa untuk mengucapkan list thanks
to. Setiap memainkan lagu membuatku ingin tersenyum dan bicara pada
Bilan, „anjirr bil, poll pisan soundna, urang kangeunahan kieu“. Itu
adalah manggung tersingkat yang pernah kualami. Setengah jam yang
terasa seperti 5 menit. Kami turun dari panggung, saling tersenyum dan
dilanjutkan tawa. Itu adalah manggung terbaik kami.
Dua hari
kemarin, saat sedang ngobrol via YM aku dikabari Fitrah bahwa album
pertama sudah dirilis di Jepang. Kemudian dia mengirimkan sebuah link
website. Aku mulai mengunduh datanya satu per satu. Ketika kubuka aku
kaget dan tertawa girang. Aku mengirimkan link itu pada Riri yang saat
itu sedang ngobrol denganku. Setelah beberapa menit, dia membalas, „Fu,
anjirrr poll“. Dan saat itu aku merasa bahwa ini adalah pencapaian
tertinggi hidupku saat ini.
***
Aku sering berpikir bahwa
banyak hal muram yang datang padaku, yang kualami. Namun, aku juga
melihat betapa banyak hal-hal baik datang. Keduanya adalah satu paket
dalam hidup ini. Namun saat mengalami salah satu darinya, seringkali
aku merasa bahwa hanya hal itu saja yang ada pada hidupku. Ah, kadang
aku lupa.
Aku pernah bercerita tentang keburukan hidup pada
teman baikku. Tentang pengalaman melihat hal-hal yang tak kuinginkan
untuk kulihat. Kemudian dia berkata, „tapi maneh kudu bersukur ad“.
Untuk membalas sms itu, aku berpikir cukup lama. Aku merasa tidak tahu
caranya bersukur, semenjak aku menyadari bahwa ucapan thanks God
bukanlah cara untuk bersukur bagiku. Aku ingin berkata, „tapi aku tidak
tahu caranya bersukur, apakah sekedar alhamdulillah itu disebut
bersukur?“. Aku hanya yakin bersukur itu dengan melakukan sesuatu hal
yang baik bagi diriku dan orang lain. Namun, aku sering merasa belum
melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain. Aku selalu merasa kurang
dalam melakukan sesuatu. Aku merasa ini seperti proses belajar, yang
ketika kau banyak membaca malah menjadikan kau semakin tidak tahu
apa-apa. Kupikir bersukur bukanlah hal yang definitif. Sampai saat ini
aku tidak tahu cara bersukur. Aku hanya yakin berbuat baik untuk adalah
cara bersukur yang paling baik.
Tiga tahun lebih aku menjalani
banyak hal bersama band ini, bersama orang-orang yang telah menghilang
dan yang datang, bersama teman-teman baik yang berada dalam hidupku.
Mungkin setengah dari kebahagianku datang dari hal ini. Beberapa orang
kadang menganggapku serius dalam aktivitas musik, dengan segala hal
yang kuperoleh darinya. Tapi aku menyangkal bahwa aku serius. Tidak,
aku hanya bermain-main dengan aktivitas ini. Aku tidak memprioritaskan
hal ini meski sepertinya aku lupa bahwa dalam penyangkalanku aku banyak
menghabiskan waktu untuk bergelut dengan aktiviitas ini, membuat lagu
dsb. Aku hanya menyenanginya tanpa menganggapnya sebagai sesuatu yang
serius. Aku menyenangi membuat lagu, membaginya dengan orang lain, lalu
ngobrol panjang dan berteman karenanya. Ngobrol karena sesuatu yang
telah kau ciptakan adalah kebahagiaan yang terbesar. Membuat
orang-orang yang mulanya tidak saling mengenal kemudian terhubung dan
saling berbagi karena karya yang kita buat adalah sesuatu yang ajaib.
Hal itu sendiri telah memperlihatkan bahwa segalanya mungkin di dunia
ini.
***
Akhirnya, aku menepati janji yang aku buat dari
tahun kemarin. Aku berhenti dan keluar dari kelompok kecil yang
memberiku banyak hal, band bernama elemental gaze. Aku tidak pernah
mengira bahwa akan banyak hal—yang lebih sering kusebut reward—untuk
band ini. Dari pertemanan yang terhubung hingga pengalaman manggung dan
rilis album. Aku yakin banyak orang yang mengalami hal ini, bahkan yang
mengalami pengalaman yang lebih edan. Aku sendiri yakin, bukan dari
rewards, penghargaan, bayaran mahal, fasilitas nyaman, atau label
musisi yang menjadikan hal ini bernilai, tapi dari pelajaran dan
pemberian nilai hidup yang didapat darinya. Dari terhubungnya
orang-orang yang tak saling mengenal hingga bisa tertawa karena ada
sesuatu yang yang mereka sukai. Aku jadi berpikir, musik adalah salah
satu jalan bagi terciptanya interaksi antarmanusia. Dan, bukankah dari
hal itu hadir sesuatu yang mengisi hidup manusia?
-Fuad Abdulgani / Former Elemental Gaze- taken from his journal
9:37 AM
Powered by  | | English | | Albanian | | Arabic | | Bulgarian | | Catalan | | Chinese | | Croatian | | Czech | | Danish | | Dutch | | Estonian | | Filipino | | Finnish | | French | | Galician | | German | | Greek | | Hebrew | | Hindi | | Hungarian | | Indonesian | | Italian | | Japanese | | Korean | | Latvian | | Lithuanian | | Maltese | | Norwegian | | Polish | | Portuguese | | Romanian | | Russian | | Serbian | | Slovak | | Slovenian | | Spanish | | Swedish | | Thai | | Turkish | | Ukrainian | | Vietnamese |
|