INDUSTRI KECIL SEKARAT
Industri kecil makanan khas di Banyumas, Jawa Tengah mengalami pukulan paling berat. Kenaikan sejumlah bahan baku seperti terigu, minyak goreng, minyak tanah, dan kedelai membuat usaha kecil terguncang dan banyak yang gulung tikar.
"`Waktu ada kenaikan harga bahan bakar minyak pada 2005 yang mencapai 25% dampak terhadap industri kecil tidak sedahsyat sekarang. Dulu, kami bisa mengikuti harga disesuaikan dengan naiknya BBM," kata Sutanto pemilik industri kecil kue kering di Purwokerto Timur.
Saat ini, menurut Sutanto, pengusaha industri kecil tidak bisa lagi menyesuaikan harga produksinya. Di sisi lain, bahan baku seperti terigu, minyak goreng, minyak tanah dan telur, terus naik.
Para pengusaha umumnya tidak berani menaikkan harga dengan alasan untuk menjaga pelanggan mereka tidak lari. Dengan demikian, mereka bisa bertahan meskipun dalam kondisi usaha yang tidak menentu dan tidak menguntungkan.
Menurut Sutanto, kenaikan harga terigu sudah tidak wajar. Setiap hari, terjadi kenaikan antara Rp 100,00-Rp 200,00 per kg. "Jika harga terigu kemarin masih Rp 150.000,00, sekarang sudah naik menjadi Rp 157.000,00 per 25 kg. Telur yang sebelumnya Rp 8.000 ,00 per kg sekarang sudah Rp 10.000,00 per kg.
Untuk mengimbangi naiknya harga bahan baku, pengusaha terpaksa memperkecil ukuran produknya. Para pengusaha pun mengurangi bahkan menghentikan sejumlah karyawan mereka.
Koordinator Forum Komunitasi Usaha Kecil Makanan dan Minuman Banyumas, R. Yusuf Gunawan Santosa memaparkan, selain dipicu naiknya terigu, pengusaha semakin merana akibat lonjakan harga minyak goreng serta langkanya minyak tanah.
"Jika dalam sebulan ke depan keadaan tidak bertambah baik, sebagian besar anggota forum pengusaha makanan dipastikan gulung tikar," katanya.
Dia bahkan menyatakan, sebagian pengusaha industri kecil di Banyumas sudah berguguran. "Industri kecil milik saya di Kec. Patikraja, juga berhenti beroperasi," ujar Gunawan.
Di Banyumas, terdapat 12 industri kecil mi kering dan basah yang mampu menyerap tenaga kerja tidak kurang dari 30 orang. "Naiknya harga bahan baku yang tidak wajar bukan hanya dirasakan pengusaha, tetapi juga mematikan lapangan kerja warga. Kalau semuanya kolaps, bakal ada sekitar 300-400 buruh yang akan menganggur," kata Gunawan.