MySpace
myspace music

S a r e y a n g tahlilan, poems, hardrock, and more were than are

M. Faizi ~Sareyang~



Last Updated: 12/23/2009

Send Message
Instant Message
Email to a Friend
Subscribe

Status: Married
City: Sumenep
Country: ID
Signup Date: 5/15/2009

My Subscriptions
June 24, 2009 - Wednesday 

Category: Writing and Poetry

Beberapa waktu lalu, saya sempat mendengarkan beberapa lagu yang sedang hits (naik daun) di radio. Mendengarnya ini pun kebetulan; dari sebuah radio di kios makanan ringan.

Saya mendengar, lagu demi lagu, miris rasanya. Betapa lagu-lagu yang katnaa ngetop itu sungguh tidak saja ecek-ecek secara musikal, tetapi juga rendah kasta secara kesastraan. Ayo nikmati lagu bertema selingkuh ini:

Jangan Kau Dustai Aku
Jangan Kau Sakiti Aku
Bila Kau Cinta Padaku
Jangan Kau Bohongi Aku
Jangan Kau Lukai Aku
Bila Kau Sayang Padaku
Reff:
Tanpa Ku Tahu Salahku
Tanpa Ku Tahu Dosaku
Kau Berbuat Semaumu
Jangan Pernah Kau Selingkuh
Jangan Pernah Kau Mendua
Bila Kau Memang Cintaku
(Angkasa - Jangan Pernah Selingkuh)

Aduh, benarkah ini lirik lagu? saya kok tidak habis pikir mendengarnya (ya, sayang sekali kalau pikirnya harus dihabisin). Mana ruang kontemplasi dalam lirik ini? Dug! kontemplasi? Ah, kontemplasi!

Ada pula yang berjudul “Tak Selamanya Selingkuh Itu Indah”. Yakin saya kalau ini merupakan tanggapan si penulis lirik buat Agus Noor yang menulis “Selingkuh itu Indah”. Sebagai sebuah pernyataan sikap, di mata saya, judul lagu ini “benar” dan Agus “salah”. Tetapi, secara estetik, pernyataan jadi terbalik.

betapa ku mengerti sebagai selingkuhanmu
kuharus menjalani ikatan yang tersembunyi
ku mencoba bertahan meskipun menyakitkan
tak menyisakan sebuah sesal di hatiku
(Merpati Band - Tak Selamanya Selingkuh Itu Indah)

Masih dengan tema selingkuh, ada pula yang serupa tapi tak sama, yang mendayu dan bersedih hati:

Pacarku sayangilah aku
Seperti ku menyayangimu
Pacarku cintailah aku
Seperti aku cinta kamu
Bridge:
Tapi kamu kok selingkuh
Tapi kamu kok selingkuh
(Kangen Band - Selingkuh)

Itulah sebagaian kecil lirik lagu band-band Indonesia kita yang dipuja oleh banyak orang di sini. Tidak perlu penelitian serius, ini sudah cukup menjadi sample untuk mengambil gambaran umum: kira-kira, beginiliah selera pasar kita saat ini; beginilah selera musik-sastra masyarakat kita! Asyik, ya?!

Tiba-tiba, saya teringat sebuah band asal surabaya, Grass Rock. Band ini muncul dan awal paruh pertama tahun 80-an, namun baru menjajaki nama belantika musik rock tanah air sejak 90-an. Di tahun 1992/1993 lalu, band yang kerap mengusung karya-karya band art-rock-progresif “Yes” di awal-awal kemunculananya ini pernah ngetop dengan lagu melankoli bertajuk “Bersamamu”. Lagu ini jadi hits di beberapa stasion radioa. Tapi, ya, tentu penjualannya tidak sedahysat band-band sekarang seperti almukarram Kangen Band dan Radja.

Lagu “Bersamamu” adalah lagu rock biasa, dngan tema cinta anak manusia. Hanya saja, lirik yang disajikan bukanlah sekadar cinta yang diobral di pasar cinta Adam dan Hawa. Karena itu, ingat masalah lirik, mari kita coba perhatikan lirik cinta-cintaan milik Grass Rock ini:

BERSAMAMU
Dentang bunyi kedamaian, telah terdengar di kejauhan
hari-hari berlalu, bawa pergi angan dan mimpi
hanya letih kautinggalkan
menanti matahari pagi
ingin kuterbang tinggi lagi
meraih pelangi di angkasa
letakkan jiwaku
Reff:
Rengtangkan sayapmu
janganlah aku kaubiarkan, melayang
hanya bersamamu
semua misteri yang terjadi dapat kita lalui
tanpa sunyi
Hanya lagu ini
yang dapat aku nyanyikan
untuk sepi rinduku
bersama denganmu
segala mendung di langit biru
dapat kita lewati
kau, imanku!

Ini sebuah lirik—yang dalam anggapan saya—sangat liris, tentang ratapan panjang yang mungkin mendayu, lambat, namun menyimpan sebuah ambisi permenungnan yang dalam (mohon tidak terlalu jauh membanding-bandingkan lirik lagu ini dengan lirik yang telah disebutkan di atas, nanti hanya akan menimbulkan fitnah dan iri dengki).

Masih milik Grass rock, ini juga petilan lirik lagunya yang lain pada lagu hitsnya yang lain, “Bulan Sabit”:

lantas apa yang didapat olehnya
setelah semua itu akan berakhir
kebenaran yang hilang tanpa sebab
atau kedamaian yang menjadi tengkorak
Wahai bulan sabit
cucu dewa
bulan sabit, cucu dewa
merah darah, putih jiwa

Demikianlah. Pernyataan-pernyataan saya di atas mungkin berpihak: ini pendapat, bukan fakta. Tetapi, faktanya, adalah: tidak saja dari segi kualitas aransemen lagu, lirik lagu-lagu kita sekarang memang punya masalah. Lirik gak diurus. Lirik tidak dilirik. Lirik harus poppish. Lirik tidak mendididk. Lirik tidak puitis. Lirik tidak, ah, sudahlah.. ambu kah!

Tapi, bagaimana pun, proses kreatif haruslah dihargai, seberapa pun itu nilainya.
Untuk Angkasa, Merpati, dan Kangen: salut untuk kreativitas kalian. Berangkatlah duluan. Saya menyusul. Semoga kalian selamat sampai di tujuan Hati-hati di jalan, ya!!

jika ingin mendengarkan lagu "Bersamamu" dan "Peterson (Anak Rembulan" karya Grass Rock, bisa didownlod dari tautan ini.

(dikutip dari http://kormeddal.blogspot.com)