MySpace

riesna blog riesna blog riesna blog

riesna

riesna Tambunan


Last Updated: 4/12/2009

Send Message
Instant Message
Email to a Friend
Subscribe

Gender: Female
Status: In a Relationship
Age: 38
Sign: Aries

City: Medan.....Medan...Medan
Country: ID
Signup Date: 2/7/2005

My Subscriptions
29 Aug 05 Monday 4:52 AM

Pengantar:

Alhamdulillah, setelah kerja ‘jor-joran’ dan hanya bisa mengambil cuti pas lebaran tiba, ahirnya tahun ini saya dapat ‘izin’ cuti lebih awal oleh atasan di kantor. Tadinya saya pesimis mendapat izin cuti mengingat proyek baru juga tidak sedikit. Tapi untungnya, Boss memberi izin. Mungkin dia juga maklum, otak saya perlu penyegaran. Akhirnya,saya mengambil cuti, dari tanggal 8 Agustus 2005 sampai 15 Agustus 2005. Cuti kali ini saya isi dengan perjalanan ke negeri tetangga, Malaysia dan Singapura. Perjalanan saya lakukan bareng sohib saya, Florence, dimulai dari Medan menuju Penang, Kuala Lumpur, Malaka, Singapura, Batam dan kembali ke Medan.

Inilah catatan perjalan saya selama hampir 9 hari itu.

 

 

CATATAN PERJALAN 1

PENANG, PEARL OF THE ORIENT

 

Bukit Bendera dan Kek Lok Si Temple 

Minggu 07 Agustus 2005, perjalanan dimulai. Berangkat dari Medan menuju Penang dengan pesawat Jatayu No. VJ 188 jam 11.20 WIB. Pemeriksaan di Imigrasi Medan, lumayan ‘ketat, maklum, mereka takut yang berangkat ke Penang adalah calon TKI illegal. Itu makanya –mungkin- yang menyebabkan perusahaan penerbangan yang melayani rute Medan- Penang, jarang mau menjual tiket one way. Umumnya mereka menetapkan penjualan tiket harus return. Harganya juga tidak selisih banyak. Kalau Anda membeli tiket MedanPenang one way, biayanya USD 55, sedang kalau return USD 65. Murahkan?

 

“Warga Negara Indonesia tidak boleh pergi ke Penang dengan tiket sekali jalan,” kata salah seorang petugas penerbangan tempat saya beli tiket.

 

Saya jelas-jelas memang tidak akan pulang ke Medan melalui Penang, makanya saya tidak mau beli tiket return-nya. Saya akan masuk Medan dari Batam, setelah perjalan saya ke Singapura. Sedikit terjadi ketegangan waktu beli tiket, akhirnya diambil jalan tengah, saya harus membeli juga tiket  Batam -Medan saat itu juga. Oke…akhirnya saya beli Tiket Medan- Penang one way, dan tiket Batam- Medan, untuk penerbangan tanggal 15 Agustus 2005.

 

Dan ternyata tiket Batam- Medan ini sangat membantu kami di kantor imigrasi bandara Polonia Medan. Lagi-lagi mereka memang ingin ada ‘garansi’ bahwa kami-saya dan teman- akan kembali ke tanah air. Pasti ini bukan karena mereka cinta pada warga sebangsa dan setnah air, tapi karena mereka takut kami membuat masalah, misalnya jadi TKI Ilegal.

 

“Apa tampangku mirip calon TKW?” tanya saya sewot ketika menanggapi sikap para petugas imigrasi itu.

 

“Tidak,” teman saya , Flo, menggeleng. “Kamu lebih mirip TKW illegal,” dia tersenyum “Bukan calon lagi.”

 

Saya tersenyum kecut. Tapi untungnya semua berjalan lancar. Memang sih kalau mau ‘aman’ mending jalan-jalan ikut perusahaan travel saja. Tapi saya dan Flo memang berniat mengadakan perjalanan sendiri. Kelihatan lebih asyik dan menantang. (uh..uh…tapi kalau ada masalah sedikit aja, jangan mengeluh ya?)

 

Dari Medan menuju Penang ditempuh kira-kira 45 menit saja. Sekitar jam 12.10 Menit WIB (atau jam 13.10 waktu Penang) kami sampai di Bayan Lepas Internastional Airport. Setelah mengurus kedatangan di bagian Imigrasi Pulau Pinang (yang ternyata sangat tidak berbelit-belit), kami langsung memesan taksi (kalau di Penang, jangan cob-coba cari taksi di luar bandara). Dengan RM 38, kami berangkat menuju pusat kota Penang.

 

“Mau kemana?” tanya supir taksi yang ramah.

Saya dan Flo saling pandang. Maklum, tidak ada ‘tempat’ pasti yang akan dituju saat ini. Memang kami mau cari hotel, tapi hotel mana, kami pun tak tahu. Ada memang beberapa nama hotel yang diberikan oleh teman saya yang kerja di Sister City Medan, tapi itu hanya untuk mengisi form imigrasi saja.

 

“Mau cari hotel,” sahut Flo akhirnya.

“Tapi jangan yang mahal-mahal,” sambung saya. Kami memang tak bermaksud melakukan wisata hotel. Meski tak bermaksud ‘ngemper’, kami juga tak berniat membayar biaya hotel yang mahal.

Si supir tersenyum, tanpa mengejek. Dia mengerti rupanya. “Yang murah banyak. Mau yang berapa? RM 25, RM 45, RM 75 atau yang di atas itu? Semua saya tahu.”

 

“Kalau bisa yang dekat-dekat dengan KOMTAR,” pinta kami.

Si supir mengangguk.Taksi melaju, melewati jalan raya yang berkualitas dengan pemandanga yang menyenangkan. Di kiri jalan berdiri gedung dan apartemen , di kanan jalan, nampak laut yang membentang.

 

Memasuki pusat kota, si supir berbelok di Penang Road yang ramai. Ia menunjuk KOMTAR, atau Kompleks Tun Abdul Razak- nama  mantan Perdana Menteri Malaysia, bangunan yang konon menjadi landmark-nya Penang. Di lantai 58, para pengunjung dapat melihat pemandangan seluruh kota. Dulunya KOMTAR ini adalah pusat perbelanjaan di Penang, disektiranya banyak terdapat butik, resto dan bermacam toko.  

 

Hotel pertama yang ditunjuk si supir  adalah Central Hotel, terletak di Penang Road. Jaraknya hanya berapa ratus meter dari KOMTAR.

 

“Coba tanya dulu, apa harga sesuai,” katanya meminta kami untuk bertanya. “Kalau harga cocok, boleh menginap di sini, kalau tidak, saya bisa bawa  ke tempat lain,” sambung supir taksi.

 

Tanpa dikomando, Flo yang hari itu secara sepihak diangkat sebagai pimpinan rombongan kami bergerak turun dari taksi lalu masuk ke hotel. Beberapa saat kemudian dia keluar lagi.

 

“Lumayan sih harganya hanya RM 70,” katanya pada saya. Kalau dihitung dengan kurs Rp. 2.600, maka hotel tersebut relative murah lah…”Tapi bangunannya kok kayak kumuh,” sambung Flo.

Saya dan Flo pandang-pandangan, tapi entah kenapa serentak kami mengangguk setuju. Akhirnya kami menginap di Central hotel.

 

Kami menempati kamar di lantai 6. Ternyata kamarnya lumayan juga. Ada TV, pendingin ruangan, tempat tidur yang rapih dan toilet yang bersih. Setelah beres-beres dan saya sholat Zuhur, kami mulai memburu makan siang, sekaligus memulai perjalan kami di pulau yang konon berjuluk Pearl of the Orient.

 

Makan siang pertama di Penang. Konon Penang adalah salah satu  surga bagi perut. Laksanya sangat terkenal. Dan yang lebih terkenal lagi, nasi kandar.  Konon katanya, jangan ngaku ke Penang (orang sana bilang Pineng), kalau belum merasakan nasi kandar. Nasi kandar, sebenarnya tak jauh beda dengan masakan Padang, hanya karena rempah-rempahnya yang komplit, maka nasi kandar ini lebih mirip nasi dengan cira rasa masakan India.

Dan konon karena ‘rempah-rempah’ ini pula yang membuat saya dan Flo, belum apa-apa sudah ‘menyerah’. Saya punya masalah dengan lambung, Jangan kata makan dengan rempah-rempah yang lengkap begitu, makan dengan bumbu cabe saja sudah memaksa saya harus keluar masuk toilet, sedang Flo, terbiasa makan dengan masakan Batak dan Cina membuatnya kecut melihat rempah.

 

Namun begitu karena sudah lapar, kami pesan juga nasi. Kali ini nasi putih dan sambal udang dan sayur buncis dimasak dengan bumbu kuning. Flo, memesan hidangan yang sama. Minumnya, Flo pesan juice wortel dan saya, idem ditto!

 

Setelah makan, berbekal peta dari hotel yang diberikan gratis, kamu memulai perjalanan. Tadinya dari jadwal yang disusun , kami mestinya hari ini hanya berada di seputaran KOMTAR saja. Tapi melihat waktu yang masih banyak, kami memutuskan untuk mengunjugi Penang Hill (Bukit Penang, atau Bukit Bendera) dan Kek Lok Si Temple.

 

Dari terminal bus di KOMTAR, kami memulai perjalanan ke Bukit Bendera. Setelah melihat rute yang dilalui bus, kami pun naik bus ber AC yang lumayan nyaman dengan ongkos RM.1,5. Tapi bus ini tidak punya kondektur untuk bertanya, akhirnya karena bingung, kami turun di pemberhentian bus dan naik bus yang lain, tanpa AC, tapi ada ‘kenek’nya untuk bertanya. Akhirnya dengan ongkos RM.1, kami sampai juga di Bukit Bendera (di simpangnya saja), untuk menuju kawasan tersebut kita harus jalan kaki sepanjang lebih kurang 1KM. Kecuali kalau Anda menyewa taksi atau datang dengan kendaraan sendiri.

 

Penang Hill (Bukit Bendera) berada di ketinggian 830 meter (2730 ft) di atas permukaan laut. Untuk mencapai tempat ini, kita dapat mendaki atau mengikuti perjalanan wisata dengan kereta api, yang konong telah beroperasi sejak tahun 1923. Dengan biaya perjalanan RM 4, PP, kita bisa mengunjungi Penang Hill. Naik kereta api , kita harus berpindah kereta api lagi untuk sampai ke Bukit Bendera.

 

Hari Minggu, seperti kebiasaan di manapun, pengunjung tempat wisata pasti banyak. Begitu juga dengan Penang Hill, pengunjung pada saat itu membludak. Jadi kami terpaksa antri. Kami beli tiket sekitar jam 3.30, tapi baru dapat giliran naik jam 5.30. Karena masih ada waktu sekitar  2 jam lagi, maka kami memutuskan untuk ke Kek Lok Si Temple., salah satu kuil Budha yang paling tersohor di Asia Tenggara, terletak di atas bukit, konon dibutuhkan waktu 20 tahun untuk membangunnya. Di sepanjang jalan menuju kuil tersebut, kita harus mendaki bukit yang telah dibangun sedemikian rupa, sehingga di sepanjang jalannya penuh dengan para pedagang, penjaja cenderamata.

 

Kami tak melewatkan untuk belanja cenderamata. Nah karena keasyikan belanja ini kami hampir ketinggalan kereta api menuju Bukit Bendera. Walaupun akhirnya kami tidak sampai ketinggalan, tapi napas hampir putus karena berlari-lari menuju bukit.

 

Dari atas Bukit Bendera, kami memandang Penang dari tempat yang paling 'tinggi'. Merasakan kesejukan udara, menikmati kicau burung dan indahnya taman bunga, sambil berjalan menyantap kacang rebus yang panas.

 

Hampir jam 7 kami meninggalkan Bukit Bendera. Dalam kereta yang penuh sesak, oleh para pengunjung, baik lokal maupun mancanegara, saya dan Flo duduk kelelahan. Tapi dari radio di kereta, saya mendengar lagu dalam negeri sendiri Caffein sedang diputar, judulnya : Hidupkukan damaikan hatimu....

 

Wah...hari ini lelah...namun indah...damai.....mungkin besok akan lebih 'hidup' lagi. Kami akan meneruskan petualangan kami menyusuri Penang,  pearl ot the orient!

Bersambung....  



 

Riesna dan Flo berkesempatan bercuti sambil melancung ke Malaysia. Wah tentu menyeronokkan. Saya tak tau lagi bila dapat pergi melancung ke Indonesia, Bukit bendera adalah salah satu tempat melancong di Pulau Pinang, saya hanya sekali saja naik ke Bukit Bendera itupun sudah 7th yang lalu. Kenapa Riesna dan Flo tidak pergi ke Batu Feringgi. di sana pantainya indah dan terdapat ramai Pelancong tinggal disana. Hotel juga senang dapat disana ada yg murah dan yg mahal, mengikut kadar kemampuan kita. Kalau lapar tempat yg paling popular di Pulau Pinang ialah di Padang Kota. Disana terdapat beranika makanan, apa saja mau hanya minta janji ungkosnya ada. Jangan risau makanan disana murah2 belaka. Riesna tau kenapa dipanggil nama nasi "Kandar" tu? Nasi Kandar adalah makanan kegemaran org India (mamak) islam. Dahulu ia dijual sambil digalas dengan kayu di bahu dan di jual di kampung2. "Kandar" tu bermakna nasi yg di pikul dengan kayu di bahu. Itulah asal nama nasi "Kandar". Kalau datang ke Pulau Pinang lagi, Riesna patut cuba pula makan  "Rojak Pasembo" pastinya apa ha?...Best..

Wassalam...


 
Posted by on 15 Feb 06 Wednesday - 2:56 AM
[Reply to this